Nasib Penambang Makin Prihatin

0
253
SEORANG warga di Pasar jalan Merdeka, Tanjungpinang mengantar pelajar dengan becak sepeda, baru-baru ini. Armada ini menjadi daya tarik wisata. f-yendi/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – NASIB penambang boat pancung di daerah Pelantar sekitarnya makin memprihatinkan. Pekerjaan ini sebenarnya sudah tidak menjanjikan lagi, namun karena tak ada pekerjaan lain, makanya tetap bertahan.

Berdasarkan keluhan para penambang, Andi Ridwan Ketua Umum Himpunan Persaudaraan Penambang Boat Tanjungpinang (H2BT) menyampaikan, pendapatan penambang berkurang setiap hari, sejak jembatan Sungai Carang dioperasikan. Sebelumnya, penghasilan penambang bisa berkisar Rp 100 ribu sehari. Namun, sejak jembatan Sungai Carang dioperasikan, masyarakat lebih memilih lewat jembatan tersebut, dibandingkan naik boat atau pancung.

”Sekarang pendapatan mereka sehari-hari sekitar Rp 30 ribu, sampai dengan Rp 40 ribu sehari,” ujar Andi Ridwan, kemarin.

Selain pengguna jasa yang berkurang, pendapatan penambang makin berkurang, disebakan jumlah penambang makin banyak. Saat ini, ada 261 orang penambang yang tergabung di H2BT. Mereka ini menyebar di enam titik pangkalan. Setiap pangkalan ada pengurusnya terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Bendahara (KSB) serta anggota.

Mereka tidak bisa melarang calon anggota yang bertambah, karena itu hak seseorang untuk mencari rezeki. Karena itu, mereka harus ikhlas jika ada penambahan anggota baru, meski mengurangi pendapatan mereka.

Para penambang bisa mendapatkan rezeki lebih, apabila ada carteran dan jumlah penumpangnya banyak. Ongkos penumpang cukup murah. Dari Pelantar II ke Kampung Bugis, hanya Rp 2 ribu per orang. Khusus untuk pelajar hanya Rp 1.000 per siswa, itu pun tidak dipaksa.

”Kalau dikasih mereka terima. Tapi kalau ada anak sekolah minta numpang, mereka tetap bawa meski tak bayar. Itu lah jiwa sosial penambang,” tambahnya.

Sebenarnya, penambang sudah menaikkan ongkos dari Rp 2 ribu menjadi Rp 3 ribu, setiap penumpang umum. Namun, karena tarif itu tidak dikeluarkan pemerintah, akhirnya banyak penumpang yang tetap membayar Rp 2 ribu.

Ridwan mengatakan, dirinya benar-benar khawatir dengan penambang ini ke depan. Jika tetap dengan penghasilan Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu sehari, khawatir masa depan anak-anaknya. Di pangkalan (pelabuhan), para penambang ini harus ikut antre. Setiap hari, satu penambang kadang dapat 6-7 trip dengan jumlah penumpang 5-6 orang.

Setiap hari penghasilan mereka sekitar Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu, itu pendapatan kotor. Penerimaan itu dikurangi untuk beli premium (bensin), makan dan minum serta perbaikan mesin. Penghasilan bersih sampai ke rumah sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu.

Karena penghasilan sangat kecil, para penambang tidak sempat menabung, untuk persiapan apabila kapalnya harus perbaikan. Karena itu, ketika kapal harus naik dok (perbaikan), dilakukan seadanya.

Keberadaan mereka sebenarnya sangat vital, karena mengantar jemput masyarakat ke berbagai tujuan. Hanya saja, sejauh ini belum ada perhatian pemerintah daerah. Karena itu, jika penambang tidak bisa menambah jumlah life jacket, itu bukan karena tidak mau. Tapi untuk menutupi kebutuhan anak istrinya saja, masih kurang.

Saat ini, persatuan penambang antara Penyengat dengan daerah Pelantar berdiri sendiri. Namun, tetap dirangkul. (MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here