Menyoal Pemberian Hormon Pada Ayam Potong

0
146
drh. Iwan Berri Prima, MM

Oleh : drh. Iwan Berri Prima, MM
Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Kepri

Dalam kehidupan sehari-hari hingga saat ini kita masih mendengar sebuah anggapan bahwa mengkonsumsi daging ayam potong (ayam broiler) itu berbahaya, bisa menyebabkan Kanker dan lain-lain karena ayam potong disuntik hormon dalam pemeliharaannya. Isu ini terus berkembang dan menjadi viral dibeberapa group media sosial. Bahkan tidak jarang, seorang tenaga kesehatan pun kadang-kadang turut mengamini isu yang tidak benar ini. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang ikut menyebarkan berita ini. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada kolega profesi lain, pemberian hormon pada ayam potong merupakan berita yang tidak benar, dengan bahasa kekinian, berita ini adalah Hoaks.

Faktanya memang, saat ini ayam potong yang dipelihara peternak hanya sekitar rata-rata 30 hari sudah memiliki bobot lebih dari 1 Kg dan dipotong untuk dikonsumsi masyarakat.

Ayam potong atau ayam broiler atau dibeberapa daerah disebut ayam putih, merupakan ayam yang berdasarkan genetika memiliki keunggulan-keunggulan, diantaranya adalah dalam waktu beberapa hari memiliki bobot badan yang cepat besar. Keunggulan ini tentunya bukan karena penambahan hormon (pemacu pertumbuhan/ growth hormone), tetapi hasil seleksi genetika. Dalam perkembangannya, berat bobot ayam pun nyatanya tiap dekade terus mengalami perkembangan dan kemajuan, awalnya tahun 70an untuk mencapai berat 1,1 Kg membutuhkan waktu sekitar 55 hari, era 90an untuk mencapai berat 1,5 kg membutuhkan waktu 35 hari dan saat ini dengan istilah Broiler modern, ayam potong ini memiliki keunggulan modern yang sangat luar biasa, yakni bobot 2 Kg hanya membutuhkan waktu sekitar 30 Hari.

Keunggulan ini tentu saja juga harus didukung oleh faktor lain, yakni ketercukupan pakan dan air minum, suhu udara, kelembaban dan kandang (rekayasa perkandangan), kenyamanan dan aspek lingkungan lainnya. Tanpa ini semua, keunggulan ayam broiler juga tidak akan optimal.

Untuk memudahkan pemahaman, logika yang sederhana adalah begini: jika boleh kita analogikan ayam itu adalah manusia, ada manusia yang memang dari segi genetika memiliki tubuh yang tinggi dan besar (katakanlah tinggi dan besar ini adalah representasi dari genetika manusia unggul). Maka tentu saja tanpa penambahan hormon pun, manusia jenis ini akan tumbuh dengan kondisi yang tinggi dan besar juga.

Apalagi didukung dengan kecukupan pangan yang pas (kandungan protein yang cukup), asupan gizi yang baik dan kondisi lingkungan yang memadai. Manusia ini akan tumbuh dengan baik dan bahkan jika diberikan pendidikan yang baik juga tidak menutup kemungkinan akan tumbuh sebagai manusia unggul yang baik dan cerdas juga. oleh karena itu, tidak heran jika orang tua kita dulu juga sering berpesan kepada kita, bahwa dalam mencari jodoh, jangan lupa perhatikan Bibit, Bobot dan Bebet.

Ungkapan Bibit, Bobot dan Bebet sejatinya adalah sebuah kalibrasi dalam menentukan perjodohan manusia, terutama bagi keturunan jawa. Bibit artinya adalah asal usul garis keturunan. Seorang calon menantu harus memiliki garis keturunan yang baik. Dalam analogi kedokteran, pilihlah yang secara genetika baik. Nah, genetika yang baik ini harapannya kelak akan menghasilkan keturunan yang secara lahir juga baik. Tak perlu penambahan hormon (mengkonsumsi hormon), dari keturunannya toh sudah baik kemungkinan besar akan menghasilkan keturunan yang menjadi baik juga.

Bobot artinya kualitas. Setelah berasal dari keturunan dengan genetika yang baik, carilah yang memiliki kualitas pendidikannya baik, artinya terpelajar. Kualitas agamanya baik, artinya memiliki keteguhan dalam menjalankan perintah agama, juga kualitas lain seperti memiliki sopan santun yang baik, tata krama yang baik dan menjunjung nilai luhur kebudayaan yang baik.

Selanjutnya adalah Bebet, Bebet berasal dari kata Bebedan yang artinya berpakaian. Ungkapan ini secara filosofis lebih kearah pada kharisma seseorang, dengan bahasa gaulnya, punya chemestry tidak dengan diri kita. Khusus untuk perihal Bebet, terus terang ini tidak hubungannya dengan bahasan ayam potong yang saat ini kita telaah. 

Kembali ke urusan ayam, keunggulan genetis dari ayam ras atau ayam potong ini tentunya patut terus dikembangkan. Bukan untuk ditakuti. Bahkan bukan untuk dilarang-larang. Hal ini mengingat, daging ayam potong merupakan produk pangan yang kaya akan protein hewani, yang memiliki manfaat lebih besar bagi kehidupan masyarakat.

Kita ketahui bahwa kecukupan protein diperoleh dari dua sumber, yakni protein hewani dan protein nabati. Daging ayam merupakan Protein hewani yang relatif mudah dijangkau masyarakat yang merupakan kunci zat gizi penting yang bermanfaat untuk pembentukan sel-sel baru dalam tubuh, mempengaruhi kerja enzim, hormon dan kekebalan tubuh manusia.

Justru, jika kita kekurangan mengkonsumsi protein, ini akan berdampak buruk bagi pertumbuhan hidup kita. Lebih jauh, kecerdasan otak seseorang dapat terganggu jika kekurangan konsumsi protein. Oleh sebab itu, justru kampanye makan ayam perlu terus digalakkan. Konsumsi pangan terhadap ayam masyarakat kita masih diangka 12 Kg per kapita per tahun. Angka ini masih sangat jauh dibandingkan dengan negara jiran Malaysia sudah diangka lebih dari 36 kg per kapita per tahun. Bukankah kita mau menyaingi negara jiran itu? salah satu kuncinya adalah tingkatkan asupan gizi, terutama asupan protein. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here