Money Politics Harus Menjadi Musuh Bersama

0
123
f-istIMEWA Pengurus ICMI Tanjungpinang, guru MAN dan siswa foto bersama usai sosialisasi tentang Demokrasi Indonesia. f-istimewa

ICMI Goes to School

TANJUNGPINANG – Guna menambah pemahaman bersama tentang bahaya money politics, aktivis Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orda Tanjungpinang membuat program ICMI Goes to School. Jumat (9/11), empat orang pengurus ICMI ke MAN Tanjungpinang memberikan sosialisasi bahayanya money politics untuk demokrasi di daerah dan Indonesia ke depan.

Di depan siswa MAN Tanjungpinang, pengurus ICMI seperti, Robby Patria, mantan Ketua KPU Tanjungpinang, Sisca pegawai Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Kepri, Rini Pratiwi, dosen STAI MU Tanjungpinang dan Yudistira memaparkan secara bergantian tentang demokrasi dan pemilu serentak 2019.

”Demokrasi kita akan berjalan baik kalau yang terpilih dari hasil pemilu lima tahun sekali itu adalah figur yang betul-betul kapabel dan memiliki integritas yang baik. Jika figur yang baik secara integritas kalah dibanding dengan figur kurang baik yang menang disebabkan menggunakan politik uang, maka jangan banyak berharap daerah kita akan cepat maju. Karena orang yang terpilih jauh dari harapan publik,” kata Robby Patria di depan siswa MAN, kemarin.

MAN menjadi sekolah pertama yang dikunjungi ICMI Tanjungpinang di program ICMI Goes to School yang akan berlangsung sampai tahun depan itu. Indonesia diprediksi lembaga kenamaan Mc Kensey dari Amerika Serikat akan menjadi negara terkuat ketujuh di dunia ekonominya ketika usia Indonesia 100 tahun kemerdekaan.Artinya kita akan menjadi negara maju di tahun 2045.

”Dan mereka yang menjadi pemimpin Indonesia saat itu adalah siswa siswa SMA saat ini karena usia mereka di umur 40 an tahun. Dan mulai sekarang anda harus mengkampanyekan anti politik sara, anti hoaks, anti fakenews, dan anti politik kebencian. Karena itulah yang merusak demokrasi yang sedang dibangun saat ini,” kata Robby.

Ditambahkan, demokrasi yang dipilih sebagai sarana untuk mencapai Indonesia yang sejahtera adil dan makmur. Namun banyak negara di dunia mengalami masalah serius disebabkan warga negaranya mudah diadu domba dengan politik identitas dan isu sara. ”Sebagai generasi penerus bangsa hal itu harus kita buang jauh-jauh,” ujarnya mengingatkan.

Rini Pratiwi menabahkan, pemilih melenial harus menjadi pemilih yang idealis yang tidak bisa diberikan materi apapun dalam menentukan pilihan pada pemilu nanti.

”Jadilah pemilih cerdas yang memilih berdasarkan track record calon. Bukan karena cantik atau ganteng bahkan karena memberikan materi.Tapi memilih karena didasarkan kepada kapasitas calon. Baru itu namanya pemilih melenial yang menjadi pemilih terbanyak di pemilu 2019 nanti,” ujar Rini.

Rini menambah, money politics menurutnya harus dimusuhi bersama. Karena sangat berbahaya untuk demokrasi yang sedang dibangun. Sementara Siska menyebutkan adik-adik semuanya jangan memilih figur yang memberikan sesuatu untuk dipilih.

Calon-calon seperti itu tak baik. Pilihlah yang betul betul paham bagaimana membangun negara ini, membangun kota ini. Kalau ada yang memberikan duit Rp200 ribu, kemudian minta dipilih, maka yang rugi kita sendiri. Karena suara kita dihargai Rp200 ribu selama lima tahun,” ujar Siska.

Di akhir pertemuan, dua orang siswa bertanya kepada Robby Patria bagaimana jika 17 tahun tapi tak memiliki KTP elektronik apakah bisa memilih pada 17 April nanti? Mendengar pertanyaan yang diajukan Siti Aisyah tersebut, Robby menjawab, dalam Undang Undang Pemilu No7 Tahun 2017, pemilih adalah mereka yang terdaftar dan memiliki KTP elektronik.

Jika siswa yang berusia 17 tahun tapi belum memiliki KTP elektronik, yang bersangkutan tak bisa memilih.

”Maka dari sekarang harus diurus adminitrasi kependudukan.Supaya pada saat usia 17tahun sudah memiliki KTP elektronik dan dapat memilih walaupun belum terdaftar sebagai pemilih.Karena akan diberikan kesempatan di satu jam terakhir,” ujar Robby.

Guru MAN Tanjungpinang Zulika menyambut baik kegiatan yang digagas ICMI dalam rangka penguatan nilai nilai demokrasi di sekolah. (pat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here