Nelayan Adalah Pahlawan Protein Dunia

0
777
Putri Karuniyati

Oleh: Putri Karuniyati
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang tersusun atas lebih dari 17.000 pulau, dirangkai oleh 95.181 km garis pantai (terpanjang kedua setelah kanada) dan sekitarnya 70 persen wilayahnya berupa lautan. Di wilayah pesisir dan laut terkandung beragam sumber daya alam (SDA) dan jasa-jasa lingkungan yang sangat besar dan belum di manfaatkan secara optimal. Peluang pengembangan usaha perikanan Indonesia memiliki prospek yang sangat tinggi.

Potensi ekonomi sumber daya alam yakni keluatan dan perikanana yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong kesejahtraan rakyat. Ada sekitar 700.000 lebih nelayan yang berstatus sebagai kepala rumah tangga. Sebagian besar nelayan tinggal tersebar di 3.216 desa yang dikatagorikan sebagai desa nelayan.

“Nenek moyangku seorang pelaut, Gemar menguragi luas samudra”. Sepengkal kalimat ini tentu masih terngiang jelas di telinga karena di pendidikan sekolah dasar kalimat tersebut seringkalidi perdengarkan dan diucapkan pada semua anak bangsa. Kalimattersebut menyiratkan bahwa masyarakat indonesia telah dikenal sebagai pelaut sejak dulu kala.

Nelayan adalah salah satu profesi yang ada di seluruh wilayah indonesia. Hal ini tidak mengherankan karena dua pertiga wilayah ditanah air adalah lautan dan memiliki potensi hasil laut yang sangat besar untuk mangantarkan masyarakat indonesia menjadi sejahtera. Berdasarkan populasi nelayan di yang berada kelautan Kepri sebanding dengan luasnya laut provinsi ke-32 berpenduduk 1,8 juta jiwa ini yakni 96%. Hal inilah yang membuat potensi maritim Kepri sangat besar, sedangkan luas daratan hanya 4%. Sebagai provinsi kepulauan, wilayah ini terdiri atas 96% kelautan. Kondisi ini sangat mendukung bagi penembangan usaha budidaya perikanan mulai usaha pembenihan sampai pemanfaatan teknologi budidaya maupun penangkapan. Di Kabupaten Karimun terdapat budidaya ikan kakap, budidaya rumput laut, kerambah jaring apung sedangkan dikota Batam, Kabupaten Bintan, Lingga dan Natuna juga memiliki potensi yang cukup besar dibidang perikanan.

Baca Juga :  Rider Hebat Datangkan Artis

Profesi pelaut dan nelayan memang telah menjadi salah satu mata pencarian potensial yang dilakoni masyarakat indonesia namun, bila membicarakan mengenai nelayan tidak banyak yang tahu bahwa setiap tanggal 6 April di peringati sebagai Hari Nelayan Nasional. Peringatan Hari Nelayan Nasional tentu tidak terlepas dari tujuan untuk meningkatkan kesejahtraan kehidupan nelayan agar mendapat perhatian lebih.Dengan kekayaan alam yang berlimpah lantas apakah kehidupan para nelayan di indonesia saat ini sudah benar-benar sejahtera?

Peringatan Hari Nelayan Nasional belum menjadi agenda tahunan penting yang dirayakan dengan penuh arti oleh bangsa ini. Padahal keberadaan nelayan ditanah air sangat memberi pengaruh penting bagi kebutuhan masyarakat.

Salah satu faktor sentral yang masih problema besar dalam kehidupan nelayan adalah tingkat pendidikan dan informasi. Sebagian besar nelayan indonesia tidak menempuh pendidikan formal dan rendahnya akses informasi. Fenomena ini tidak terlepas dari tingkat kesejahtraan yang masih rendah. Kemiskinan terlalu melekat pada profesi nelayan. Entah bagaimana memakmurkan mereka, terlebih dengan hasil yang makin seadanya.

Baca Juga :  Generasi Old Kontra Generasi Now

Dari data di atas mengungkapkan bahwa kekayaan alam begitu berlimpah, namun bagaimana nasib para nelayan di daerah perbatasan pesisir dengan pekerjannya sebagai seorang nelayan yang masih serba kekurangan seperti kurangnya kapal, alat tangkap dan kurangnya pengetahuan perbatasan wilayah indonesia dengan negara tetangga. Ya, setidaknya ada bantuan seperti GPS (Global Positioning System)guna memudahkan mereka dalam mendeteksi posisi ikan di laut dan Swates (suara perbatasan) guna untuk mengetahui perbatasan negara, serta alat modrenpenamkapan ikan yang bisa memudahkan para nelayan. Para nelayan selama ini masih mengandalkan tanda-tanda alam kebiasaan dalam melaut akibatnya, sering kali nelayan tidak mendapatkan hasil sama sekali, sehingga harus menganggung rugi yang dikarenakan biaya bahan bakar minyak (BBM) yang dikeruarkan tidak sedikit. Jika di lengkapi dengan GPS dan kapal berbobot 15 gross ton GT harapan nelayan tentu setiap melaut bisa mendapatkan hasil yang sangat memuaskan.

Dalam konteks kekinian, musuh mereka makin bertambah salah satunya kegiatan yang bertujuan untuk menambah luasan daratan yang biasanya disebut dengan Reklamasi. Kini para nelayan menangkap apa? Bayangkan saja bila tidak ada satupun nelayan yang melaut, sudah tentu semua elemen masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi terbaik dari hasil laut dan tentunya gizi protein yang tidakkan di dapat oleh para generasi mendatang.

Baca Juga :  Pendidikan Karakter Melalui Kepramukaan

Nelayan yang berjuang melawan ombak, angin dan cuaca ekstrim tapi hasil yang didapatkan tidak sebanding dengan upaya keras mereka. Hasil laut seperti ikan, udang, kepiting dan masih banyak lainya selain untuk di konsumsi oleh masyarakat indonesia, juga untuk di jual keluar negeri dengan nilai jual seafoot yang selalu menepati posisi harga yang eksklusif Tentunya hal ini akan membantu perekonomian indonesia.

Maka dari itu nelayan sangat berharga untuk negeri kita.Ini sudah menjadi bukti betapa besarnya manfaat kehadiran nelayan sebagai pahlawan protein bangsa yang memaksimalkan kesejahtraan indonesia, lalu kenapa masih ada pihak yang bergerak lambat untuk senantiasa memberi apresiasi terbaik untuk para nelayan tradisional.

Sudah saatnya bangsa ini memberi perhatian lebih dan apresiasi terbaik untuk jerih payah nelayan indonesia. Kehidupan nelayan di tanah air tercinta hendaknya mendapatkan tempat perhatian besar dalam daftar persoalan yang harus memperoleh solusi penanganan terbaik tingkat kesejahtraan hidup nelayan tradisional masih kurang baik. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here