Mengulas Kemenangan SABAR

0
528
Raja Dachroni

Oleh: Raja Dachroni
Direktur Gurindam Research Centre (GRC) dan Pendiri Lingkaran Kajian Politik dan Otonomi Daerah (Lingkapolda)

Berdasarkan rapat pleno KPU Tanjungpinang Rabu (4/7) yang lalu pasangan Syahrul-Rahma (SABAR) ditetapkan menjadi Calon Walikota – Calon Wakil Walikota terpilih pada Pemilukada Tanjungpinang 27 Juni 2018. Bagi penulis, ini sesuatu hal yang menarik untuk diulas karena SABAR bukanlah pasangan yang diunggulkan selama ini, selain itu rival politiknya juga merupakan calon incumbent. Kemenangan ini sekaligus memecahkan mitos bahwa Wakil Walikota atau wakil kepala daerah tidak mungkin bisa mengalahkan kepala daerah jika bersaing dalam Pemilukada. Tanjungpinang ternyata punya cerita yang berbeda dari sekian banyak Pemilukada serentak yang digelar di daerah lainnya.

Dari hasil penghitungan KPU Tanjungpinang perolehan suara pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota nomor urut 1 Syahul-Rahma memperoleh 42.559 suara. Sedangkan pasangan nomor urut dua Lis Darmansyah-Maya memperoleh 40.160 suara. Sehingga pasangan nomor urut satu unggul 2.399 suara. Selisih tipis. Jika dihitung hanya selisih 2,9 persen. Ini kemenangan yang sulit digugat karena butuh selisih 0,5 hingga 2 persen untuk menggugat hasil Pemilukada sesuai dengan aturan yang ada.

Melihat hasil Pemilukada dari empat kecamatan yang ada sesuai data yang dirilis KPU Tanjungpinang. Pertama, Kecamatan Tanjungpinang Barat : Syahrul-Rahma : 9.365 suara dan Lis-Maya : 10.298 suara. Kedua, Kecamatan Tanjungpinang Kota : Syahrul-Rahma : 4.359 suara dan Lis-Maya : 4.395 suara. Ketiga, Kecamatan Bukit Bestari : Syahrul-Rahma : 11.201 suara dan Lis-Maya : 10.747 suara. Keempat, Kecamatan Tanjungpinang Timur : Syahrul-Rahma : 17.634 suara dan Lis-Maya : 14.720 suara.

Secara sederhana, kemenangan SABAR ini adalah keberhasilannya merebut mayoritas suara bimbang atau suara yang belum menentukan pilihan di hari pencoblosan saat dilakukan survey pra Pemilukada dan goyangnya pemilih Lis-Maya dan blunder politik tim Lis-Maya yang dilakukan di menit-menit terakhir. Jika dilihat dari pendekatan prilaku pemilih, kemenangan SABAR ini merupakan kepiawaian tim dan partai pendukungnya untuk membujuk pemilih yang belum menentukan pilihan dan mengambil sedikit suara ragu-ragu di Pasangan Lis – Maya. Survei GRC seperti yang dirilis sebelumnya, Lis-Maya unggul tapi belum aman. Terungkap bahwa 44 persen pemilih yang sudah menentukan pilihannya ke Lis-Maya, Syahrul – Rahma 28 persen dan 28 persen yang belum menentukan pilihan. Dilihat dari hasil survey ini, Syahrul – Rahma berhasil merebut 23,58 persen dan Lis-Maya hanya menggarap atau menambah 4,41 persen suara yang belum menentukan pilihan.

Efek Kejut Rahma
Tidak bisa dipungkiri pula, kemenangan SABAR juga ditentukan dari efek elektoral wakilnya yakni figur Rahma. Hadirnya Rahma memberikan efek elektoral yang sangat positif bagi Syahrul. Duet Syahrul – Rahma telah menggembosi suara PDIP dan kaum perempuan yang selama ini melekat ke pasangan Lis – Maya. Utamanya bisa kita lihat efeknya pada Kecamatan Tanjungpinang Timur. Kita ketahui bersama, Rahma adalah anggota legislatif DPRD Tanjungpinang dari dapil ini, relawan dan basisnya di kecamatan ini bekerja secara maksimal untuk merayu pemilih sehingga bisa unggul cukup signifikan. Selisih suara dengan pasangan Lis-Maya 2914 suara. Selisih suara terbesar dibandingkan dengan kecamatan yang lainnya.

Dengan demikian, Rahma memiliki efek kejut diluar prediksi PDIP. Apalagi setelah PDIP seperti mengunci Rahma untuk maju di Pemilukada dengan ketidaktegasan dan kasus surat pemberhentian yang relatif lama. Bahkan, sempat mengemuka Rahma bakal didiskualifikasi terkait persoalan surat administratif pemberhentian ini. Popularitas dan empati publik pun berhasil disentuh dari peristiwa ini.

Selain itu, Rahma juga memiliki kekuatan logistik yang sangat memadai. Berkaca dari laporan harta kekayaan, kekayaan Rahma penulis duga menjadi pendukung logistik Syahrul yang jumlah hartanya tidak seberapa bahkan paling rendah dibandingkan Lis dan Maya. Rahma memiliki kekayaan senilai Rp 6,57 miliar setelah terverifikasi pada 10 Januari 2018 oleh KPU Tanjungpinang. Efek kejut Rahma ini penulis nilai memberikan efek elektoral yang sangat signifikan bagi kemenangan SABAR.

Blunder Politik PDIP dan Prilaku Pemilih
Di menit-menit terakhir menurut hemat penulis, cukup banyak blunder yang dilakukan oleh PDIP baik di tingkat pusat hingga di daerah. Di Tanjungpinang sendiri, isu diskualifikasi Rahma yang dicitrakan sebagai politisi yang tidak tahu membalas budi malah berbalik ke citra negatif PDIP. Bahwa PDIP adalah penghambat majunya Rahma. Ini adalah isu pertama yang dibahas sangat panjang dalam pembicaraan publik sehingga menimbulkan empati publik yang cukup signifikan dalam sumbangan elektoral. Kedua, isu terkait Wakapolda yang diduga melakukan pertemuan di salah satu kedai kopi yang ada di Tanjungpinang bersama tim Lis-Maya. Terlepas dari benar salahnya, isu ini cukup memberikan efek negatif dan membakar semangat tim relawan SABAR untuk bergerak lebih massif lagi di lapangan dan membuat pemilih antipati dengan pasangan Lis-Maya. Hal seperti juga terjadi di Pemilukada Tanjungpinang 2012, kalau tidak keliru dulu pasangan Maya-Tengku Dahlan juga diterpa isu menyontek saat debat. Ini berlangsung massif dan akhirnya pasangan ini juga ditumbangkan oleh Lis-Syahrul ketika itu.

Lalu, ada juga pertanyaan menarik, apakah kekalahan Lis-Maya ini karena partai pendukung. Mungkin ada benarnya, walau didukung partai yang relatif banyak, tapi partai yang banyak itu tidak optimal dalam melakukan sinergisasi program-program pemenangan. Terkesan, PDIP hanya bekerja sendiri. Padahal mesin partai lebih banyak dibandingkan pasangan SABAR yang hanya diusung dan didukung tiga partai yang memiliki 10 kursi di DPRD Tanjungpinang. Akan tetapi, terkait persoalan ini penulis justru menduga ini akibat sosok atau figur Lis Darmansyah yang memang sosok yang dikenal begitu dekat tapi begitu banyak berjanji dan memberikan ekspekstasi yang berlebihan pada masyarakat ditahun sebelumnya. Janji itu mungkin saja sulit untuk ditepati, sehingga membuat publik memerlukan figur yang baru.

Melihat prilaku pemilih, dalam survei yang dilakukan GRC beberapa bulan silam dengan pertanyaan apa alasan mereka memilih calon, jawaban pertama adalah sudah dikenal baik 66,8 Persen, berpengalaman 12,8 persen, visi -misi atau program yang ditawarkan 4,3 persen, calon independent 3,3 persen, didukung partai pilihan saya 2,8 persen, sosok orang baru menjanjikan perubahan 2,6 persen, dari kalangan generasi muda 2,0 persen, kinerja bagus 0,8 persen, tidak terlibat korupsi 0,8 persen, ganteng 0,8 persen, merakyat 0,5 persen dan lainnya 2,5 persen.

Melihat pendekatan prilaku pemilih diatas atau landasan memilih, memang sangat sederhana sekali masyarakat Tanjungpinang dalam menentukan pilihannya. 66,8 persen pemilih Tanjungpinang memilih calon karena dikenal baik. Nah, citra Syahrul yang sangat kuat diasosiasikan tokoh yang baik inilah membuat kelebihannya dalam merayu pemilih. Kendati demikian,bukan berarti pasangan Lis-Maya tidak baik hanya saja dari sisi citra pasangan SABAR sangat diuntungkan.

Disamping itu, dalam survey yang GRC lakukan terekam sedikit pengaruh politik 212 di Jakarta. Walau presentasinya tidak besar, tapi penulis menduga alumni 212 atau yang terpengaruh dengan gerakan inilah yang terus bekerja maksimal di lapangan yang memang cenderung mendukung pasangan SABAR. Ketika GRC menanyakan apakah anda percaya dengan kasus yang menimpa Ahok, publik Tanjungpinang menjawab Sangat percaya 4 persen, percaya 28 persen, tidak percaya 39,5 persen, tidak peduli 24,8 persen dan sangat tidak percaya 3,3 persen. Lalu saat kami tanyakan apakah isu tersebut mempengaruhi pilihan pada Pemilukada Tanjungpinang, 5,8 persen berpengaruh, berpengaruh 19,3 persen, tidak tahu 0,5 persen, tidak peduli 16,0 persen, tidak pengaruh 54,0 persen dan sangat tidak berpengaruhi 4,5 persen. Dari presentasi itu memang pemilih yang percaya jika dikalkulasikan hanya 32 persen, sementara yang terpengaruh hanya 25,1 persen dilihat dari kuantitas memang kecil tapi merekalah yang melakukan gerakan-gerakan di lapangan utamanya sebulan jelang tahapan pencoblosan.

Ditambah lagi mesin Golkar, Gerindra dan PKS juga cukup efektif bekerja dibandingkan partai politik pendukung Lis-Maya. Jika mau dilihat dari sisi program, terlepas dari bisa terlaksana atau tidak di masa lima tahun kepemimpinan Syahrul-Rahma mendatang memang pemilih lebih mudah mencerna dibandingkan program yang ditawarkan Lis-Maya baik saat turun ke lapangan maupun debat Pemilukada. Demikianlah ulasan singkat tentang kemenangan SABAR, semoga bermanfaat dan semoga semua elemen bisa bersatu kembali membangun Tanjungpinang yang lebih maju, bahagia dan sejahtera warganya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here