Menjaga Generasi Bangsa Berkarakter

0
455
Endri Sanopaka, S.Sos., MPM

Endri Sanopaka, S.Sos., MPM
Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Raja Haji

Dalam sebuah Sidang Komisi Forum Rektor Indonesia pada 2 Pebruari 2017 lalu di Jakarta, tepatnya pada Sidang Komisi Nilai-Nilai dan Karakter Bangsa dengan pimpinan sidang Rektor UIN Malang Prof. Mudija Rahardjo, Terlihat keresahan para pimpinan perguruan tinggi akan nasib generasi bangsa yang akhir-akhir ini mengalami dekadensi moral. 

Seolah sudah tidak punya pegangan dan tokoh panutan lagi. Kemajuan teknologi informasi, merajalelanya narkoba, tontonan televisi yang bebas tanpa sensor, saling hujat para tokoh-tokoh nasional di media cetak dan elektronik.

Selain itu berkembang pula berita-berita hoax yang menyesatkan. Semua turut andil menyebabkan generasi bangsa kehilangan jati diri nilai-nilai karakter bangsa. Karakter (Goree et al. 2007) adalah merupakan kebiasaan terpola untuk melakukan sesuatu yang benar tanpa sadar, atau membuat keputusan terhormat secara konsisten dengan standar moral yang tinggi.

Perguruan tinggi sebagai salah satu bagian untuk membentuk generasi bangsa yang berkarakter juga menghadapi dilema. Sebab, sejak awal sudah menerima input dari level jenjang pendidikan yang lebih rendah dengan situasi yang sama. Akhirnya, perguruan tinggi harus bekerja keras untuk dapat mendesain sebuah nilai-nilai untuk membentuk karakter para mahasiswanya agar kelak setelah menempuh pendidikan tinggi empat sampai dengan lima tahun memiliki karakter dan jati diri yang kuat.

Orientasi pendidikan dan pengajaran yang selama ini dilakukan di perguruan tinggi bahkan juga di pendidikan dasar sampai dengan menengah cenderung lebih pada transfer of knowledge. Proses tersebut akan menghasilkan sebuah ilmu yang sebatas menjadi pengetahuan bagi peserta didik.

Ditambah lagi jika proses memperoleh ilmu tersebut dengan pengorbanan materi yang cukup besar. Maka pengetahuan yang diperoleh akan menjadi pajangan dengan segala eksklusivitas yang disandang oleh penuntutnya.

Sementara, pembentukan karakter hasil akhirnya adalah perilaku. Perilaku dilandasi kepada sikap dari peserta didik melalui proses penanaman nilai-nilai yang dianutnya. Oleh karena itu pembentukan karakter dilakukan dengan transfer of value kepada peserta didik dalam pembentukan sikap dengan pembiasaan atau pengulangan.

Menanamkan nilai-nilai karakter yang baik dalam setiap mata kuliah atau mata pelajaran adalahbagian terpenting dalam proses pembentukan karakter. Materi-materi pembelajaran perlu disusun dengan kegiatan pembelajaran yang menuntut sebuah praktik pembiasaan atau pengulangan atas perilaku yang baik.

Penanaman nilai-nilai yang baik dalam setiap tindakan penyelesaian suatu permasalahan dalam proses pembelajaran akan membentuk perilaku yang baik, karena akan menjadi sebuah kebiasaan hingga terbentuk sebuah perilaku etis.

Tidak cukup hanya membiasakan para peserta didik untuk bersikap dan berperilaku baik, tapi juga diperlukan tokoh-tokoh yang dapat dijadikan role model atau tauladan. Tokoh utama tentunya adalah para pendidik yang secara langsung berhadapan dengan peserta didik setiap harinya.

Sikap dan perilaku para pendidik akan menjadi pedoman bagi peserta didik. Setiap hari peserta didik menjadi terbiasa melihat dan bahkan terbawa serta mengikuti sikap dan perilaku pendidiknya.

Maka dari itu para pendidik juga dituntut untuk dapat selalu menjaga kehormatan dengan bersikap dan berperilaku yang baik karena menjadi role model utama yang akan membentuk karakter generasi bangsa. Selain itu hendaknya para tokoh lokal ataupun tokoh nasional dan juga public figure yang selalu tampil di media elektronik dapat juga kembali mengevaluasi diri apakah sudah memberikan tauladan yang baik bagi generasi bangsa ini.

Hampir setiap hari kita menyaksikan tokoh maupun public figure saling bertengkar. Walaupun pertengkaran disampaikan secara lisan namun dengan cara-cara yang tidak etis bahkan tidak beradab. Tutur kata yang dilontarkan kasar dan tidak sepantasnya didengar ataupun disaksikan di hadapan publik. Kadang kala pertengkaran tersebutadalah merupakan bagian skenario yang sengaja dipertontonkan untuk mempengaruhi persepsi publik.

Bahkan, yang lebih merisaukan adalah sebuah proses persidangan dilembaga peradilan yang melibatkan tokoh dan public figure dalam sebuah perkara. Prosesnya malah dikonsumsi publik dengan mempertontonkan aib secera terbuka.

Semua yang dikonsumsi publik atas praktik tidak etis yang dilakukan oleh tokoh dan public figure tersebut secara berulang-ulang menyebabkan pergeseran nilai, sikap dan perilaku masyarakat. Masyarakat lama-kelamaan melihat bahwa praktik tidak etis itu adalah hal yang biasa dan wajar.

Jelaslah bahwa kontribusi tokoh dan public figure dalam membentuk karakter bangsa adalah merupakan bagian penting menjadi kangenerasi bangsa yang berkarakter, bukan saja menjadi tuntutan tanggungjawab dari lembaga pendidikan semata.

Dan yang terpenting adalah peran keluarga di rumah sebagai basis asal pembiasaan penanaman nilai, sikap dan perilaku. Jika keluarga di rumah, lembaga pendidikan, serta tokoh dan public figure memiliki persepsi dan definisi yang sama dalam membentuk generasi bangsa berkarakter, niscaya generasi bangsa akan terjaga.

Kita masih ingat ketika orang tua tempo dulu yang dianggap ketinggalan zaman dalam mendidik putra dan putrinya. Tidak pernah terlontar ujaran-ujaran kasar yang disampaikan saat orang tua memarahi anaknya karena melakukan kesalahan.

Cukup dengan menggunakan sindiran serta bahasa kiasan dan pantun, kemarahan itu disampaikan. “Hei Bertuah Punya Budak” sebuah kalimat yang terlontar ketika seorang ibu sedang memarahi anaknya karena berbuat suatu kesalahan.

Kalimat itu pada akhirnya menjadi doa bagaimana keinginan seorang ibu agar anaknya menjadi anak yang memiliki tuah. Barangkali berbeda dengan saat ini yang dianggap sebagai era kebebasan, sampai-sampai tutur kata anak kepada orang tuanya pun sudah tidak beradab. Bahkan orang tua masa kini saat memarahi anaknya menggunakan kalimat-kalimat makian. Kita masih teringat pada waktu era orde baru bagaimana mendidik anak-anak di sekolah melalui mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

Mata pelajaran PMP bahkan menjadi salah satu syarat bagi peserta didik untuk naik kelas bahkan kelulusan. Kenaikan kelas dan kelulusannya juga harus sejalan dengan sikap dan perilaku yang baik di sekolah dan di rumah. Kemudian kita juga kembali merindukan penanaman nilai-nilai Pancasila kepada peserta didik saat mulai masuk sekolah menengah yang terkenal dengan nama “Pedoman Penghayatan danPengamalan Pancasila (P4)”.

Pesan khusus yang juga disampaikan oleh para rektor dalam sidang Komisi Forum Rektor dengan pembahasan Penguatan Karakter dan Nilai-Nilai Budaya Bangsa adalah, para pendidik harus ikhlas dalam memberikan ilmu, karena dengan keikhlasan maka ilmu itu akan sampai kehati. Hati adalah pusat energi yang akan menggerakkan sikap dan perilaku manusia termasuk menggerakkan lingkungan.

Dengan demikian segala nilai-nilai yang ditanamkan pada masa lalu oleh para orang tua serta tokoh-tokoh bangsa merupakan upaya menjaga generasi bangsa yangberkarakter.

Tidak semestinya kita malu untuk kembali menjaga generasi bangsa dengan menanamkan nilai-nilai yang dulu pernah menjadi kebanggaan bagi kita sebagai bangsa timuryang beradab. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here