Mewujudkan Kepri Poros Maritim Indonesia

0
2041
Raja Dachroni

Oleh: Raja Dachroni
Pengurus Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI) Kepri dan Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan Stisipol Raja Haji

Jika Presiden Jokowi memiliki mimpi dalam nawacitanya menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, rasanya tak salah kalau Kepulauan Riau sebagai salah satu propinsi dan memiliki potensi kemaritiman yang sangat kaya memiliki mimpi juga untuk menjadi provinsi atau wilayah penopang utama mimpi Presiden Jokowi yakni menjadikan Kepri sebagai poros maritim Indonesia. Nah, itulah yang kami diskusikan dalam kegiatan Musda II MIPI Kepri dan seminar nasional Sinergi Pembangunan Daerah Menuju Kepulauan Riau Poros Maritim Indonesia yang digelar di Hotel CK, Sabtu (20/7).

Tema ini diangkat mengingat visi –misi Gubernur Kepri Nurdin Basirun juga menyinggung hal yang serupa yakni Provinsi Kepri sebagai Bunda Tanah Melayu yang Sejahtera, Berakhlak Mulia, Ramah Lingkungan dan Unggul di Bidang Maritim. Perlu digarisbawahi unggul di bidang maritim. Artinya, inilah yang menjadi tanggungjawab dan visi gubernur untuk mewujudkan Kepri yang hebat dengan segala potensi kemaritimannya. Prof Siti Zuhro peneliti LIPI yang kebetulan menjadi narasumber dalam kegiatan itu menyampaikan Kepri memang harus menjadi poros maritim atau model bagi pemberdayaan potensi laut di Indonesia. Menurutnya ada tiga alasan mengapa Kepri layak untuk menjadi Poros Maritim Indonesia yakni pertama Kepulauan Riau mendapat anugrah potensi kelautan yang melimpah ruah. Selain itu bukan hanya memiliki potensi perikanan saja, tapi juga tambang gas dan minyak yang relatif besar, disamping itu dalam konteks ekonomi kemaritiman, pertahanan dan ketahanan wilayah, posisi Kepri sangat strategis karena menjadi pitu masuk ke Indonesia.

Kedua, Kepri memiliki Batam sebuah kawasan ekonomi yang sudah berkembang pesat, sudah menyerap triliunan dana pembangunan nasional, memiliki keistimewaan sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas atau FTZ. Batam memiliki infrastruktur ekonomi kemaritiman yang memadai dianggap Sinagpura atau Hongkong-nya Indonesia. Sebuah pelabuhan bebas yang sudah berkembang, memiliki pelabuhan laut yang ukup dan industry kemaritiman terbesar di Indonesia, industry lepas pantai dan memproduksi ratusan buah rig lepas pantai yang kini bertaburan di Laut Cina Selatan.

Baca Juga :  Fenomena Gojek di Tanjungpinang

Ketiga, meskipun kemampuan dana pembangunan Kepri terbatas dan kebijakan kemaritiman yang belum konsisten dan masih parsial, Kepri relatif mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi berbasis maritim. Paling tidak ada tujuh daerah pertumbuhan yang ekonomonya berbasis maritime dan itu ada di kabupaten dan daerah-daerah kepulauan yang dalam masa reformasi dan era otonoi ini tumbuh dan berkembang cukup pesat dengan memanfaatkan potensi kemaritimannya yakni Tanjungpinang sebagai ibukota, Batam pusat ekonomi Bintan, Karimun, Lingga, Anambas dan Natuna.

Masih menurut Prof Siti Zuhro ada beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan untuk mewujudkan Kepri poros maritim Indonesia yakni sosialisasi yang dilakukan secara massif baik oleh semua jenjang pemerintahan, stakeholders terkait nasional dan lokal maupun komunitas, ormas, organisasi professional, kampus, sekolah, LSM dan media baik elektronik maupun cetak. Kedua, peningkatan kualitas SDM khususnya birokrasi. Kita memerlukan kelembagaan dan pemerintah yang taat hukum, tidak partisan dan professional. Ketiga, reformasi iklim investasi melalui perbaikan infrastruktur ekonomi, menciptakan stabilitas makro ekonomi, serta kepastian hukum, kebijakan, dan mengurani ekonomi biaya tinggi.

Keempat, perbaikan infrastruktur berupa saran dan prasarana seperti logistic, listrik, telekomunikasi, revitalisasi transportasi, jalan raya, rel kereta api, pelabuhan dan bandara. Kelima, kegaduhan politik di pemerintahan dan parlemen atau parpol perlu dihentikan. Pada intinya, memang kita harus mengenal potensi apa yang kita miliki dan Kepri sebenarnya harus sadar-sesadarnya bahwa potensi terbesar yang dimiliki adalah potensi kemaritiman. Jadi menurut hemat penulis menyambung apa yang diungkap Prof Siti Zuhro Kepri memiliki peluang besar untuk itu.

Kita harus punya proposal besar untuk mewujudkan mimpi masyarakat Kepri yang sudah dicita-citakan pemimpinnya. Perlu pembahasan lebih jauh terkait hal ini. Tapi paling tidak melalui tulisan ini penulis berharap kita memiliki kesadaran dan frekuensi serta semangat yang sama walau memang tidak mudah dan butuh proses yang cukup panjang. Semoga MIPI Kepri bisa membahasnya lebih jauh lagi dan mengonkritkan konsepnya agar bisa terealisir.

Baca Juga :  Menyoal Manajemen Bencana

Berangkat dari Desa
Mengapa perlu dari Desa, penulis berharap poros maritim di Kepri harus diwujudkan dari desa itulah karenanya, desa-desa di Kepri harus lebih didorong maju terlebih dahulu agar kemudian kita tidak salah kaprah memandang poros maritim dengan proyek-proyek besar lalu mengabaikan masyarakat utamanya Desa. Berdasarkan data Indeks Desa Membangun (IDM) yang disusun tim Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal desa tertinggal di Kepri jumlahnya relatif banyak dan ini diharapkan menjadi perhatian serius Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun.

Dari IDM tersebut Propinsi Kepulauan Riau mendapatkan indeks 0,559 dan dari angka indeks tersebut ada 28 desa dikategorikan sangat tertinggal, 187 desa dikategorikan tertinggal, 54 desa kategori berkembang, 5 desa dikategorikan mandiri dari total 272 desa yang ada. Pemerintah sebelum merencanakan pembangunan di desa atau apapun perlu melihat IDM. Dilihat dari data diatas Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun diminta serius dan bekerja ekstra membangun desa. Indeks Desa Membangun merupakan komposit dari ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi. IDM didasarkan pada 3 (tiga) dimensi tersebut dan dikembangkan lebih lanjut dalam 22 Variabel dan 52 indikator. Klasifikasi desa menurut Permendes No 2 Tahun 2016 tentang IDM ada lima desa mandiri, desa maju, desa berkembang, desa tertinggal dan desa sangat tertinggal. Dilihat dari indeks tersebut Kepri mendapatk angka indeks 0,559 artinya ada cukup banyak desa tertinggal dari data IDM tersebut hanya 5 desa yang dikategorikan desa mandiri.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia No 2 Tahun 2016 tentang Indeks Desa Membangun (IDM) maka sudah seharusnya Pemerintah Pusat bekerjasama dengan pemerintah daerah merancang dan mengeksekusi riset tentang indeks desa membangun karena dengan indeks tersebut pemerintah akan bisa memetakan potensi desa dan membangun desa. Aktifitas riset IDM merupakan hal yang wajib jika pemerintah memang serius membangun desa. Nilai rata-rata nasional Indeks Desa Membangun 0,566 klasifikasi status Desa ditetapkan dengan ambang batas, Desa Sangat Tertinggal < 0,491, Desa Tertinggal > 0,491 dan < 0,599, Desa Berkembang 0,599 dan < 0,707, Desa Maju > 0,707 dan < 0,815 dan Desa Mandiri > 0,815

Baca Juga :  Konsistensi Pengusaha dalam Fasilitas Kedai Kopi

Jika kita perhatikan UU Desa No 6 Tahun 2014 atau UU 23 Tahun 2014 tentang pemerintah daerah maka Pemerintah Propinsi memiliki tugas pembinaan dan pengawasan. Nah kita berharap Gubernur Kepri Nurdin Basirun bisa berkoordinasi dengan bupati dan kepala desa untuk bersama-sama membangun desa agar semua desa di Kepulauan Riau menuju desa mandiri yang berporos pada budaya kemaritiman.

Terlepas dari persoalan di atas, kabupaten dan kota yang ada di Kepri harus memiliki mimpi yang sama. Gubernur Kepri bersama ABK nya harus mampu menyamakan frekuensi ini untuk mewujudkannya. Frekuensi dan arah gerak kabupaten dan kota yang ada tidak boleh lari dari mimpi ini jika kita memang mau unggul harus fokus dan dikerjakan dengan serius.

Penulis yakin dengan semangat dan arah gerak yang sama kita bersama-sama bisa mewujudkan visi pemimpin kita semua yang kami bahas dalam seminar MIPI kemarin. Tak lupa, penulis ucapkan selamat kepada Sekda Kepri Dr. TS Arif Fadilah, M.Si yang sudah terpilih menjadi Ketua MIPI Kepri, semoga mimpi ini bisa terwujud dan Kepri benar-benar bisa unggul di bidang maritime dan menjadi poros maritim Indonesia. Semoga! ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here