Moral dan Etika Pemimpin

0
203
Reinaldy Hutasoit

Oleh: Reinaldy Hutasoit
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip, Stisipol Raja Haji

Kata beretika dan bermoral sangat tidak asing lagi bagi setiap orang yang mendengarnya, dimana sangat ditekankan di dalam diri kita prinsip bermoral dan beretika. Pengertian dari kata moral ialah suatu keyakinan tentang benar salah, baik dan buruk, yang sesuai dengan kesepakatan sosial, yang mendasari tindakan ataupun pemikiran Moral yang berhubungan dengan benar salah, baik buruk, keyakinan, dari diri sendiri dan lingkungan sosial.

Sedangkan pengertian dari kata beretika adalah ilmu yang mempelajari terhadap kebiasaan manusia. Dalam perkembangannya, etika tidak hanya membahas kebiasaan yang semata mata berdasarkan sebuah tata cara (manners), melainkan membahas kebiasaan (adat) yang berdasarkan pada sesuatu yang melekat pada kodrat manusia.

Sehingga dapat dikatakan bahwa yang hendak diketahui dengan penyelidikan oleh etika itu sendiri adalah kebiasaan kebiasaan dalam arti moral atau kesusilaan.Oleh karena itu, etika sering diartikan sebagai studi tentang yang benar atau salah (right and wrong) dalam tingkah laku manusia.

Beberapa literatur mengatakan bahwa etika sendiri adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang pandangan-pandangan dan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan masalah kesusilaan (moral issue). Sehingga dapat pula disebut bahwa etika adalah penyelidikan yang dilakukan dengan bijaksana atau penyelidikan filosofis terhadap kewajiban kewajiban manusia dan segala hal yang baik dan buruk (good and bad).

Bagaimanakah jadi pemimpin yang bermoral dan beretika?? Jabatan sebagai pemimpin menjadi sesuatu yang diinginkan oleh semua orang.

Mengapa dikatakan demikian, karena menjadi pemimpin itu sungguh menjadi sebuah kebanggaan, prestasi hidup dan mendapat pengakuan sosial. Itu sebabnya, banyak orang menghalalkan segala cara agar mendapat posisi sebagai pemimpin, paradigma kepemimpinan merupakan sesuatu yang sangat dinamis. Kepemerintahan yang baik (good governance) butuh landasan yang kuat. Mungkin nilai itu berasal dari revitalisasi nilai-nilai yang telah ada atau dari hasil harmonisasi nilai yang telah ada dengan nilai global yang saat ini melanda dunia termasuk Indonesia.

Yang terpenting adalah memandang etika dan moral sebagai tonggak yang dapat menopang tegaknya Bangsa dan Negara Indonesia, namun apabila moral diabaikan maka timbullah kehancuran seorang pemimpin tersebut.

Untuk itulah kita perlu menyadari bahwa krisis yang melanda Bangsa Indonesia saat ini (krisis keuangan, krisis pangan, krisis minyak, dan krisis lainnya) tidak terlepas dengan kemerosotan moral dan etika kepemimpinan di Negara kita.

Sekarang pertanyaannya adalah apa yang menjadi penyebab moral dan etika itu tidak fungsional?? Jawabannya adalah selama ini pembangunan yang digalakkan lebih banyak ditekankan dan terfokus pada upaya mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang maksimal. Sementara aspek moralitas dan etika yang berdasarkan nilai – nilai keagamaan seolah – olah terabaikan oleh penentu kebijakan untuk dimasukkan dalam proses dan implementasi pembangunan.

Perlu diingat bahwa pembangunan tanpa dilandasi moral dan etika sudah tentu akan berdampak munculnya individu dan kelompok yang tidak sehat secara psikologis dan sosial.Dengan moral dan etika kepemimpinan yang berasal dari “ketaqwaan” akan terbentuk komitmen atau rasa tanggung jawab seorang pemimpin untuk mewujudkan tugas pokok dan fungsinya serta perannannya kedalam perilaku yang mempercepat tercapainya tujuan mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Landasan moral dan etika ketaqwaan dapat melahirkan pemimpin yang dalam melaksanakan tugasnya berpedoman pada PP no 101 Tahun 2000. Pimpinan yang menampilkan ciri–ciri kepemerintahan yang baik yakni profesional, akuntabilitas, transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efisiensi efektifitas, dan menegakkan supremasi hukum yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here