Nelayan Natuna Terancam Rugi Besar

0
157
Kaat dan hanafi, saat menunjukkan keramba budidaya ikan Napoleon miliknya, belum lama ini di Natuna. f-istimewa

Ketika Pemerintah Pusat Menunda Ekspor Ikan Napoleon

Sejak moratorium ekspor ikan Napoleon dibuka beberapa waktu lalu, nelayan di Natuna hingga Anambas kembali bersemangat membudidayakan ikan super mahal itu.

NATUNA – SAAT ini, sudah ada sekitar 30 ribu ton ikan Napoleon yang siap ekspor dengan berat sekitar 3-4 kilogram per ekor. Padahal, berat minimal ikan tidak lebih dari 3 Kg per ekor agar bisa ekspor. Ternyata, ekspor ikan Napoleon ini ditunda lagi oleh pemerintah pusat. Informasinya, penundaan ekspor ini dilakukan untuk perubahan kuota ekspor.

Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Natuna, Hadi Suryanto membenarkan adanya langkah penundaan ekspor ikan berharga mahal tersebut. ”Ya betul. Infonya seperti itu yang kita terima. Ekspor ditunda per tanggal 1 April kemarin,” kata pria yang akrab disapa Jojo itu, Kamis (19/4) melalui telepon.

Penundaan kembali proses ekspor ikan itu dikarenakan pemerintah hendak melakukan perubahan kuota ekspor untuk Natuna. ”Ditunda karena menunggu perubahan kuota. Katanya kuota yang sekarang akan diubah,” ujarnya lagi.

Merespon langkah penundaan ekspor ini, Camat Bunguran Barat, Bukhari mengaku warga setempat berharap ada perubahan kuota yang berpihak kepada nelayan. Kuotanya hendaknya diperbanyak. ”Mengenai penundaan ekspor Napoleon, nelayan kita berharap dua hal. Yang pertama kuota ekspor bisa ditambah dan masa jeda ekspor itu tidak terlalu lama agar mereka dapat segera menjual ikannya,” kata Camat Bukhari.

Ia menjelaskan, berdasarkan infomasi yang dihimpunnya, populasi ikan Napoleon layak jual milik masyarakat hingga saat ini sekitar 30.000 ton. Sedangkan kuota untuk ekspor Natuna sebelumnya hanya 3.000 ton. Saat ditanya apakah penjualan ikan Napoleon dibatasi dengan ukuran berat, Bukhari mengatakan, nelayan tidak boleh menjualnya di atas tiga kilo.

Sementara Napoleon milik pembudidaya dan nelayan sekarang sudah banyak yang memiliki berat tiga kilo bahkan ada yang lebih. ”Kalau penundaan ekspor ini terlalu lama, nelayan kita bakal rugi. Mudah-mudahan prosesnya cepat lah,” tutupnya.

Ika Napoleon ini tidak banyak ditemukan di lautan. Namun Natuna dan Anambas tempat istimewa karena ikan ini banyak ditemukan di sana. Februari 2018 lalu, sekitar 1.000 ekor ikan Napoleon asal Natuna diekspor ke Hongkong melalui jalur laut. Ekspor perdana ini menandai dibukanya keran ekspor Napoleon dari Natuna dan Anambas.

Dengan dibukanya keran ekspor itu, sangat menguntungkan bagi negara, khususnya bagi nelayan lokal. Izin ekspor itu sendiri diberikan lintas kementerian, yakni Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Ekspor tersebut harus memenuhi syarat kuota. Ikan Napoleon baru dapat diekspor jika memenuhi kuota 40.000 ekor dengan ukuran lebih dari 1 kilogram hingga 3 kilogram per ekor. Kabupaten Natuna diperbolehkan mengekspor 3.000 ton. Sementara Anambas diperbolehkan mengekspor 10 ton.

Namun untuk ekspor tidak bisa asal-asalan. Kapal angkut komoditas ekspor berbendera asing harus mempunyai izin pengangkutan ikan hidup hasil pembudidayaan. Ikan Napoleon yang diekspor harus betul-betul berasal dari pembudidayaan yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Asal (SKA).

Eksportir harus mengantongi izin pengedar satwa dari otoritas terkait. Proses pemindahan (komoditas ekspor) harus dicatat dan berada di bawah pengawasan pihak BKIPM, Pengawas Perikanan, dinas terkait serta pihak berwenang lainnya.(HARDIANSYAH-MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here