Natuna Jual Wisata Kapal Tenggelam

0
421
Erson Gempa

NATUNA – Hingga saat ini, Film Titanic menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa. Penggemar film ini bahkan ada yang bolak-balik menontonnya meski harus bayar tiket mahal ke bioskop.

Film ini sedikit mengisahkan kisah asmara dua penumpang kelas atas (Kate Winslet) dan kelas bawah (Leonardo Di Caprio). Leonardo akhirnya tewas saat kapal Titanic yang mereka tumpangi tenggelam.

Sedikit terinspirasi dari film ini, ternyata di laut Natuna banyak juga kapal-kapal tenggelam. Hanya saja, namanya tak tenar karena memang tidak di-film-kan seperti Titanic.

Saking banyaknya kapal tenggelam di laut Natuna, muncul wacana untuk menjualnya menjadi destinasi wisata diving kapal-kapal tenggelam. Dinas Parawisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Natuna telah merancang sebuah konsep guna menggarap potensi pariwisata daerah perbatasan ke depan termasuk wisata diving.

Konsep yang diusung untuk mendongkrak segala potensi pariwisata yang dimilik Natuna disebut MEA (Marine, Ekowisata, Arkeologi).

”Kami dari Dinas Pariwisata telah merancang sebuah konsep untuk pengembangan potensi daerah, guna mendongkrak sektor pariwisata. Dengan konsep MEA ini, kita berharap segala potensi yang ada bisa berperan dalam meningkatkan pariwisata Natuna ke depan,” ungkap Kadisparbud Natuna, Erson Gempa ketika memberikan pemaparan hasil presentasi akhir DED Mianland Deramaga Teluk Baruk di kantor Bupati Natuna, kemarin.

Dikatakan Erson, Marine diangkat dalam konsep wisata, karena wilayah Natuna 99 persen adalah laut. Banyak potensi yang bisa dijual, dalam konsep kekayaan laut, seperti atraksi, mandi, kemudian water sport dan masih banyak lagi.

Namun, jika hanya mengandalkan hal tersebut, Natuna akan kalah bersaing dengan daerah lain yang telah populer terlebih dahulu seperti Bali. Maka dari itu, terang Erson perlu dimasukkan konsep Ekowisata ke dalam pengembangan wisata Natuna.

”Nah, ekowisata inilah yang akan kita gabungkan dengan arkeorlogi maritim, dalam ekowisata kita mempunyai gunung, danau mangrove dan ditambah lagi flora dan fauna serta satwa langka, seperti kekah dan kupu-kupu. Natuna saat ini, setelah diteliti ada lima jenis spesies kupu-kupu langka di dunia, sementara dari flora, kita juga punya potensi hutan wisata atau kebun raya,” papar Erson.

Sedangkan bidang arkeorlogi maritim Natuna juga sangat kaya dengan destinasi diving di sisa-sisa kapal tenggelam di zaman dahulu.

”Kita juga akan mengandalkan destinasi diving kapal-kapal tenggelam. Kita sangat banyak datanya, kita tidak hanya menjual terumbu karang saja, karena besar kemungkinan terumbu karang kita akan kalah dengan tempat lain. Maka dari itu, kita angkat diving objek wisatanya bangkai kapal tenggelam atau disebut BMKT,” bebernya.

”Inilah yang sedang kita kemas bersama. Salah satu fasilitas penunjang pelabuhan mainland akan dibangun di Teluk Baruk, karena di Senoa itu sendiri, ada dua bangkai kapal yang menjadi destinasi wisata,” terangnya.

Dari 11 destinasi pariwisata yang sudah ditetapkan dalam program kerja Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Natuna (TP3N), diantaranya ada Pulau Senoa dan mangrove. Semua planning-nya sudah dipersiapkan untuk pengerjaannya terutama untuk pengembangan mangrove Pering dan Sebala sebagai destinasi wisata tambahan di samping pantai.

”Kita sudah selesaikan DED (Detail Engineering Design)-nya, nanti bangunan mangrove di Pering dan Sebala juga akan menjadi ikon pariwista kita ke depan,” papar Erson.

Di sisi lain, Erson juga berharap kepada dinas terkait agar dapat mendukung dan membuat program sesuai dengan tupoksinya untuk membangun pariwisata Natuna ke depan.

Kepada dinas terkait yang telah tergabung dalam anggota TP3N, karena telah dikeluarkan Perbup tentang program kerja TP3N lima tahun ke depan, sekiranya dapat mendukung kegiatan pengembangan sektor pariwisata dengan membuat program sesuai dengan tupoksinya masing-masing.

”Kita kerja bersama untuk membangun pariwisata, dengan harapan kita bisa secepat mungkin mengangkat potensi pariwisata baik tingkat nasional maupun ke tingkat internasional,” harap Erson.

Berbagai program yang telah dirancang tersebut mudah-mudahan pada tahun 2019 sudah dapat terbangun, walaupun tidak bisa diselesaikan pada tahun 2020, minimal kerangkanya sudah jadi dan tampak. ”Sebab pada tahun 2020 ada gol yang sedang kita tungu-tungu yaitu pelaksanaan touring balap sepeda keliling Natuna,” terang Erson. (hrd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here