Nelayan Bintan Tangkap Nelayan Tanjungpinang

0
508
DIAMANKAN: Anton (menunduk), nelayan Dompak yang diamankan di Tanjungtalok Bintan. f-istimewa/tanjungpinang pos

Gara-gara Pakai Jaring pukat  

Mencari ikan di laut boleh-boleh saja. Namun, tak semua alat tangkap ikan diperbolehkan dipakai. Pukat merupakan salah satu alat tangkap ikan yang dilarang dipakai.

Tanjunguban – INI juga yang membuat nelayan tangkap nelayan karena ketahuan menangkap ikan pakai pukat. Padahal, pukat ini merusak ekosistem laut.

Inilah yang dialami Anton (34) warga Senggarang, Tanjungpinang. Ia diamankan oleh nelayan Desa Teluksasah, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Sabtu (18/2) malam.

Anton diamankan saat menangkap ikan, gamat dan gonggong di wilayah perairan depan Bandara Busung dengan menggunakan jaring pukat.

Kejadian yang cukup menggegerkan nelayan Desa Teluksasah ini memang cukup meresahkan para nelayan yang melaut di sekitar wilayah Selatan Pulau Bintan.

Pasalnya tidak hanya kali ini saja, bahkan peristiwa penggunaan pukat oleh nelayan dari Tanjungpinang ini sudah berkali kali.

Berbagai tindakan pernah dilakukan seperti membakar pukat hingga ke jalur hukum. Namun sepertinya tidak menyurutkan langkah nelayan ‘nakal’ untuk melaut dengan cara yang curang dan dilarang oleh aturan negara tersebut.

Malam itu nasib Anton sedang apes karena tertangkap oleh Pak Lapok bersama rekannya yang melaut di sekitar Laut Gora depan proyek pembangunan Bandara Busung di Seri Kuala Lobam.

Beruntung, meski diamankan oleh nelayan Teluksasah, namun Anton tidak mengalami tindakan kekerasan apapun. Jaring pukatnya pun tidak dibakar serta pompong yang ia gunakan tidak dirusak sama sekali.

Namun nelayan yang sudah resah dan gerah atas tindakan tersebut langsung memanggil pihak kepolisian dan menggiring Anton ke Satpolair Bintan di Tanjunguban.

Erdis Suhendri, Kepala Desa Teluksasah yang diwawancarai mengatakan, nelayan yang diamankan tersebut tertangkap tangan oleh nelayan Tanjungtalok yang juga sedang melaut. Saat itu nelayan tersebut kedapatan menggunakan jaring pukat.

Ia menjelaskan, sesaat diamankan di pelantar nelayan Kampung Tanjungtalok, Anton terlihat pasrah dan tidak berbicara banyak kecuali memberikan keterangan data diri dan mengakui perbuatannya tersebut.

”Nelayan Senggarang ini seorang diri dan menggunakan pompong. Kemudian langsung dibawa ke Kampung Tanjungtalok. Jam 22.00 WIB lah baru sampai,” sebutnya, Minggu (19/2) kemarin.

Ia menambahkan, dari hasil wawancara warga, nelayan Senggarang tersebut mengaku bernama Anton dan tidak membawa KTP.

Dari hasil informasi, nelayan tersebut beberapa waktu lalu juga sudah pernah beberapa kali diamankan oleh nelayan Desa Busung dengan kasus yang sama, melaut dengan pukat.

”Kalau yang ini hanya diamankan saja. Saya juga sudah meminta agar warga tidak marah, merusak atau membakar kapal dan jaring. Kami ingin masalah ini diselesaikan sesuai dengan prosedur. Kami juga langsung berkoordinasi dengan pihak Satpolair Polres Bintan agar mendapatkan tindakan yang semestinya,” terangnya.

Saat ini, lanjutnya, nelayan Senggarang tersebut sedang diperiksa di Satpolair Polres Bintan guna penyelidikan lebih lanjut. Sementara itu, Kasatpolair Polres Bintan AKP Norman DJ yang dikonfirmasi mengatakan jika saat ini nelayan Senggarang tersebut sedang diamankan oleh pihaknya.

”Kami masih berkoordinasi dengan pihak PPNS Perikanan Provinsi Kepri dan Ketua Nelayan, baru nanti setelah itu dapat diputuskan seperti apa tindak lanjut terhadap nelayan tersebut,” jawabnya.(JENDARAS KARLOAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here