Musim Utara MASIH GANAS

0
859
RORO: Kapal roro membawa penumpang dan barang dari Tanjunguban menuju Telagapunggur Batam. Gelombang laut sedang ganas. f-martunas/tanjungpinang pos

Kapal Tujuan Letung-Anambas Ditunda 

Musim utara yang terjadi beberapa bulan belakangan ini membuat jalur transportasi laut di Kepri terganggu. Hingga kini, musim utara masih ganas. Nelayan kecil juga tak berani melaut karena takut dihempaskan ombak besar.

Tanjungpinang – KINI, transportasi laut Kepri terganggu karena musim angin kencang yang diperkirakan masih terjadi beberapa hari ke depan tersebut. Tak hanya kapal kecil, kapal-kapal besar sekali pun ikut terganggu.

Namun, di tengah cuaca buruk ini, para penyelundup justru menjadikan kesempatan untuk memasukkan barang ilegal dari luar negeri ke Kepri.

Angin utara merupakan musim angin kencang di atas lautan yang membuat gelombang air laut makin tinggi sehingga menimbulkan ombak besar dan menghantam apa saja di jalur yang dilewatinya.

Kondisi ini paling parah di Natuna, Anambas dan Tambelan. Karena itu, setiap musim utara, sebagian masyarakat pesisir tiga daerah ini memperkokoh tiang rumahnya yang berada di garis pantai.

Di Natuna, harga ikan naik hingga 400 persen lantaran pasokan ikan di pasar minim. Banyak nelayan tak berani melaut yang membuat ikan di pasar kehabisan stok. Dilema. Natuna sarang ikan, namun stok bisa kosong dan harganya melambung sampai 400 persen.

Kapal Roro tujuan Telagapunggur Batam-Tanjunguban, salah satu kapal besi yang menjadi alat transportasi manusia, barang dan kendaraan bermotor dihantam gelombang tinggi, Senin (13/2) sore lalu.

Truk yang membawa banyak muatan oleng hingga jatuh dan menimpa mobil pribadi yang disusun di dalam kapal roro tersebut. Akibatnya, mobil dan beberapa motor mengalami kerusakan.

Terkait hal ini, pihak Dinas Perhubungan Pemprov Kepri sudah bertemu dengan manajemen PT ASDP Tanjunguban pengelola kapal roro.

Kabid Angkutan dan Penerbangan Dishub Kepri, Tri Musa mengatakan, truk bermuatan barang itu memang cukup tinggi dan pihak ASDP sudah mengikatnya. Namun, karena gelombang tinggi dan kapal oleng, tali pengingatnya putus.

Ke depan, ia berharap, ASDP membatasi ketinggian truk yang bisa masuk ke kapal. Kemudian, pihak ASDP juga harus memasang tali pengaman. Tentu saja tali yang digunakan harus standar dan bisa menahan beban berat. Jangan sampai kejadian seperti itu terulang kembali.

Soal musim utara, ia mengaku hambatan itu dialami semua pelabuhan di Kepri. Pihak Syahbandara atau kepala pelabuhan punya otoritas untuk melarang kapal berlayar apabila cuaca tak memungkinkan.

Hal yang sama juga berlaku bagi kapal kecil dan kapal besar. ”Syahbandar lah yang mengeluarkan izin bisa berlayar atau tidak. Soal titik rawan dimana saja, pihak BMKG lebih paham. Tapi saya dengar, Natuna dan Anambas gelombangnya memang cukup tinggi,” bebernya.

Untuk Natuna dan Anambas, ia belum dapat laporan apakah kapal besar pengangkut penumpang dan barang ke daerah itu terganggu atau tidak. Sehingga, ia tidak bisa memastikan stok sembako di dua daerah ini masih aman atau tidak.

”Soal sembako mungkin Disperindag yang lebih tepat menjawabnya. Namun, kapal apakah terkendala masuk ke sana belum ada. Kalau ada, nanti kita telusuri seperti apa kendala dan solusinya,” ungkapnya.

Namun, meski ombak besar dan angin kencang, pelayaran Tanjungpinang-Telagapunggur Batam tetap jalan seperti biasa hingga kemarin pagi.

Efendi alias Asai, Manager Operasional Feri Oceanna-Baruna yang melayani jalur Tanjungpinang-Telagapunggur Batam mengatakan, biasanya, musim utara ini terjadi tiga bulan.

”Akhir tahun lalu sudah mulai musim utara. Tidak lama lagi akan berakhir. Inilah akan berakhir. Kita sudah mengalaminya sejak dulu. Tapi kita tidak ada tunda keberangkatan sampai pagi ini. Tak taulah nanti siang atau sore ada penundaan. Syahbandar tidak ada larangan berlayar pagi ini,” ujar Asai kepada Tanjungpinang Pos via ponselnya, kemarin.

Yang membuat feri Batam-Tanjungpinang lebih aman karena jalur pelayaran mereka tidak di laut lepas. Mereka lebih banyak melalui selat diantara pulau-pulau. Sehingga angin kencang atau ombak besar pecah saat menabrak pulau-pulau.

”Jalur kita beda. Lebih aman. Apalagi kita selalu berangkat atas persetujuan Syahbandar. Dan Syahbandar termasuk kita selalu dapat informasi kondisi cuaca dari BMKG. Kalau Syahbandar bilang jangan jalan, kita tak jalan,” bebernya.

Ombak Capai 5 Meter
Angin utara merupakan musim yang paling ditakuti warga Kepri khususnya nelayan dan warga yang tinggal di pesisir termasuk operator transportasi laut. Angin kencang dan ombak tinggi menjadi ancaman besar.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tanjungpinang, Ardhito mengatakan, angin utara merupakan penyebab terjadinya gelombang tinggi di perairan Kepri.

Terlebih di Natuna dan Anambas, ombaknya tinggi dan ganas. Oleh karena itu, para nelayan maupun pengguna jasa transportasi laut harus berhati-hati dan waspada saat melintasi di dua perairan ini.

Karena dua perairan tersebut gelombang tinggi mencapai 5 meter. Hal ini tidak seperti gelombang tinggi biasanya yang hanya mencapai 1,5 meter.

”Lebih baik menunda keberangkatan dari pada terjadi yang tidak kita inginkan bersama,” kata Ardhito kepada Tanjungpinang Pos, Selasa (14/2) kemarin.

Untuk mencegah tidak terjadi kecelakaan di laut, dia sarankan, para nelayan maupun pengguna transportasi laut lainnya, mendengar, mematuhi hingga mengikuti imbauan yang diberikan oleh dinas terkait.

Seperti salah satunya Syahbandar. Karena imbauan yang diberikan untuk menjaga keselamatan saat berlayar di laut.

Sedangkan di perairan Bintan dan Lingga, gelombang tinggi hanya mencapai 3 meter. Perairan laut Tanjungpinang dan Batam, gelombang tinggi hanya mencapai 0,2-1,5 meter.

Prediksi gelombang tinggi yang di sampaikan dari Stasiun BMKG Tanjungpinang berlaku untuk tiga hari ke depan. Prediksi ini juga berlaku tiupan angin yang mencapai kecepatan 40 kilometer per jam.

Tiupan angin ini terbilang cukup kencang. Karena normalnya tiupan angin hanya mencapai 20-30 kilometer per jam.

”Semua ini akan berlangsung turun. Tapi, bertahap,” sebut dia.
Akibat musim utara ini, penumpang meminta pihak Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Tanjungbalai Karimun agar memeriksa secara keseluruhan body speedboat Kurnia Jaya yang melayani pelayaran antarpulau dari Karimun-Moro-Galang-Tanjungpinang.

Dari pantauan di lapangan, angin kencang dan gelombang tinggi tak hanya terjadi dalam perjalanan.

Bahkan saat KMP Barau akan merapat di Pelabuhan roro ASDP Tanjunguban sekitar pukul 16.30 WIB kemarin, kapal mengalami keterlambatan saat bersandar karena angin dan arus laut kencang.

Kapal butuh 25 menit manuver agar dapat merapat di pelabuhan. Kondisi jumlah penumpang pun sepi.

Di Tanjungpinang, pompong yang melayani penumpang dari Tanjungpinang ke Penyengat dan dari Pelantar I ke Kampung Bugis tetap jalan seperti biasa. Mereka hanya berhenti berlayar saat cuaca buruk. Rata-rata tekong mengeluh kekurangan life jacket.

Prioritas Kapal di Laut Lepas
Mewaspadai gelombang besar, Kepala Pos Pelabuhan SBP, KSOP Tanjungpinang, Sutoyo membatasi jadwal keberangkatan. Hal tersebut disampaikannya ketika dikonfirmasi Tanjungpinang Pos, Selasa (14/2).

Dia mengaku bahwa kapal yang menjadi prioritas utama adalah kapal dengan tujuan laut lepas karena dimungkinkan menghadapi gelombang tinggi.

”Kapal dengan tujuan Letung dan Anambas sudah kita tunda keberangkatannya sejak Jumat lalu. Karena prioritas utama kita adalah kapal dengan tujuan laut lepas. Namun bukan berarti jalur yang lain tidak kita perhatikan ya,” ujarnya.

Keberangkatan antarpulau masih dibenarkan untuk berlayar karena dengan estimasi feri domestik tersebut akan singgah dari pulau ke pulau untuk arus penumpang.

”Sejauh ini pelayaran Batam, Karimun gelombangnya di atas rata-rata. Tapi yang masuk kategori waspada untuk tujuan Dabosingkep,” jelasnya kepada awak media.

Sutoyo tidak berani memberikan gambaran berapa lama kapal tujuan laut lepas akan ditunda. Sebab menurut dia, keselamatan penumpang jauh lebih penting, termasuk pelayaran lintas pendek seperti Penyengat, Senggarang dan Kampung Bugis.

”Untuk penambang kecil, sudah kita siapkan alat komunikasi untuk memberikan arahan serta izin berlayar, termasuk edukasi penggunaan jaket penyelamat,” ungkapnya yang berharap kejadian musibah pompong Penyengat adalah pelajaran berharga tentang pentingnya arti waspada dan siaga. (mas/aan/mbb/yon/dri/cr27/cr33)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here