Menjaga Netralitas ASN dalam Nilai-nilai Budaya Melayu

0
156
Tatang Suwandi

Oleh: Tatang Suwandi
ASN pada Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. Kepri

Bangsa Indonesia tidak lama lagi akan menggelar hajatan besar lima tahunan berupa pemilhan umum. Semarak persiapan pesta demokrasi telah menghiasi berbagai media baik persiapan lembaga pemilu (Komisi Pemilihan Umum), persiapan koalisi partai politik, maupun pembentukan tim pemenangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres). Tanggal 23 September 2018 menjadi hari pertama dimulainya kampanye. Kampanye damai yang dicanangkan KPU adalah kampanye dengan rasa aman, tidak saling menghujat dan saling menghina, tetapi dengan menampilkan program visi dan misi untuk mendapatkan keyakinan masyarakat dalam memilih.

Pesta demokrasi tersebut tentu sangat berpengaruh bagi masyarakat dalam menentukan pilihannya tanpa kecuali para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sekarang disebut Aparatur Sipil Negara (ASN). Semua warga atau masyarakat memiliki hak untuk memilih dan dipilih sesuai ketentuan. Termasuk dalam hal ini keberadaan ASN diperbolehkan untuk berpartisipasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Namun, Netralitas ASN selama pemilu menjadi persoalan penting  dan harus dijaga. Ini dimaksudkan agar pelayanan tetap berjalan secara obyektif, tidak berpihak kepada salah satu kalangan/kelompok atau partai politik tertentu yang terlibat pemilu.

Netralitas ASN juga akan mencegah penyalahgunaan kewenangan, misalnya saja pada masa kampanye dalam bentuk atau forum apapun, menggunakan anggaran serta fasilitas milik negara.

Untuk itu pentingnya netralitas ASN dalam Pemilu, agar dapat menjamin pelaksanaan pesta demokrasi di daerah berjalan damai, jujur dan adil.

Netralitas ASN dalam Nilai-Nilai Budaya Melayu
Nilai-Nilai yang terdapat pada budaya melayu Menurut Tenas Effendy (2006) ada beberapa nilai yang terkandung di dalam tunjuk ajar Melayu diantaranya kejujuran, keadilan dan kebenaran, ikhlas dan rela berkorban, rasa tanggung jawab, sifat malu, keberanian dan kasih saying.

Kejujuran. Sifat jujur selalu melekat dalam jiwa orang Melayu. Nilai kejujuran harus selalu dipegang teguh. Orang-orang tua mengatakan “siapa jujur, hidupnya mujur”. Disamping itu dalam penggelan kalimat kejujuran dalam tunjuk Ajar Orang Melayu berbunyi “Apa tanda melayu jati, lurus dan jujur sampai ke hati, Jujurnya tidak berbelah bagi, hidupnya jujur sampailah mati, lidahnya jujur hatinya suci, jujur dimulut, lurus di hati, karena jujurnya maulah mati, Membela kebenaran berani mati”.

Maksud dari pengertian ini, ASN dalam masyarakat melayu harus bisa jujur dalam menyikapi hiruk pikuk pemilu. ASN tidak boleh menyebarluaskan berita bohong (Hoax) dan ujaran kebencian yang mengandung suku, agama, ras dan atntar golongan (SARA). ASN sebagai pelayan masyarakat dalam bekerja agar tidak membeda-bedakan suku, agama, rasa atau golongan. Semua masyarakat dari golongan manapun, partai manapun, pendukung calon manapun harus dilayani secara profesional dan bertanggung jawab.

Keadilan dan Kebenaran. Orang tua-tua Melayu menegaskan bahwa takut karena salah, berani karena benar. Kalimat tersebut mengandung makna bahwa yang benar ya benar, kalau salah ya salah. Bukan sebaliknya.

Dalam prinsip orang Melayu keadilan dan kebenaran adalah tonggak utama dalam menegakkan tuah dan menjaga marwah, mengangkat harkat dan martabat, serta mendirikan daulat untuk mewujudkan kewibawaan. Hukum yang adil wajib ditegakkan demi terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera sebagaimana terdapat dalam sila ke lima dasar negara. Menyikapi tunjuk ajar Melayu ini, ASN diharapkan tidak ikut terlibat dalam kegiatan politik praktis, tidak menyebarluaskan berita bermuatan ujaran kebencian terkait SARA serta tidak melakukan perbuatan di muka umum yang mengarah pada keberpihakan maupun antipati terhadap salah satu pasangan calon,

Ikhlas dan Rela Berkorban. Orang Melayu selalu mengajarkan kesetiakawanan sosial yang membentuk tali persaudaraan. Dengan ikhlas dan rela berkorban segala perbuatan dan pekerjaan terasa mudah dilaksanakan meskipun tanpa imbalan. Segala sesuatu dilakukan hanya mengharap Ridho Allah SWT. Makna yang terkandung bahwa tugas ASN adalah mengabdi pada negara, melayani masyarakat, menyelenggarakan tugas fungsi pemerintahan.

Kerja Keras, Rajin, dan Tekun. Bagian ini mengisyaratkan bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari kerja keras, rajin dan tekun. Kesuksesan yang di dapat pasti dari proses yang dilakukan dalam menaiki tangga kehidupan. Tunjuk Ajar Melayu mengajarkan kepada manusia untuk menjadi pribadi yang tangguh dan tidak gampang menyerah. ASN dalam melaksanakan tugasnya harus disiplin, tekun dan rajin, pantang menyerah, bersikap obyektif dan profesional dengan tidak membeda-bedakan golongan/suku ras dan agama.

Sifat Malu. Rasa malu merupakan sifat yang menjadi pagar penghalang bagi manusia dalam melakukan hal-hal yang berbenturan dengan norma agama, hukum dan sosial. Ketika rasa malu sudah tidak ada, maka muncullah manusia-manusia yang berbuat semaunya dan melakukan kerusakan dimuka bumi seperti tidak ada lagi akal sehat dan hati nuraninya sudah terkalahkan oleh nafsu belaka. Oleh karena itu dalam Tunjuk Ajar Melayu manusia diajarkan untuk selalu mengedapankan rasa malu dan menebarkan nilai-nilai kebaikan. ASN harus memiliki sikap positif menjungjung tinggi aturan dengan menebarkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dalam menjalankan setiap tugasnya.

Keberanian. Prinsip ini merujuk pada jiwa yang selalu berani, sebagai kesatria, taat dan setia dalam memperjuangkan mana hak mana yang batil baik untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan hidup bernegara. Itulah prinsip orang Melayu. Orang tua dulu mengatakan “adat jantan berani, adat perempuan lembut hati”. Lebih lanjut orang tua-tua juga mengatakan “siapa yang berani ia terpuji dan siapa yang takut ia terhanyut, dan adat lelaki berani mati, adat perempuan membela kehormatan”. ASN harus melaksanakan pekerjaan dan tanggung jawabnya sesuai ketentuan dan aturan, bekerja secara profresional dengan tidak memihak terhadap satu pasangan atau partai politik. Disamping itu ASN harus berani untuk menolak kegiatan politik praktis, menolak pemberian janji dari parpol atau tim pemenangan atas promosi jabatan, kedudukan yang tinggi serta pemberian hadiah. Soal jabatan dan proses meritokrasi, para ASN yang profesional tidak perlu takut. Sebab karier bukan tergantung oleh atasan, tetapi sesuai dengan tingkat kompetensi, kualifikasi dan kinerja yang tinggi.

Kasih Sayang. Sebagai mahkluk yang tinggi drajatnya dibandingkan mahkluk lainnya dengan dibekali akal sebagai kelebihan maka manusia selalu dintuntut menyebarkan kasih sayang antar sesama manusia dan hatinya sebagai filter jika ia salah dalam bertindak dan silap dalam berucap. ASN harus memiliki sikap kasih sayang dan tidak terpancing melakukan komentar-komentar di media online maupun postingan pada media sosial seperti ujaran kebencian, caci maki, saling klaim, dan fitnah serta tidak menyebarluaskan berita bohong (Hoax).

Dalam Karya Sastra Gurindam 12 buah pikiran Raja Ali Haji, dalam pasal ketujuh disebutkan;

· Apabila banyak berkata-kata, Di situlah jalan masuk dusta
Arti yang dapat diserap bahwa orang yang banyak bicaranya, akan mudah melakukan kebohongan. ASN yang banyak bicara ikut terlibat pembicaraan politik, akan mudah melakukan kebohongan, ujaran kebencian, umpatan caci maki terhadap ASN yang berbeda pandangan politik.

· Apabila banyak berlebih-lebihan suka, Itulah tanda hampirkan duka
Arti yang dapat diserap bahwa apabila terlalu mengharapkan sesuatu, akan menimbulkan kekecewaan saat sesuatu tersebut tidak didapat. ASN apabila ada janji-janji politik hendaknya agar tidak tergiur dan terpengaruh serta terjebak politik praktis.

· Apabila kita kurang siasat, Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Arti dari makna tersebut bahwa setiap perkerjaan harus memiliki strategi dan persiapannya. ASN harus bekerja secara profesional berdasarkan standar operasional prosedur (SOP), ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan dalam menjalankan tugas pelayanan dan pembangunan.

· Apabila anak tidak dilatih, Jika besar bapanya letih
Arti dari makna tersebut bahwa jika anak tidak dididik dengan benar, ketika besar akan membangkang dan menyusahkan orang tuanya. Tentunya ASN yang tidak mengindahkan aturan dan ketentuan akan dapat merugikan bangsa dan negara.

· Apabila banyak mencela orang, Itulah tanda dirinya kurang
Arti dari makna tersebut bahwa, orang yang sering menghina orang lain, pertanda dia merasa kurang sempurna. ASN tidak boleh menyebarluaskan berita bermuatan ujaran kebencian terkait SARA, caci maki, dan fitnah serta tidak menyebarluaskan berita bohong (Hoax)

· Apabila orang yang banyak tidur, Sia-sia sajalah umur
Arti dari makna tersebut bahwa Jangan menyia-nyiakan umur dengan perbuatan yang tidak bermanfaat. ASN harus dapat bekerja melayani masyarakat dan menyelenggarakan tugas fungsi pemerintahan dan pembangunan.

· Apabila mendengar akan khabar, Menerimanya itu hendaklah sabar
Arti makna tersebut bahwa Apabila mendengar kabar duka atau kurang menyenangkan, hendaklah sabar dan menerima dengan lapang dada. ASN kalau melihat berita yang kurang enak hendaknya dilakukan penelitian kebenarannya jangan terpancing untuk menanggapi berita tersebut.

· Apabila mendengar akan aduan, Membicarakannya itu hendaklah cemburuan
Arti makna tersebut bahwa Jangan mudah terpengaruh dengan omongan orang lain. ASN tidak boleh terpengaruh dengan berita bohong atau hoak dan ikut terlibat dalam pembicaraan yang dapat mengundang ujaran kebencian, caci maki dan fitnah.

· Apabila perkataan yang lemah lembut, Lekaslah segala orang mengikut
Arti makna tersebut bahwa perkataan yang lemah lembut akan mudah diterima dan didengar orang lain. ASN agar dapat menyuarakan kebenaran akan hal-hal baik dalam pencapaian kinerjanya kepada masyarakat. Melayani masyrakat dengan santun, bersikap obyektif dan profesional dengan tidak membeda-bedakan golongan/suku ras dan agama.

· Apabila perkataan yang amat kasar, Lekaslah orang sekalian gusar
Arti makda tersebut bahwa perkataan yang kasar membuat orang yang mendengarnya tidak nyaman dan resah. Apabila ASN terlibat politik praktis dengan ikut melontarkan ujaran kebencian yang berbau SARA, caci maki dan fitnah akan menyebabkan masyarakat menjadi resah dan tidak nyaman.

· Apabila pekerjaan yang amat benar, Tidak boleh orang berbuat onar
Arti makna tersebut bahwa orang yang baik tidak boleh difitnah. ASN agar tidak ikut membuat berita kebohongan (hoax), fitnah atau ikut menyebarkan berita tersebut tanpa dikonfirmasi terlebih dahulu kebenarannya. Untuk itu ASN hendaknya berhati-hati dalam pergaulan di masyarakat agar dapat menjungjung tinggi agama, norma dan nilai adat istiadat budaya melayu.

Prinsip netralitas ASN kini menjadi perhatian khusus dari semua kalangan. Keberpihakan ASN kepada salah satu pasangan calon maupun partai politik menjadi alasan, mengingat disisi lain ASN merupakan bagian dari warga negara Indonesia memiliki hak untuk memilih yang dilindungi dan dijamin oleh konstitusi. Namun, demikian, hak pilih yang dimiliki ASN tidak serta merta dapat diungkapkan secara terbuka, diketahui publik sehingga cenderung tampak seperti “kampanye” mendukung terhadap salah satu pasangan atau partai politik. Aparatur Sipil Negara harus netral sehinga Independensinya dapat dipertanggungjawabkan.

Profesionalitas dan netralitas adalah seperti dua sisi mata uang. Fokus bekerja profesional adalah pada pencapaian kinerja yang sudah dituangkan dalam Kontrak Kinerja. Sedangkan Netral berarti tidak masuk dalam percaturan politik untuk dukung mendukung pasangan calon dalam kampanye ataupun kegiatan pasangan calon. ASN cukup memberikan hak suaranya pada saat pemungutan suara di bilik suara.

Penutup
ASN merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPK) bekerja untuk pemerintahan. Tugas utama ASN adalah mengabdi pada negara, melayani masyarakat, menyelenggarakan tugas fungsi pemerintahan. Dalam tugas pokok fungsi sebagai pelayan masyarakat tentunya ASN harus tidak membeda-bedakan suku, agama, rasa atau golongan. Semua masyarakat dari golongan manapun, partai manapun, pendukung calon manapun harus dilayani secara professional, adil dan bertanggungjawab. Atas dasar itulah dalam Pasal 9 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, dinyatakan bahwa, “Pegawai ASN harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik“.

Dalam menyikapi hiruk pikuk kegiatan Pemilu 2019, ASN harus senantiasa menjadi perekat dan pemersatu bangsa sabagaimana diamanatkan oleh UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN. Seluruh ASN harus menunjukkan kerja profesional yang penuh inovasi, integritas dan semangat pantang menyerah serta berani jujur dan adil.

Akhirnya penulis mengingatkan kembali kepada para ASN bahwa terdapat larangan yang harus diperhatikan dalam pileg dan pilpres antara lain tidak ikut terlibat dalam kegiatan politik praktis, tidak menyebarluaskan berita bermuatan ujaran kebencian terkait Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA), tidak menyebarluaskan berita bohong (HOAX), serta tidak melakukan perbuatan di muka umum yang mengarah pada keberpihakan maupun antipati terhadap salah satu pasangan calon.

Disamping itu, ASN juga agar menghindari untuk melakukan postingan, like, share dan komen atas konten-konten yang berbau politik, ujaran kebencian terkait SARA serta berita-berita hoax.

Diharapkan dengan implementasi nilai-nilai dari budaya melayu para ASN dapat menjaga netralitas dalam rangkaian Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Sehingga pemilihan umum yang damai jujur dan adil dapat tercapai. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here