Meski Kritis, Dam Tembesi Tetap Pilihan ATB

0
261
WARGA menikmati suasana di waduk Tembesi. f-martua/tanjungpinang pos

Menjaga Komitmen Jelang Akhir Konsesi

Sekitar 23 tahun PT Adhya Tirta Batam (ATB) sudah mengelola air bersih di Batam. Pelanggan tumbuh sembilan kali lipat dibandingkan saat perusahaan itu mulai beroperasi. Dan semua dilayani dengan baik. Ini kepuasan tersendiri bagi ATB. Hanya modal air hujan, kebutuhan air bersih masyarakat, UMKM hingga industri di Batam dapat terpenuhi.

Laporan : MARTUA BUTAR-BUTAR, Batam

Bus meluncur beriringan dengan kendaraan lainnya. Posisinya tentu lebih tinggi dari kendaraan lain yang berseliwiran di daerah Tembesi. Sehingga kiri dan kanan terlihat lebih jelas dari kursi empuk itu. Di dalam bus ada rombongan pihak ATB dan sejumlah wartawan.

Saat bus memasuki wilayah daerah waduk atau Dam Tembesi, terlihat secara jelas dari balik kaca bus tentang kondisi waduk yang dibangun dengan dana APBN sekitar Rp224 miliar itu.

Inilah waduk yang sedang ditender pengelolaannya senilai Rp300 miliar. Dilihat dari bus, banyak area waduk yang masih terlihat gundul. Tepat di bibir pantai waduk, terlihat belasan bekas rumah dari kayu.

berdiri di bibir waduk dan ada yang dalam kondisi tenggelam. Ada juga beberapa sampan yang ditambatkan di bibir wilayah dam.

Di tengah dam yang berisi air tawar, terlihat pepohonan yang sudah mati, timbul ke permukaan. Ya, pepohonan yang kini sudah digenangi air. Tidak jauh dari wilayah air laut yang proses desalinasi itu, masih terlihat aktivitas masyarakat.

Masih di wilayah catchment area atau wilayah tangkapan air waduk Tembesi, terlihat bangunan dengan beberapa warga di dekatnya. Lokasi perumahan-perumahan itu berada di daerah catchment area Dam Tembesi.

Tidak jauh dari daerah tangkapan air, bangunan-bangunan perumahan terlihat seperti mengelilingi waduk Tembesi. Bangunan-bangunan itu berhadapan dengan wilayah tangkapan air yang banyak gundul. Sementara sebagian wilayah waduk, terlihat masih dimanfaatkan warga untuk bercocok taman.

Kondisi waduk Tembesi itu realita yang harus diterima pemenang tender pengelola Dam Tembesi ke depan. Tanggung jawab besar. Tugas berat, mulai menertibkan bangunan liar, kebun liar, hingga melakukan penghijauan daerah sekitarnya.

Jika tidak, air laut yang dalam proses desalinasi atau proses menghilangkan kadar garam akan surut lantaran lahan sekitar sudah tandus. Kondisi itu akan mengganggu distribusi dan ketersediaan air bersih ke Kecamatan Sagulung dan Kecamatan Batuaji.

Dua kecamatan ini setidaknya dihuni 200 ribuan lebih penduduk dan sangat banyak usaha kecil menengah termasuk industri besar seperti galangan kapal dan kawasan industri. Butuh distribusi air yang besar secara berkelanjutan ke depan.

”Memang itu masih banyak gundul. Wilayah serapan air di seberang itu (dekat wilayah Tanjungpiayu), agak hijau. Tapi itu bukan pohon. Itu kebun warga,” ujar Manager Distribusi ATB, Wahyu Widyanto yang meninjau daerah waduk Tembesi.

Sebenarnya, penghijauan sudah berjalan beberapa kali di waduk Tembesi. Penghijauan dilakukan beberapa pihak. Termasuk dilakukan ATB bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam. Corporate Secretary ATB Maria Jakobus dan Humas ATB, Wijanarko Iksa, tidak banyak komentar terkait paparan Wahyu.

Sambil mendengar paparan Wahyu, penumpang dalam bus itu juga asik mengarahkan pandangan ke arah Dam Tembesi. Saat memasuki daerah ujung waduk, tepatnya sebelum Jembatan I Barelang, terlihat kondisi lahan daerah tangkapan air juga tidak jauh berbeda.

Hanya saja, di daerah itu sudah terlihat bangunan yang akan dimanfaatkan untuk mendukung pengoperasian Instalasi Pengelolaan Air (IPA) Dam Tembesi. Di lokasi itu, jalan sudah terbangun, membelah laut, dan memisahkan air waduk dan air laut.

Di atas tanah timbunan, jalan aspal sudah terbangun. Di samping jalan, tepatnya area waduk, batuan disusun mengikuti panjangnya jalan, dalam menghindari abrasi. Namun karena jalan merupakan jalan timbunan dan belum berumur panjang, bus belum diizinkan masuk terlalu dalam.

Namun kapan pastinya waduk ini akan dimanfaatkan dalam menyuplai air bersih ke warga, hingga saat ini belum ada kepastian. Tender pengelolaan masih berlangsung di BP Batam, sebelum akhirnya nanti pengelolaan air bersih dimulai.

”Pembangunan WTP juga masih akan dilakukan pemenang tender,” kata Wahyu.

Namun diakui, keberadaan waduk Tembesi, sangat penting mendukung ketersediaan air di Batam. Keberadaan waduk Tembesi akan mendukung aktivitas waduk Mukakuning, Sei Harapan, waduk Duriangkang dan lainnya, menyuplai air untuk pelanggan ATB.

Pada kesempatan itu, Wahyu kembali menghimbau warga, menjaga daerah waduk. Tidak hanya waduk Tembesi, namun waduk lain di Batam. Termasuk waduk Duriangkang, sebagai waduk terbesar di Batam. Waduk ini memiliki kemampuan menghasilkan sekitar 2.200 meter kubik per detik melalui IPA.

”Kemampuan IPA Duriangkang sekitar 2.200 meter kubik per detik. IPA Duriangkang menyuplai air bersih di Batam, hingga sekitar 70 persen dari kebutuhan,” kata Manager Produksi PT ATB, Estiyudo Listyadi yang menerima Wahyu bersama rombongan di WTP Duriangkang.

Komitmen Lewat Tagline Tak Terganti
Sebelum rombongan meninjau lokasi Dam Tembesi, Presiden Direktur PT ATB, Benny Andrianto sudah menjelaskan kondisi Dam Tembesi yang diperlihatkan melalui layar slide, data hingga gambar yang dihasilkan dengan menggunakan drone.

Benny didampingi Direktur Engineering ATB Paul Bennett, Direktur Keuangan Asriel Hay dan Maria.

Gambar yang ditampilkan menunjukkan daerah serapan air yang sebagian tandus. Sebagian lahan diisi dengan tanaman-tanaman kebun warga. Selain itu, jarak antara rumah penduduk dengan Dam Tembesi, terlalu dekat.

Kondisi itu diakui dapat menyebabkan Dam Tembesi rentan dengan limbah rumah tangga. Bahkan dari gambar itu, daerah itu seharusnya menjadi daerah tangkapan air. Antara wilayah serapan air dam Tembesi dan kawasan pemukiman, seperti menyatu.

Kondisi itu membuat Dam Tembesi dikhawatirkan hanya bisa beroperasi hingga tahun 2022 jika dioperasikan mulai tahun 2020. Sementara nilai investasi untuk membangun dam itu tidak sedikit. Sekitar Rp250 miliar.

Air baku di waduk itu diperkirakan bertahan tiga tahun dengan asumsi kebocoran air bisa ditekan di angka 15 persen.

Saat ini, ATB mampu menjaga tingkat kebocoran hanya di angka 15 persen. Bahkan, perusahaan air minum ini, mampu menekan tingkat kebocoran Mei 2016 hanya diangka 11,9 persen. Jauh lebih rendah dari rata-rata tingkat kebocoran air nasional yang masih di angka 33-34 persen

Menjaga distribusi air dan kontrol kebocoran itu, ATB menggunakan teknologi supervisory control and data acquisition (Scada) dan Geographic Information System (GIS). ATB sendiri merupakan perusahaan air minum pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi Scada dan GIS sejak tahun 2011.

”Tidak usah tunggu 2022, kalau kebocoran 20 persen, air tembesi bisa lebih cepat habis,” ujar Benny mengingatkan sambil menampilkan gambar lain dari Dam Tembesi.

Dari gambar yang ditampilkan, terlihat kondisi sebagian lahan yang memerah, karena aktivitas tambang pasir liar. Sementara air di daerah dam terlihat keruh berwarna cokelat kekuningan. Terlihat juga dengan jelas, kebun-kebun warga sekitar.

Melihat gambar secara utuh, ada daerah hijau dan cokelat kekuningan. Namun saat gambar diperbesar diperbesar, daerah hijau hutan sangat minim. Dominan hijau kebun dan kuning kemerahan areal tambang.

”Menyedihkan. Padahal investasi membangun Rp250 miliar. Kondisi ini perlu diketahui agar ada langkah bersama menjaga daerah serapan air,” harap Benny.

Sehingga waduk yang ditargetkan bisa menghasilkan air bersih sekitar 600 liter per detik, bisa memenuhinya. Namun jika kondisi hutan tidak hijau dengan pepohonan yang mampu menyimpan air hujan, maka target itu tidak akan terpenuhi.

Benny sendiri mengaku sudah menyampaikan kondisi Dam Tembesi ke pihak BP Batam. Selanjutnya, dijanjikan BP akan memenjalankan pembenahan sesuai masterplan yang mereka miliki. Walau kondisi Dam Tembesi memprihatinkan, ATB memilih tetap ikut lelang.

Langkah ini diakui Benny diambil, mempertimbangkan kebutuhan masyarakat Batuaji, Tanjunguncang dan sekitarnya. Keberadaan Dam Tembesi sangat penting agar cadangan air di Batam survive hingga tahun 2020 mendatang. Jika tidak ada cadangan, maka akan mengganggu pada kondisi air di Batam.

”Suka tidak suka, ini visability. Ini harus kami ambil untuk memenuhi kebutuhan air bersih ke pelanggan,” ungkapnya.

Diakuinya, di daerah Dapur 12, ada keluhan kebutuhan air bersih. Demikian dengan daerah Tembesi yang banyak proses pembangunan perumahan dan daerah bisnis. Sehingga, ada peningkatan permintaan kebutuhan. Sehingga keberadaan Dam Tembesi sangat dibutuhkan ATB.

Namun Benny sendiri mengakui, pihaknya tidak ingin ngotot untuk mengelola air bersih di Batam. Sukses ATB mengelola air bersih di Batam, memunculkan tawaran dari daerah lain.

ATB saat ini memiliki proyek untuk mengelola air bersih di Umbulan. Selain itu ada juga Lampung. Di Lampung, ATB mendirikan perusahaan AT Lampung.

Demikian, ATB masih memiliki keterpanggilan kuat untuk mengelola air bersih di Batam. Hal itu juga tercermin dari slogan ATB saat ini, ‘Tak Terganti’. Tagline itu sekaligus komitmen memperkuat kualitas pelayanan, sebagai perusahaan profesional.

”Kami ingin diakhiri dulu, baru terder. Walau pun tagline kami, tak terganti. Jadi diakhiri dulu, baru dimulai lagi. Kami profesional. Jangan sampai kemudian konotasi ATB ingin terus di Batam. Tidak sampai segitulah,” beber Benny.

Bahkan, ATB jelang akhir masa konsesi, sudah mengajukan jadwal, untuk proses mengakhirinya. Perusahaan ini memperlihatkan profesionalisme sekaligus optimisme.

Terlebih, dari hasil survei memperlihatkan kinerja ATB yang tergolong baik, dengan 22 penghargaan dalam tiga tahun terakhir. ATB membuktikan, mampu memberikan kualitas pelayanan terbaik di Batam.

”Di Batam, kami memberikan pelayanan terbaik. Di daerah lain juga, kami masih ingin memberikan pelayanan terbaik. Sehingga negara ini tidak diremehkan negara lain,” harapnya.

Kesiapan ATB mengakhiri konsesi dan kesiapan memulai kembali pengelolaan air di Batam, terlihat juga saat beberapa kali melakukan paparan di BP Batam.

ATB memaparkan kondisi ketersediaan, pengelolaan, distribusi hingga aset yang digunakan dalam mendukung pengoperasian perusahaan kepada Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Paparan disampaikan kepada Kepala BP Batam yang kemudian berganti. Mulai dari saat BP dipimpin Mustofa Widjaja, kemudian digantikan Hatanto Reksodipoetro, selanjutnya digantikan Lukita Dinarsyah Tuwo.

Saat BP tahun 2017, dipimpin Hatanto, dibantu Deputi Bidang Pengusahaan Sarana Lainnya BP Batam, Robert M Sianipar, persiapan akhir konsesi sudah dimulai. Saat itu, Robert menyatakan akhir konsesi BP akan didampingi BPP SPAM Kementerian PUPR.

Persiapan dimulai saat itu, karena dari pengalaman BPP SPAM mendampingi pengakhiran konsesi, diperlukan waktu 3 tahun untuk menangani pengakhiran perjanjian konsesi. Namun seiring pergantian kepemimpinan, proses menuju akhir konsesi belum berjalan.

Di bawah kepemimpinan Edy saat ini, rencana akhir konsesi belum dibahas. Edy memilih untuk lebih fokus untuk melakukan lelang pengelolaan dam Tembesi. Bagi ATB, pilihan BP untuk konsen dengan Tembesi, tidak masalah.

Menunggu pembahasan akhir konsesi, ATB memilih konsentrasi ATB pada pemenuhan air bersih untuk Batam. menyediakan air bersih. Perhatian yang konsisten dari ATB menjadi kebutuhan, seiring pertumbuhan pemukiman penduduk.

”Kami tetap konsen atas ketersediaan air di Batam, hingga akhir konsesi. Kami juga senang, bisa mengelola air hanya dengan mengandalkan curah hujan selama 23 tahun, hingga kini,” ujar Benny Andrianto mengakhiri.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here