Menyongsong Revolusi Industri 4.0

0
175
Ricky Bakara

Oleh: Ricky Bakara
Warga Tanjungpinang

Revolusi industri ke-4 atau yang sering kita kenal dengan istilah popular sebagai revolusi industry 4.0 datang seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat termasuk robotik dan kecerdasan buatan. Pergeseran industri telah terjadi di berbagai negara dan menjadi keniscayaan termasuk Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi generasi pertama melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Berikutnya pada revolusi industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik, penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang dan lain-lain.

Kemudian revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet. Selanjutnya pada revolusi generasi keempat inilah muncul pola baru yaitu disruptif teknologi . hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahan-perusahaan incumbent. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industry keempat ini telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa., kondisi inilah yang biasa disebut-sebut dengan istilah Revolusi Industri 4.0.

Usut punya usut Sebenarnya Istilah “Industrie 4.0” berasal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik.

Istilah “Industrie 4.0” diangkat kembali di Hannover Fair tahun 2011. Pada Oktober 2012, Working Group on Industry 4.0 memaparkan rekomendasi pelaksanaan Industri 4.0 kepada pemerintah federal Jerman. Anggota kelompok kerja Industri 4.0 diakui sebagai bapak pendiri dan perintis Industri 4.0.

Di Indonesia setidaknya sejak tahun 2011 sebenarnya, Pemerintah sudah memulai revolusi industri 4.0 dan mau tidak mau, siap tidak siap kita akan menghadapi industry berbasis tekhnologi ini. Bahkan pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) pada Januari di Davos, Swiss, Revolusi Industri Keempat menjadi focus utama pembahasan dan perdebatan. Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang membedakan Revolusi Industri 4.0 dengan revolusi industry sebelumnya.

Tiga hal tersebutlah menjadi dasar mengapa transformasi yang terjadi saat ini bukan merupakan perpanjangan atau kelanjutan dari revolusi digital, melainkan menjadi revolusi transformasi baru (tersendiri), dengan alasan: Pertama, inovasi dapat dikembangkan dan menyebar jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Dengan kecepatan ini terjadi terobosan baru pada era sekarang, pada skala eksponensial, bukan pada skala linear;

Kedua, penurunan biaya produksi yang marginal dan munculnya platform yang dapat menyatukan dan mengonsentrasikan beberapa bidang keilmuan yang terbukti meningkatkan output pekerjaan. Transformasi dapat menyebabkan perubahan pada seluruh system produksi, manajemen, dan data kelola sebuah Lembaga;

Dan, ketiga, revolusi secara global ini akan berpengaruh besar dan terbentuk di hampir semua negara di dunia tidak terkecuali Indonesia, dimana cakupan transformasi terjadi disetiap bidang industry dan dapat berdampak secara menyeluruh dibanyak masyarakat di seluruh Negara,.

Seiring dengan itu, para ahli pun berpendapat bahwa Revolusi Industri 4.0 dapat menaikkan rata-rata pendapatan per kapita dunia, memperbaiki kualitas hidup, dan bahkan memperpanjang usia manusia (meningkatnya usia harapan hidup).

Di sisi lain, penetrasi alat-alat elektronik, seperti telepon genggam (handphone) yang harganya semakin murah dan sudah sampai ke berbagai pelosok dunia, baik yang penduduknya mempunyai pendapatan tinggi maupun rendah.

Pada masa ini teknologi begitu menyentuh ranah pribadi, pengatur kesehatan, pola diet, olahraga, mengelola investasi, mengatur keuangan melalui mobile banking, memesan taksi, memanggil Go-Jek, pesan makanan di restoran (go-food), beli tiket pesawat, mengatur pejalanan, main game, menonton film terbaru, dan lain sebagainya. Semua itu kini bias dilakukan dengan hanya melalui satu perangkat teknologi saja, karena datanya sudah disimpan di “langit”.

Dengan realistis yang seperti itu, kita dapat membayangkan bahwa dalam bidang bisnis dan produksi, Revolusi Industri 4.0 akan meningkatkan efisiensi, terutama dalam bidang supply, logostik, dan komunikasi, dimana biaya keduanya akan terus menurun.

Syukurnya, saat ini Pemerintah Indonesia sudah mulai mengarahkan untuk kompetensi peningkatan keahlin tenaga kerja melalui program pendidikan vokasi link and match.

Artinya, Pendidikan dirancang sedemikian rupa untuk meningkatkan relevansi sekolah dn kejuruan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha, dan dunia industri.

Bagi perusahaan yang bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam Pendidikan vokasi, pemerintah sedang menyiapkan insentif berupa superdeductible tax (yang diakui oleh kantor pajak untuk mengurangi penghasilan bruto).

Menghadapi revolusi industri 4.0 tentu bukan hal mudah. Dan berbicara mengenai Indutri 4.0 bukan hanya sekedar jargon siap tidak siap. Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, misalnya saja merubah metode pembelajaran dalam dunia pendidikan yang ada saat ini. Yang paling fundamental adalah mengubah sifat dan pola pikir anak-anak zaman sekarang. Menurut versi kemenristekdikti dalam menghadapi revolusi industry 4.0 ini adalah dengan membangun sistem pembelajaran yang lebih inovatif, rekonstruksi kebijakan kelembagaan, peningkatan kualitas dosen dan terobosan hasil riset. Disamping itu Indonesia masih memerlukan transformasi infrastruktur IT, penegakan kedaulatan data dan undang-undang perlindungan data pribadi.

Maka dari itu di era ini harus ada kolaborasi lintas sektor, yang semuanya mesti terlibat diantaranya yaitu melibatkan pihak pemerintah, akademisi dan pelaku industri. Agar dampak revolusi industry 4.0 ini benar-benar memberikan manfaat untuk semua lapisan masyarakat. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here