Menteri Agama Puji Kerukunan di Kepri

0
905
DOA BERSAMA: Menteri Agama Lukman Hakim bersama Gubernur Kepri H Nurdin Basirun serta warga dari berbagai suku dan agama foto bersama usai menggela doa bersama di Batam, Jumat (6/10). f-martua/tanjungpinang pos

BATAM – Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin memuji kerukunan kehidupan bermasyarakat di Kepri. Padahal, Kepri merupakan Indonesia mini yang terdiri dari beragam suku, agama dan ras.

Hal ini disampaikan Menag saat menghadiri acara Doa Bersama untuk Kerukunan Umat Beragama di Batam, Jumat (6/10). Saat itu, ada sekitar 1.500 orang umat Buddha menggelar doa bersama setelah minggu sebelumnya melakukan penanaman sebanyak 9.000 pohon di Batam bekerjasama dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemko Batam.

Pada doa bersama ini, selain Lukman Hakim, ada juga Gubernur Kepri H Nurdin Basirun dan Wali Kota Batam, HM Rudi. Hakim mengapresi doa bersama itu, memiliki arti penting bagi bangsa.

Karena itu, Menag memberikan apresiasi yang tinggi kepada umat Buddha se-Indonesia yang ikut merawat kesatuan Indonesia. Tak hanya merawat, umat Buddha juga ikut memberikan kontribusi yang tinggi dalam membangun Indonesia.

Umat Buddha yang hadir pada hari itu, bergabung dalam Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia (MNSBDI). Selain mengelar doa bersama, juga sekaligus memperingati hari jadi organisasi BDI.

”Saya terkesan dengan sambutan ketua Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia yang mengatakan umat Buddha siap menjadi tiang, mata dan bahtera bagi bangsa ini. Ungkapan ini penuh makna dan penting bagi Indonesia,” kata Lukman saat membuka doa bersama umat Buddha di Batam.

Indonesia, kata Lukman, merupakan negara paling majemuk jika dibandingkan dengan negara lain di dunia ini. Bahkan saking majemuknya, Indonesia jadi satu-satunya negara yang mempunyai lebih dari tujuh ratus etnis dan bahasa serta belasan ribu pulau.

Semuanya itu dapat disatukan dalam satu buah payung bernama Bhineka Tunggal Ika. Peran agama selanjutnya mengikat dan memperkaya khasanah ke-Indonesiaan itu.

Baca Juga :  Enam Pakar Melatih 100 Juri Terbaik

”Selain dipersatukan karena sebangsa, kita disatukan karena kita memiliki kesamaan tujuan yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Di sini kita juga diajarkan bagaimana agar nilai-nilai agama itu mampu memanusiakan manusia,” papar Lukman.

Jadi, sambungnya, esensi agama tidak hanya kepada Tuhan yang Maha Esa, tidak hanya bentuk pengabdian kita, tidak hanya bentuk ketundukan kita kepada Tuhan, namun yang tidak kalah pentingnya bagaimana kita hidup dengan sesama. Karena kita sebagai satu bangsa harus saling mengisi, saling melindungi agar peradaban kita semakin baik.

Berangkat dari dasar itulah, ia percaya persatuan Indonesia dapat disatukan oleh agama. ”Kalau kita menemui ada sebagian saudara-saudara kita menggunakan agama membuat kita berjarak, saling merendahkan dan bahkan meniadakan. Saya pikir kita harus melakukan evaluasi diri, refleksi diri, melihat kembali apa betul ajaran agama seperti itu,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak mengatakan bahwa semangat kesatuan dan persatuan sudah ada di Kepri. Di Kepri, semua agama dan suku hidup berdampingan dengan harmonisnya. ”Semua mempunyai kesempatan yang sama di Kepri. Antaragama saling melindungi, saling menyayangi,” tegas Jumaga.

Atas dasar itu, ia dan Gubernur bersama seluruh elemen masyarakat berjanji untuk terus memupuk semangat persatuan itu. Tanpa itu, Kepri tidak akan maju.

Senada dengan Jumaga, Gubernur Kepri Nurdin Basirun mengatakan bahwa seluruh suku agama dan ras hidup rukun di Kepri. ”Kepri ini miniatur Indonesia. Kita terus saling menjaga agar dapat dijadikan contoh bagi provinsi lain,” ucap Nurdin.

Baca Juga :  Layangan 7 Negara Hiasi Langit Natuna

Gubernur menyampaikan di hadapan Menteri dan seribuan umat Buddha bahwa kerukunan umat beragama di Provinsi Kepri terjaga dengan baik. Hal itu terlihat dari hubungan masyarakat yang baik.

”Pak Menteri, dapat saya laporkan, kami di Kepri menyatukan hati dan rasa untuk menjaga keutuhan Nusantara. Hubungan antarumat beragama di Kepri terjalin dengan baik. Itu terlihat pada hubungan yang harmonis antarmasyarakatnya,” ungkap Nurdin.

Nurdin menambahkan bahwa Kepri merupakan miniatur Indonesia. Seluruh suku se-Nusantara ada di Kepri. Begitu juga dengan agama. Semua pemeluk agama ada di Kepri.

”Saya juga mengimbau pemeluk agama menjalankan ajaran agamanya masing-masing dengan baik dan mengaplikasikannya di tengah masyarakat,” ajaknya.

Menteri Agama RI Lukam Hakim Saifuddin sebelum membuka acara memberikan pesan kepada seluruh umat beragama yang hadir pada acara tersebut bahwa menjaga kerukunan adalah wujud dari cinta tanah air.

Tuhan menciptakan keberagaman untuk saling mengisji dan saling menyempurnakan satu dengan yang lain.

”Kalau ada agama yang membuat kita saling berjarak, saling menyakiti, meniadakan satu dengan yang lain, mengecilkan yang lain, maka kita harus koreksi diri apakah betul ajaran agama sudah kita laksanakan dengan baik,” ujar Lukman.

Menurut Lukman esensi atau substansi setiap agama adalah mempermudah dalam tujuan yang sama. Yaitu bagaimana ajaran agama tersebut bisa memanusiakan manusia.

Bagaimana ajarannya tidak hanya mengajarkan tunduk pada Tuhan tetapi ketundukan tersebut juga untuk dipraktikkan dalam memperbaiki hubungan pada masyarakat.

”Maka itu setiap umat beragama harus bertanggung jawab terhadap tanah airnya. Agar bisa menekan egonya masing-masing. Mengurangi menuntut dan lebih memperbanyak memberi,” tambahnya.

Wahana Negara Raharja (WNR) merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Nichiren Syosyu Budha Dharma Indonesia yang datang dari seluruh daerah se-Indonesia.

Baca Juga :  Cinta Jokowi dan Ganti Presiden Gelar Aksi di Batam

Doa untuk Kerukunan Bangsa adalah wujud dari rasa terima kasih dan dukungan umat MNSBDI bagi terciptanya kerukukan hidup masyarakat Indonesia. Sebanyak 1.700 umat Buddha hadir dalam kesempatan tersebut.

Selain Gubernur Kepri, turut hadir dalam acara tersebut Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak, Dirjem Bimbingan Masyarakat Budha Caliadi, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Kepri Marwin Djamal, Danren 033 Wira Pratama Fachri, Walikota Batam Muhammad Rudi, Sekretaris MUI Batam Muhammad Santoso.

Sebelumnya, Ketua Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia Aiko Senosoenoto mengatakan bahwa umat Buddha siap mengambil peran dalam pembangunan. ”Kami siap menjadi mata, tiang dan bahtera bagi kemajuan bangsa Indonesia,” ucap Aiko.

Maka dari itu, umat Buddha berusaha terus merawat bangsa ini dengan ikut menebar kasih ke seluruh pelosok Indonesia. Agar nantinya, Indonesia damai, penuh dengan kasih dan sejahtera.

Umat Buddha akan Wahana Negara Raharja tahun 2017 di Batam. Acara ini diselenggarakan oleh Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia (MNSBDI) dengan mengusung tema “Saya Indonesia, Saya Bangga”.

”Selain acara peribadatan, acara ini juga diisi dengan kegiatan sosial penanaman pohon untuk menjaga lingkungan sekitar,” kata Ketua Umum MNSBDI Herwindra Aiko Senosoenoto.

Aiko mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu pihaknya juga sudah melakukan penanaman 9.00 pohon, 5.000 pohon ditanam di pinggir laut dan 4.000 pohon di darat. (mbb/mas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here