Miras Oplosan Semakin Mengancam

0
699
Nahda Mahirah

Oleh: Nahda Mahirah
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH.

Minuman keras atau yang identik dengan minuman beralkohol, merupakan minuman yang mengandung zat etanol, zat psikoaktif yang bila dikonsumsi akan mengakibatkan kehilangan kesadaran. Sedangkan, Minuman keras oplosan adalah minuman keras atau minuman beralkohol yang ditambahkan suatu bahan-bahan lainnya.

Dalam islam hukum meminum minuman keras atau khamar ialah haram, dan bagi orang yang menkonsumsinya adalah termasuk pelaku dosa besar. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa bahwa setetes alkohol saja dalam minuman hukumnya sudah haram. Islam melarang dengan keras segala jenis minuman beralkohol untuk dikonsumsi umat muslim karena mudharat atau keburukan yang didapatkan.  Adapun perkara mengenai minuman keras ini disebutkan dalam Alquran dan hadits yang menjadi dasar diharamkannya minuman keras atau khamar. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw : ”Allah melaknat (mengutuk) khamar, peminumnya, penyajinya, pedagangnya, pembelinya, pemeras bahannya, penahan atau penyimpannya, pembawanya, dan penerimanya.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar).

Efek yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi minuman keras atau alkohol dapat dirasakan segera dalam waktu beberapa menit saja, tetapi efeknya berbeda-beda, tergantung dari jumlah atau kadar alkohol yang dikonsumsi. Dalam jumlah yang kecil, alkohol menimbulkan perasaan rileks, dan pengguna akan lebih mudah mengekspresikan emosi, seperti rasa senang, rasa sedih dan kemarahan. Bila dikonsumsi berlebihan, akan muncul efek antara lain, merasa lebih bebas lagi mengekspresikan diri, tanpa ada perasaan terhambat menjadi lebih emosional (sedih, senang, marah secara berlebihan) muncul akibat ke fungsi fisik – motorik, yaitu bicara cadel, pandangan menjadi kabur, sempoyongan, inkoordinasi motorik dan bisa sampai tidak sadarkan diri. kemampuan mental mengalami hambatan, yaitu gangguan untuk memusatkan perhatian dan daya ingat terganggu. Pengguna biasanya merasa dapat mengendalikan diri dan mengontrol tingkahlakunya. Pada kenyataannya mereka tidak mampu mengendalikan diri seperti yang mereka sangka mereka bisa. Oleh sebab itu banyak ditemukan kecelakaan mobil yang disebabkan karena mengendarai mobil dalam keadaan mabuk.

Baca Juga :  Memaknai Pertumbuhan Ekonomi Kepri 2017 dan Resolusi 2018

Pemabuk atau pengguna alkohol yang berat dapat terancam masalah kesehatan yang serius seperti radang usus, penyakit liver, dan kerusakan otak. Kadang-kadang alkohol digunakan dengan kombinasi obat-obatan berbahaya lainnya ini yang biasa disebut dengan miras oplosan, sehingga efeknya jadi berlipat ganda. Bila ini terjadi, efek keracunan dari penggunaan kombinasi akan lebih buruk lagi dan kemungkinan mengalami over dosis akan lebih besar. Mereka yang sudah ketagihan biasanya mengalami suatu gejala yang disebut sindrom putus alkohol, yaitu rasa takut diberhentikan minum alkohol. Mereka akan sering gemetar dan jantung berdebar-debar, cemas, gelisah, murung, dan banyak berhalusinasi. Di indonesia sendiri meminum minuman keras sudah menjadi gaya hidup yang tidak bisa ditinggalkan.

Pada tahun 2015 Kementerian Perdagangan Republik Indonesia menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 yang mengubah sejumlah pasal di dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20/M-Dag/PER/4/2014. Salah satu perubahan di dalam Peraturan Menteri Perdagangan tersebut mengatur bahwa minuman beralkohol tidak dapat lagi dijual di mini market. Peraturan ini terbentuk dengan semangat untuk melindungi moral dan budaya masyarakat serta meningkatkan efektivitas pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran dan penjualan minuman beralkohol. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 dibentuk dengan tujuan mempersulit masyarakat terutama anak-anak muda dalam menjangkau minuman keras. Namun demikian, peraturan tersebut tidak menjawab realita atas keinginan anak-anak muda untuk mengonsumsi alkohol. Peraturan ini justru menimbulkan permasalahan pengkonsumsian alkohol oplosan atau miras oplosan. Karena dengan sulitnya alkohol untuk dijangkau di mini market, anak-anak muda bahkan masyarakat pada umumnya akan beralih ke alkohol oplosan. Hal ini akan meningkatkan risiko keracunan atau bahkan kematian.

Baca Juga :  Hiruk Pikuk Tahun Politik dan Ancaman Nonmiliter

Seperti yang terungkap lewat penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) pada 2016 lalu. Dijelaskan, yang dimaksudkan dengan membebaskan penjualan alkohol adalah dengan mencabut pelarangan alkohol di minimarket dan convenient store yang ditetapkan pemerintah pada 2015 lalu. Rekomendasi ini diperkuat oleh data monitoring yang dilakukan CIPS dari tahun 2008 sampai 2018. Selama 10 tahun, total korban tewas akibat miras oplosan mencapai 837 orang dengan sekitar 300 orang tewas selama tahun 2008 dan 2013, yang melonjak tajam sepanjang tahun 2014 hingga 2018 dengan jumlah korban mencapai lebih dari 500 orang.

Kasus yang memproduksi minuman beralkohol dari bahan aneh dan berbahaya juga cukup banyak. Mereka menjual minuman racikan bukan dari bahan fermentasi anggur atau termentasi tepung berkarbohidrat, tetapi dicampur bahan medis yang kadarnya keras dan tidak layak konsumsi.apalagi saat ini banyak sekali miras oplosan yang dicampur dengan baygon , putas dan racun-racun yang lain. dengan adanya berita miras oplosan seperti ini para pencandu miras tetap tidak takut dan pada akhirnya mereka mati ditangan miras.

Baca Juga :  Budaya Melayu Menjadi Jati Diri Bangsa

Minuman keras (miras) oplosan terus merenggut nyawa, sejak enam April lalu, pesta miras di berbagai wilayah menelan puluhan korban jiwa. Mereka diketahui mengonsumsi miras berperisa ginseng yang dioplos dengan berbagai bahan lainnya. 58 orang meninggal di Jawa Barat. Dengan rincian, korban meninggal akibat miras ini terdiri dari 41 orang di Cicalengka, 7 orang di Kota Bandung, 7 orang di Sukabumi, 2 orang di Cianjur, dan 1 orang di Ciamis. Dan 33 orang yang meninggal di Jakarta dan sekitarnya. Dengan rincian, 10 orang meninggal di Jakarta Timur, 8 orang meninggal di Jakarta Selatan, 6 orang meninggal di Depok, 7 orang meninggal di Bekasi Kota, dan 2 orang meninggal di Ciputat. Dengan demikian, total korban miras oplosan di Jawa Barat hingga jakarta adalah 91 orang.

Dengan semakin maraknya kasus miras oplosan yang menewaskan sejumlah orang, pemerintah seharusnya dapat menyusun berbagai program yang dapat memecahkan permasalah minuman keras di Indonesia. Program tersebut dapat dilakukan dengan, Memberikan edukasi kepada anak-anak yang berumur di bawah batas minimum mengonsumsi alkohol tentang bahaya mengonsumsi alkohol di umur yang belum diperbolehkan. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here