Napoleonic Legend

0
272

Hikayat Napoleon Bonaparte Tercetak pada Ofis Cap Kerajaan Lingga

LEGENDA Napoleon Bonaparte atau Napoleonic Legend yang tumbuh subur di Eropa dan Inggris sejak dekade kedua abad ke-19, ternyata juga menjalar jauh hingga ke Kepulauan Riau-Lingga, pada dekade terakhir abad ke-19.

Kebesaran Napoleon Bonaparte (1769-1821) sebagai empera atau kaisar legendaris Prancis yang paling berkuasa di daratan Eropa setelah menaklukkan Inggris, Rusia, Austria, dan Prusia sebelum tahun 1804 itu, turut ‘mencuri perhatian’ istana Lingga-Riau, yang ditandai dengan dicetaknya dua buku khas Napoleonic Legend di ibu kota Daik, di Lingga.
***

Dua buku ‘Napoleonic Legend’ ini dicetak oleh Ofis Cap Kerajaan Lingga secara tipography menggunakan huruf Arab Melayu (huruf Jawi) secara berturut-turut pada anno 1305 hijriah (1887 miladiah) dan anno 1306 hijriah (1889 miladiah).

Buku pertama tebalnya 122 halaman, dengan ukuran 20 x 35 cm. Berisikan riwayat hidup dan kisah penaklukkan seperempat daratan Eropa oleh Napoleon Bonaparte alias Napoleon I yang juga dijuluki sebagai “Corsican Ogre” (Raksasa dari Corsica). Buku yang dicetak pada 1887 ini pernah diiklankan dalam surat kabar Jawi Peranakan di Singapura pada 8 Juli 1989.

Judul lengkap buku pertama tersebut adalah, Hikayat Napolen Bonaparte atau Napoleon yang pertama yaitu seorang Raja Negeri Perancis yang amat masyhur namanya, daripada sangat bijak dan perkasanya dan beraniny, beberapa negeri2 yang dikalahkannya dengan perang sehingga ia nenjadi raja besar bergelar empera atau kaisar: Di dalamnya dikisahkan juga perjalanan hidup Napoleon sejak lahir hingga menjadi empera kaisar Perancis pada tahun 1804.

Adapun buku kedua, tebalnya 157 halaman, dengan ukuran sama seperti buku pertama. Isinya mengisahlan sejarah Napoleon III atau Louis Napoleon, keponakan laki-laki Napoleon Bonaparte yang juga menjadi kaisar Prancis: Penguasa Eropa antara tahun 1852-1870. Judul lengkap buku kedua adalah, Hikayat Napoleon yang Ketiga Perang antara Jerman dengan Prans (Perancis) pada Tahun 1870 dan 1871. Buku ini, juga pernah diiklankan oleh Jawi Peranakan di Singapura pada 8 Juli 1989, dan oleh tukang cap (percetakan) yang merangkap kedai buku dengan merek dagang ‘Haji Muhammad Siraj bin Haji Muhammad Saleh’ di Singapura tahun 1890.

Dua buku ‘Napoleonic Legend’ ini telah dicatat oleh Ian Proudfoot dalam ‘katalog’ khazanah buku-buku Melayu cetakan lama, Eearly Malay Printed Book A provisional account of Materials published in the Singapore-Malaysia area up to 1920, nothing holding in major public collections (Australia, 1992).

Berdasarkan informasi dalam katalog Proudfoot, dua buku ‘Hikayat Napoleon dari Lingga’ ini tidak ditemukan lagi di tempat asalnya di Daik-Lingga. Tiga copy buku pertama hanya ada dalam simpanan British Library di London, Perpustakaan SOAS di London, dan Perpustakan Nasional Indonesia di Jakarta. Sedangkan empat eksemplar buku kedua, kini menjadi bagian dari koleksi warisan KITLV di Universitas Leiden, Perpustakaan Nasional Indonesia di Jakarta, Perpustakaan SOAS di London, dan Canbridge University Centra Library di Inggris.

Dua buku Hikayat Napoleon yang tercetak pada Ofis Cap Kerajaan Lingga ini tidak mencatumkan nama penulisnya. Namun, ada sedikit informasi yang dapat menjelaskan, sebagamana dicatat oleh Ian Proudfoot dan tercatum pada halaman terakhir setiap hikayat itu: Ianya disalin dari kisah Napoleon yang dimuat secara bersambung dalam Pemberita Betawi, sebuah surat kabar berbahasa Melayu dari Bandar Betawi atau Batavia yang disingkat dengan inisial P.B.
***

Tarikh pencetakan dua Hikayat Napoleon ini, (1888 dan 1889), menunjuk kepada masa-masa pemerintahan Sultan Lingga-Riau yang terakhir, Abdulrahman Mu’azamsyah, ketika ia masih bermastautin di Daik-Lingga, sebelum pindah dan bersemayam di Pulau Penyengat pada tahun 1900.

Sultan Abdulrahman Mu’azamsyah terkenal dengan gaya dan seleranya yang keropa-eropaan. Oleh karena itu, bukan tak mungkin kisah tokoh-tokoh besar Eropa menjadi bahan obrolan ketika ia berkumpul dengan sahabat-sahabat Eropanya.

Kecenderungan ini terus berlanjut setelah ia bersemayam di Pulau Penyengat. Seperti dicatat oleh Henri Borel dalam sebuah artikel berjudul Een Bezoek Bij Den Sultan Van Lingga (Sebuah Kunjungan Kepada Sultan Lingga, tahun 1905) yang ditulis setelah pejabat urusan bangsa Cina (ambtenaar voor Chinese zaken) di Tanjungpinang itu mengunjungi sang Sultan di istananya di Pulau Penyengat pada 1904. Menurut Borel, Sultan Abdurahman selalu menceritakan dengan bangga semua isi istananya yang bergaya Eropa kepada setiap orang Eropa yang datang berkunjung ke istananya yang megah.

Apabila zeitgeist atau semangat zaman yang dijadikan pisau analisa dalam melihat fenomena ‘Napoleonic Legend’ di kerajaan Lingga-Riau pada akhir abad ke-19, maka bukanlah suatu yang berlebihan bila sebuah hikayat orang besar Eropa seperti Napoleon Bonaparte muncul dan dicetak di Daik-Lingga oleh Ofis Cap Kerajaan Lingga milik kerajaan Melayu pewaris kebesaran Melaka itu.

Hikayat Napoleon yang dicetak oleh Ofis Cap Kerajaan Lingga mengingatkan kita kepada penyebaran kisah Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great), Raja Macedonia, yang dalam tradisi sastra dan pensejarahan klasik Melayu dikisahkan melalui sebuah karya berjudul Hikayat Iskandar Zulkarnain: Sebuah karya yang dapat digolongkan sebagai mirror for the Princes (cermin bagi para raja dan penguasa).
***

Sebagai sebuah mirror for the Princes dalam bentuk yang lain, ‘Hikayat Napoleon yang tercetak oleh Ofis Cap Kerajaan Lingga tidak terlepas dari penyebaran legenda Napoleon (Napoleonic legend) di daratan Eropa dan Inggris, yang kemudian direspons pula di Kepulauan Riau Lingga-Riau.

Dengan demikian, bukan suatu yang berlebihan bila mengatakan bahwa Hikayat Napolen dari Lingga ini adalah kelanjutan tradisi Napolenic Legend di Eropa dan Inggris yang diawali dengan penerbitan kompilasi memoar, catatan harian, dan cerita yang ditulis oleh para pengikut Napoleon Bonaparte dalam pembuangan di pulau St. Helena.

Di daratan Eropa, karya pertama tentang Napoleon Bonaprte adalah Napoleon In Exile (Napoleon dalam Pengasingan) atau “A Voices From Saint Helena” (Suara-Suara Dari Pulau Saint Helena), yang diterbitkan di London pada tahun 1822. Buku pertama dalam korpus legenda-legenda Napoleon ini diikuti pula dengan penerbitan sebuah buku berjudul, Mémoires pour servir à l’histoire de France sous Napoléon, écrits à Sainte-Hélène sous sa dictée (Memoir Sejarah Perancis Selama Pemerintahan Napoleon, didiktekan oleh Sang Kaisar di Pulau St. Helena) oleh Montholon Gourgaud pada tahun 1823. Selepas itu, seorang penulis bernama Francesco Antommarchi menerbitkan pula sebuah karya berjudul, Deniers Momoents de Napoleon (Saat-Saat Terakhir Kaisar Napolen) pada tahun 1825.

Selanjutnya, sebuah karya besar tentang Napoleon berjudul Ode a La Colone, yang terdiri dari 28 voleme buku tebal berisikan kisah kemenangan dan penaklukkan oleh bangsa Perancis (Victories et Conquetes des Francais) dihasilkan pula oleh Victor Hugo, sastrawan dan penyair besar Prancis pada tahun 827.

Setelah serangkaian penerbitan itu, legenda Napoleon terus berlanjut dengan terbitnya karya Sir Walter Scott yang berjudul Life of Napoleon Buonaparte, Emperor of The French (Kehidupan Napoleon Buonaparte, Kaisar Perancis), di Edinburgh, Inggris, pada tahun yang sama.

Pada zamannya, tak ada suatu kekuatanpun yang dapat membendung penulisan dan penerbitan apa saja yang berhubungan dengan legenda Napoleon Bonaparte. Jadi, bukanlah suatu yang mengherankan bila dua buah ‘Hikayat Napoleon’ juga muncul pula nun jauh di Daik-Lingga, ibu kota Kesultanan Lingga-Riau, pada tahun 1888 dan 1889.***

KOLOM
ASWANDI SYAHRI
Sejarawan Kepri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here