Menuju Tanjungpinang Sebagai Kota Kreatif

0
1159
Totok Haryanto, SE

Oleh: Totok Haryanto, SE
Warga Tanjungpinang

Kota merupakan wahana bagi para penduduknya untuk beraktifitas, berinovasi dan berkreasi. Kreatifitas merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi kota. Untuk menumbuhkan perilaku kreatif dalam perekonomian kota diperlukan dukungan simultan dari semua elemen baik dari pemerintah, pelaku ekonomi, maupun masyarakat (Carta, 2007). Kota Tanjungpinang merupakan Ibukota Provinsi Kepulauan Riau yang telah direncanakan menjadi Kota kreatif selain diharapkan tetap akan menjadi kota pelajar dan pusat pemerintahan.

Keberhasilan mengembangkan citra kota Tanjungpinang sebagai kota kreatif sangat tergantung pada sumber daya manusia yang ada yaitu komunitas kreatif. Komunitas kreatif di kota Tanjungpinang sampai saat ini masih cenderung terfragmentasi bergerak masing-masing. Agar timbul gerakan kebersamaan dibutuhkan kesadaran dan komitmen bersama untuk saling bersinergi yang tentunya dalam hal ini peran pemerintah daerah sangat dibutuhkan mampu menjadi regulasi dan mediator untuk mengawal terbentuknya sebuah forum lintas sektor kreatif. Seperti misalnya di kota Bandung yang telah terpilih menjadi pilot project kota kreatif se-Asia Pasifik. Mereka telah memiliki “Bandung Creative City Forum”.

Keunikan yang dimiliki kota Tanjungpinang, dibandingkan kabupaten/kota lain yang ada di wilayah Provinsi Kepulauan Riau seharusnya menjadi modal/asset yang strategis untuk dapat dioptimalkan. Misalnya saja dengan keberadaan Pulau Penyengat yang sangat terkenal dengan keberadaan areal makam Pahlawan Nasional Raja Ali Haji Sang penggubah “Gurindam 12” tentunya akan memiliki daya tarik tersendiri untuk dijadikan icon wisata religi. Memang selama ini daerah Pulau Penyengat sudah sering dikunjungi oleh para wisatawan domestik maupun asing. Untuk lebih menggairahan sektor wisata di daerah tersebut, tentu tidak cukup dengan keberadaan infrastruktur yang dapat kita lihat sampai saat ini. Peranan masyarakat setempat sangat dibutuhkan untuk semakin meningkatkan kesadaran menjaga/merawat keberadaan lingkungan dan areal makam yang bersejarah , sehingga daya tarik terhadap para pengunjung akan terjaga dan bahkan diharapkan akan semakin meningkat. Keramah tamahan masyarakat yang selama ini sudah baik terhadap para wisatawan perlu tetap dijaga dan ditingkatkan agar mampu menjadi nilai tambah(value added) terhadap pesona wisata religi. Jika banyak wisatawan domestik maupun manca negara terus berdatangan, maka dengan sendirinya akan menciptakan peluang untuk masyarakat UMKM di daerah tersebut.

Baca Juga :  OB Mitologis dan OB Historis

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memainkan suatu peran vital di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di kota-kota kecil tetapi juga di kota-kota besar lainnya. Diakui secara luas bahwa UMKM sangat penting karena karakteristik-karakteristik utama mereka yang membedakan mereka dari usaha besar, terutama karena UMKM adalah usaha-usaha padat karya, terdapat di semua lokasi terutama di pedesaan, lebih tergantung pada bahan-bahan baku lokal dan penyedia utama barang dan jasa kebutuhan pokok masyarakat berpendapatan rendah atau miskin (Tambunan: 2012).

Tanjungpinang dengan memiliki heterogenitas masyarakat dari berbagai suku/etnis jika dikelola dengan lebih baik akan mampu memiliki keunggulan bersaing dari sektor UMKM. Saat ini masyarakat bisa menikmati keberadaan para wirausaha mikro yaitu PKL (Pedagang Kaki Lima) yang berasal dari berbagai suku/etnis hidup berdampingan dan sangat kondusif mengadu nasib untuk berdagang dan memenuhi kebutuhan masyarakat konsumennya. Selain itu kota ini juga disemarakkan dengan banyaknya bangunan ruko (rumah toko) yang hampir semuanya terisi dengan beraneka ragam usaha kecil.

Baca Juga :  Duka Palu, Dosa Kita

Kesadaran dan rasa tanggung jawab dari para pelaku usaha mikro seperti PKL maupun pelaku usaha kecil seperti para pedagang dan industri yang menempati ruko-ruko perlu untuk terus mematuhi peraturan pemerintah daerah dalam menjaga ketertiban, kebersihan, dan penghijauantempat usaha, sehingga keberadaannya mampu menambah daya tarik untuk menuju Tanjungpinang menjadi kota kreatif.

Dengan adanya persaingan yang semakin ketat sebagai akibat dari adanya pasar tunggal masyarakat Ekonomi ASEAN akan sangat dimungkinkan berdampak pada kelangsungan hidup UMKM. Hal ini disebabkan karena akan banyak produk-produk import yang akan membanjiri pasar dalam negeri ini.

Apabila UMKM tidak dapat mempertahankan keberadaannya dan melakukan pembenahan guna menghadapi perilaku pasar yang semakin terbuka di masa mendatang maka akan sangat mungkin banyak UMKM yang akan gulung tikar. Para pelaku UMKM tidak boleh lagi mengandalkan buruh yang murah dalam pengembangan bisnisnya. Kreatifitas dan inovasi melalui dukungan penelitian dan pengembangan menjadi sangat penting untuk diperhatikan.

Selain itu UMKM harus memanfaatkan peluang untuk meraih potensi pasar dan menjaga eksistensinya. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah keunggulan komparatif (comparative advantage) yaitu dengan menciptakan produk yang khas dan unik serta memberikan pelayanan yang baik.

Modal lain yang tidak kalah strategis untuk mewujudkan Tanjungpinang sebagai kota kreatif adalah keberadaan bonus geografis. Artinya di sini adalah secara letak geografis, Tanjungpinang ini sangat strategis karena berada pada wilayah yang berdekatan dengan negara lain seperti Malaysia dan Singapura. Pemerintah daerah perlu lebih serius dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas tidak hanya dari sisi keterampilan saja, namun pasar kerja saat ini sangat membutuhkan SDM yang memiliki soft skill.Dari sektor pendidikan pendidikan karakter dan budi pekerti akan mampu memberikan kontribusi yang baik akan terwujudnya ketersediaan generasi SDM pada masa mendatang. Selain itu keberadaan home industri seperti usaha batik gonggong perlu kiranya untuk lebih digairahkan kembali mengingat usaha ini membawa nilai-nilai kearifan lokal.

Baca Juga :  Mengoptimalisasikan Dana Desa

Strategi pengembangan usaha untuk industri batik gonggong misalnya saja pemerintah daerah bisa mendatangkan para pengrajin batik dari pulau jawa untuk menjadi trainer/pelatih masyarakat Kepri yang akan belajar membatik. Hal ini juga tentunya tidak akan berhasil jika dilaksanakan dengan cara instan, seperti acara diklat atau seminar yang biasa kita laksanakan. Para trainer tersebut harus menetap dalam kurun waktu yang lama dan disediakan sebuah tempat sebagai “sanggar membatik”. Dengan demikian, penulis yakin masyarakat kepri yang telah memiliki minat dan kemauan untuk belajar membatik, akan benar-benar mampu menguasai seni membatik sehingga pada gilirannya akan dapat mandiri dan menjadi asset kota Tanjungpinang menuju kota kreatif.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here