Mengenang Sabria

0
422
Rudi Chua

Oleh : Rudi Chua
Anggota DPRD Provinsi Kepri

Sabria Nikita Liani yang lahir 9 tahun silam bukanlah anak dari seorang artis atau pejabat atau anak orang kaya. Siswi kelas 3 SDN 3 Bukit Bestari di Tanjungunggat ini hanya anak bungsu dari empat bersaudara yang berasal dari keluarga pas-pasan yang tinggal di kota Tanjungpinang. Pada Jumat, 9 Maret 2018 pukul 11.00 lalu, Sabria yang akan berulang tahun pada Sabtu, 10 Maret tersenggol sepeda motor yang sedang melintas saat Sabria menyeberang jalan dalam perjalanan pulang sekolah. Sekitar menit setelah tiba di rumah, Sabria mulai muntah-muntah dan oleh ibundanya segera dibawa ke RSAL Tanjungpinang. Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui ada retakan di tengkorak bagian belakang kepala belia ini. Kebetulan dokter ahli bedah syaraf di RSAL (dan satu-satunya di kota Tanjungpinang) sedang cuti, sehingga pihak keluarga berkeinginan membawa Sabria untuk dirujuk ke Rumah Sakit yang ada di Batam.

Prosedur rujukan yang disampaikan pihak RSAL adalah harus ada surat dari Jasa Raharja sebagai pengantar korban kecelakaan. Sementara, Jasa Raharja mewajibkan ada surat keterangan dari kepolisian yang menyatakan yang bersangkutan merupakan korban kecelakaan lalu lintas.

Pihak keluarga Sabria kesulitan mendapatkan surat keterangan laka lantas dari kepolisian pada hari itu juga, karena ada prosedural yang harus dilalui. Sementara, untuk BPJS tidak bisa dimanfaatkan, karena pihak BPJS menyebutkan kejadian tersebut dianggap sebagai kejadian laka lantas oleh pihak Rumah sakit sesuai keterangan awal keluarga pada saat mendaftar di RS. Walaupun pada Sabtu sore RS yang awalnya ngotot harus ada surat Jasa Rahaja, juga mengubah sikap dengan memperbolehkan rujukan ke Batam.

Belakangan, pihak Jasa Raharga juga memberikan informasi ke keluarga korban laka lantas bahwa ada kesempatan 3×24 jam untuk melengkapi laporan. Artinya tidak perlu saat itu juga dibuatkan keterangan dari Jasa Rahaja.

Masalahnya, di RSOB yang ada di Sekupang Batam, ternyata ruang ICU-nya penuh. Sementara, di RSUD Batam diinfokan dokter bedah syarafnya sudah habis kontrak.

Upaya mencari RS Swasta Batam juga terbentur terbatasnya dokter dan fasilitas yang ada disana. Semoga saja alasan itu muncul bukan karena pasien memakai fasilitas Jasa Rahaja/BPJS.

Meski telah berupaya habis-habisan, pihak keluarga sampai Sabtu malam tidak berhasil mendapatkan rujukan di Batam. Pada Minggu (11/3) pukul 03.00, kondisi Sabria yang masih dirawat di ruang ICU RSAL tanjungpinang untuk menunggu RS rujukan mendadak memburuk.

Setengah jam kemudian, Sabria dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Sabria sudah tiada. Pihak keluarganya mencoba menerima ini sebagai musibah dan memaafkan pembawa sepeda motor yang juga masih merupakan tetangga mereka. Sabria telah pergi untuk selamanya…. Peristiwa ini merupakan kegagalan kita semua selaku stackholder yang bertanggung jawab terhadap pelayanan kesehatan masyarakat, termasuk di dalamnya pemerintah daerah, DPRD, Rumah Sakit, BPJS, Jasa Rahaja, dll. Semoga kejadian Sabria ini membawa hikmah dan dijadikan pelajaran sehingga kedepan, ada perbaikan sistem kesehatan dan jaminan kesehatan di Kota Tanjungpinang. Sudah cukup banyak jatuh korban selama ini dan perlu ada upaya serius dari semua pihak yang berkompeten agar tidak terjadi lagi Sabria berikutnya. Ini bisa saja terjadi kepada teman, saudara atau bahkan keluarga kita sendiri.. Semoga jangan lagi ada Sabria yang lain.. Selamat Jalan Sabria!***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here