Meski Asin, Namun Kurang Yodium

0
926
Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi

Laut Luas, Tapi Kepri Tak Produksi Garam

Salah satu potensi maritim Kepri yang tidak berkembang saat ini adalah garam. Meski Kepri dikelilingi lautan, namun tingkat keasinan air laut Kepri tidak mencukupi untuk memproduksi garam sesuai standar.

TANJUNGPINANG – Air laut Kepri kekurangan yodium. Namun demikian, garam tetap bisa diproduksi tapi harus dicampur yodium. Bila garam diproduksi di Kepri dan tidak ada campuran yodium, maka akan menyebabkan penyakit gondok. Ini salah satu penyebab garam tidak diproduksi di Kepri seperti disampaikan Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi., DEA, Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UMRAH, Tanjungpinang.
Hal kedua yang membuat Kepri tak dijadikan basis pembuatan garam adalah dikarenakan curah hujannya yang tinggi. Sementara untuk memproduksi garam, butuh banyak sinar matahari.

Hanya beberapa daerah di Indonesia yang curah hujannya rendah seperti Madura, Indramayu dan lainnya. ”Tak banyalah di Indonesia yang bisa produksi garam. Makanya saat cuaca tak bagus, Indonesia mengimpor garam,” ujarnya via ponselnya, kemarin.Di Peru, Amerika Latihan, curah hujannya hanya 3 hari setahun. Selebihnya musim panas. Karena itu, kualitas garamnya bagus dan biaya produksinya rendah.

Baca Juga :  Ma'ruf, Dua Hari Bertemu Pendukung di Batam

Ia menjelaskan, apabila di Kepri hendak dijadikan basis produksi garam, maka butuh modal besar dan tidak cocok lagi dikelola secara konvensional atau tradisional. Bila garam diproduksi secara konvensional, butuh lahan yang luas untuk membuat tambak dan area penjemuran air laut agar kering. Sementara Kepri luas daratnya terbatas karena 96 persen lautan.
Garam yang sudah diproduksi harus dicampur lagi dengan yodium. Bila proses pencampuran dilakukan dengan tangan, maka dikhawatirkan tidak merata.

Untuk itu, bila garam hendak diproduksi di Kepri, maka butuh modal dari pemerintah untuk membuat satu pabrik pengolahan garam. Memang, tidak butuh lahan luas, namun harus tersedia daya listrik dan mesin untuk mencampur garam dengan yodium.

Ia mencontohkan, untuk membangun rumah, maka campuran semen dengan pasir masih bisa dilakukan dengan tangan. Namun, untuk membangun jembatan atau gedung besar, tenaga manusia tidak relevan lagi untuk mengaduk semen dengan pasir agar merata. Butuh truk molen untuk mencampur semen dengan pasir agar merata. Demikian juga untuk mencampur garam dengan yodium dalam jumlah besar, butuh pabrik.

Baca Juga :  Potensi Anak Bangsa Harus Disisir

Biaya lain yang harus dikeluarkan adalah menyediakan daya listrik untuk mengeringkan air asin. Jika berharap dengan matahari, maka prosesnya lambat dan terkadang hujan turun tak menentu. ”Kalau garam sedang proses pengeringan dan hujan tiba-tiba turun, maka garamnya larut lagi. Butuh waktu lagi. Sehingga tidak cocok dengan cara konvensional jika mau memproduksi garam di Kepri,” bebernya. ”Harus ada pabriknya yang sudah dilengkapi alat pemanas, alat pencampur, mesin penyedot air hingga Sumber Daya Manusia (SDM)-nya,” tambahnya.

Ia menilai, hal inilah yang membuat tidak ada produksi garam di Kepri. Dari segi pemanfaatan bisnis, pesisir pantai Kepri lebih menguntungkan jika dikelola untuk pariwisata maupun galangan kapal atau shypiard. Pihaknya sendiri pernah melakukan penelitian kadar garam di Kepri. Apabila air asin 1 liter dikeringkan, hanya menghasilkan garam sekitar 2,8 hingga 3,2 gram. Maka untuk menghasilkan garam satu kilogram, harus mengeringkan air laut 3-4 liter. Kemudian, garam yang sudah diproduksi harus dicampur lagi dengan yodium.

Baca Juga :  Kemendag RI Bangun Pasar Induk di Kepri

Sekedar diketahui, garam iodium atau garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya dengan yodium yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kecerdasan. Garam beryodium yang digunakan sebagai garam konsumsi harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) antara lain mengandung yodium sebesar 30-80 ppm (Depkes RI).

Penggunaan garam beryodium sangat penting bagi kesehatan terutama kesehatan keluarga. Yodium bermanfaat untuk memicu pertumbuhan otak, menyehatkan kelenjar tiroid, menyehatkan proses tumbuh kembang janin, mencerdaskan otak. Kekurangan iodium mengakibatkan penyakit gondok, keterbelakangan mental, bayi lahir cacat, anak kurang cerdas, keguguran pada ibu hamil, dan lain-lain.(MARTUNAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here