Menjadi Generasi Muda Anti Korupsi

0
833
Nanda Muda Florika

Oleh: Nanda Muda Florika
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH Tanjungpinang

Koruptor selalu saja tak kehabisan cara untuk memakan uang rakyat. Kita pun tak ada habis-habisnya membicarakan tentang korupsi yang sepertinya akan menjadi topik abadi dalam kehidupan negeri ini.

Seperti yang kita ketahui korupsi adalah perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma yang terjadi di masyarakat. Korupsi dianggap sebagai salah satu kejahatan permanen di Indonesia. Mereka suka menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri, dan juga jika mereka merasa tak puas dengan kekuasaan yang mereka memiliki, mereka akan memilih untuk memanjat lebih tinggi dengan berbagai cara hingga menggapai kepuasan dirinya. Ironisnya, para koruptor melakukan hal tersebut tanpa memikirkan di luar sana nasib orang-orang atau rakyat yang kurang mampu, maupun untuk perbaikan tatanan negeri ini.

Baca Juga :  Rehabilitasi, Solusi Tetap Ketergantungan Narkoba

Rakyat jelas muak dengan praktik korupsi. Bukankah KPK anak kandung reformasi, pembaruan yang sama yang membuat para koruptor duduk tegak di kursi kekuasaan. Jika ada yang keliru dari KPK mari kita koreksi, namun jangan tumpas dengan mengerdilkan institusi anti rasuah ini.

Kita selaku generasi muda di negeri ini, pastinya menolak proses politik yang menggunakan demokrasi, untuk sebenarnya melindungi kepentingan oligarki. Salah satu bukti kegagalan proses institusional demokrasi dalam 19 tahun era reformasi adalah, kita tak mampu membendung tumbuh dan menguatnya kekuasaan oligarki yang berumah di partai politik tersebut yang kemudian berselancar di arus demokrasi.

Baca Juga :  Desa Berakit Rawan Malaria

Nyatanya, kita (generasi muda yang juga selaku rakyat) lupa, bahwa setiap penataan institusi politik pasca era otoritarianisme dan segala tindak tanduk proses politik, tak mungkin ada ruang hampa dari kehadiran kekuasaan, kepentingan, dan pertarungan politik di dalamnya. Euphoria demokrasi telah membuat kita luput memperhatikan pergerakan para oligark, yang kini justru mendominasi arena demokrasi disfungsional. Bagai benalu, para oligark menghisap nutrisi yang berfungsi menyuburkan pertumbuhan pohon demokrasi.

Pemberantasan korupsi butuh komitmen politik luar biasa waras, bukan air keras dan kewenangan yang terancam dipangkas. Kita sudah sampai di jalan perang pemberantasan korupsi, tak akan kita biarkan siapapun menarik kita mundur ke era gelap kembali. Rasa hormat sebenar-benarnya adalah pengakuan yang datang setelah pembuktian, bukanlah pemaksaan dari mereka yang berniat membekukan.

Baca Juga :  Kedudukan Anak dalam Alquran

Karena para koruptor tak sungkan berkongsi, maka kita pun harus saling menggenggam jari. Menyatukan semangat dan merapatkan tekad, agar tak gampang lelah menentang perilaku bejat. Tak bisa perlawanan dilakukan orang per orang, atau sekedar bergantung pada KPK yang berjuang. Mari sama-sama teriakkan kita antikorupsi, sembari mantapkan hati untuk tidak pernah ikut-ikutan mencuri hak sesama (rakyat). ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here