Menimbang Thukul: Sajak Melawan Kebisuan

0
253
JERUMAT

PENYAIR, kata Wiji Thukul dalam pengantar buku kumpulan sajak lengkapnya “Aku Ingin Jadi Peluru” (Indonesiatera, Cet. I 2000, Cet. II 2004), harus berjiwa bebas dan aktif. Bebas mencari kebenaran. Aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakininya.

Sampai pada kutipan itu saja, saya sudah harus membuka dan angkat topi bagi kepenyairannya. Thukul mengajarkan sikap tawaduk, rendah hati, dan menjauh dari kesan anarkis yang banyak dilekatkan padanya mengingat dia adalah seorang yang kerap berada di tengah pusaran badai perlawanan gerakan buruh.

Penyair ini di tengah kerepotan dan kepungan kepentingan untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya, tetaplah penyair yang rindu pada kebenaran, sesuatu yang nyata ada tetapi selalu abstrak itu. Kebenaran yang dicari dan ditemukan oleh jiwa yang bebas. Tetapi, di sinilah ironisnya, dan disitu juga ketinggian pencapaian sikap Thukul terbaca: Ia sadar tidak ada kebenaran yang mutlak, kecuali milik Tuhan.

Maka, penyair harus aktif. Aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah ditemukan, dipegang dan diyakininya. Dengan kata lain, si penyair, harus meragukan lagi apa yang pernah diyakininya.

Barangkali, Wiji Thukul mencomot dengan main-main kalimat ‘bebas dan aktif’ itu dari kata-kata populer kebijakan luar negeri Indonesia yang dulu pernah sangat sering diucapkan oleh petinggi negeri ini. Tetapi, menurut saya, dia sungguh-sungguh mengangkatnya menjadi sikap dan landasan kreatif kepenyairannya.

Agar bisa bebas dan aktif, ujarnya, penyair harus terus-menerus belajar – dan kelak bisa kita lihat jejak-jejak Thukul belajar di dalam sajak-sajaknya. Belajar itu mutlak, katanya. Penyair, ujar Thukul yang tak tamat Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) jurusan tari ini, harus memperluas wawasan dan cakrawala pemikiran. Kenapa? Karena hal itu menunjang kebebasan jiwanya dalam berkarya.

Sajaknya: Melawan Kebisuan!

Buku “Aku Ingin Jadi Peluru” bolehlah kita anggap sementara ini sebagai kumpulan terlengkap sajak-sajak Wiji Thukul. Penerbit Indonesiatera menyebutkan buku ini menampilkan hampir semua sajak Thukul, termasuk yang ditulis selama ia sengaja menghilang dan kemudian dihilangkan dan hingga kini tidak diketahui nasibnya. Tanpa mengurangi nilai sajak-sajak pada periode sebelumnya, maka buat saya sajak-sajaknya selama masa bergerak di bawah tanah itu adalah sajak-sajak yang sangat bernilai.

Ada sejumlah sajak dalam buku ini yang tidak dicantumkan tanggal penulisannya. Jika yang jadi rujukan adalah sajak berangka tahun, maka sajak tertua di buku ini ditulis pada saat si penyair berusia 20 tahun. Ia lahir tahun 1963, sajak-sajaknya yang paling sulung bertahun 1983. Ini usia yang sangat muda bagi seorang penyair. Saya yakin Thukul sudah menulis puisi sebelum tahun itu.

Apakah sajak bagi seorang Thukul? Kenapa Thukul menulis sajak? Kita bisa menemukan jawaban itu dalam beberapa sajaknya. Mari kita ambil petikannya:

sajakku
adalah kebisuan
yang sudah kuhancurkan
sehingga aku bisa mengucapkan
dan engkau mendengarkan
sajakku melawan kebisuan
(sajak, 1988)

Thukul menyair karena ia ingin mengucap. Ia ingin orang mendengar deritanya. Ia tak ingin jadi pahlawan. Itu diucapkannya dalam wawancara yang dikutip di halaman-halaman akhir buku ini. Kalau ia bercerita tentang nasib tak enak rakyat kecil, maka katanya, yang ia ceritakan itu adalah nasibnya sendiri. Kalau ia menyebut tukang becak, maka ayahnya memang tukang becak. Itu bukan metafora, bukan imajinasi yang ia reka. Pada dua bait awal sajak berjudul “Sajak” tadi ia menulis: Sajakku adalah kata-kata / yang mula-mula menyumpal di tenggorokan / lalu dilahirkan ketika kuucapkan // sajakku adalah kata-kata / yang mula-mula bergulung-gulung dalam perasaan / lalu lahirlah ketika kuucapkan.

Pilihan menyair bukan pilihan yang mudah buat ia. Ia risau dan bimbang dengan manfaat sajak yang ia tulis. Kerisauan itu jelas sekali terbaca dalam sajaknya “Apa yang Berharga dari Puisi”. Ini sajak ia tulis di tahun 1986. Ia belum menikah. Dan sepertinya ia sudah “menjadi” penyair. Ia sudah sadar di mana posisi kepenyairannya. Ia menutup sajak itu dengan bait akhir yang menarik: ”Apa yang telah kuberikan / Jika penonton baca puisi memberi keplokan?”.

Sebelumnya di sepanjang bait pertama yang panjang itu, ia menulis “Apa yang berharga dari puisi?”.

Larik ini menjadi semacam anafora jika dianggap sebagai awal dari bait. Ia mengulang-ulang pertanyaan itu lantas menjawab dengan jawaban yang meragukan nilai puisinya sendiri. Nilai sajak, dan manfaat menjadi penyair ia benturkan dengan kenyataan pahit bahwa adiknya telat bayar SPP, becak bapaknya rusak, ibunya terjerat utang, harga-harga bahan pokok semakin mahal, dan mereka tak punya rumah.

Saya kira ada satu atau sekian kali, Thukul pasti pernah ingin berhenti menyair. Tapi toh, setelah tahun-tahun itu sajak-sajaknya terus saja lahir. Dua tahun setelah sajak yang gamang itu ia telah yakin pada pilihan menyairnya: sajakku melawan kebisuan!***

OLEH: HASAN ASPAHANI
Penyair, Jurnalis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here