Nelayan Thailand dan Asahan Menjamur

0
129
NELAYAN tradisional dan pengurus HNSI Anambas mengadu kepada Ketua DPRD Kepri, Jumaga Nadeak, Senin (12/2). f-istimewa/humas dprd kepri

Laut Anambas Dikepung Kapal Jumbo dan Modern

Laut luas dan ikan berlimpah, namun belum mensejahterakan rakyat Anambas. Bahkan, yang menikmati ikan Anambas justru nelayan dari luar daerah dan nelayan negara asing.

ANAMBAS – APA daya, untuk menangkap ikan ke tengah lautan tidak mungkin. Karena nelayan Anambas masih menggunakan alat tangkap tradisional. Kapal kecil sehingga tidak bisa mengarungi besarnya ombak di tengah lautan.

Nelayan pun hanya bisa mengais rezeki di pinggiran pantai dengan jarak tertentu. Jika memasuki lautan lepas, sampan mereka akan digulung ombak. Penghasilan pun pas-pasan, dan hanya bisa menutupi kebutuhan sehari-hari.

Bantuan-bantuan yang diberikan pemerintah pun berupa alat tangkap biasa serta kapal ukuran kecil, sehingga tetap juga tak bisa mencari ikan ke lautan lepas.

Sudah lah alat tangkapnya tradisional, daerah tangkapan nelayan Anambas kini sudah jadi ladang pencaharian nelayan luar. Kapal-kapal besar yang dilengkapi alat tangkap modern pun terus memasuki lautan Anambas.

Kapal nelayan dari luar Kepri pun berbondong-bondong masuk ke sana mengeruk ikan di lautan nan kaya itu. Yang parahnya lagi, kapal nelayan Thailand pun banyak juga berlayar menangkap ikan di sana.

Harusnya, ada batas untuk kapal-kapal besar dan tidak bisa menangkap ikan di daerah tangkapan nelayan tradisional. Agar tidak ketara, nelayan luar dan nelayan asing ini mencari ikan di daerah tangkapan nelayan tradisional di malam hari.

Kondisi ini membuat nelayan Anambas resah. Jika begini terus, lama-lama mereka akan kehilangan rezeki. Sebelumnya, nelayan sudah mengaku ke pemerintah setempat dan ke DPRD setempat.

Kali ini, nelayan tradisional Kabupaten Anambas mengeluhkan maraknya aksi pencurian ikan oleh kapal-kapal berbendera Thailand di perairan Anambas kepada anggota DPRD Kepri.

Nelayan juga menyampaikan, tak hanya kapal Thailand, kehadiran kapal-kapal pukat di perairan Anambas semakin mempersulit ruang gerak para nelayan Anambas.

Bahkan, keberadaan kapal pukat asal Kabupaten Tanjung Asahan tersebut semakin berani, karena beroperasi di bibir pantai di sekitar Anambas.

Padahal ada aturan menyebutkan kapal-kapal besar beroperasi di atas 12 mil laut dan melarang kapal pukat beroperasi 3 mil dari pantai.

”Namun, pada kenyataannya mereka masuk di wilayah satu mil dari bibir pantai,” kata Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Anambas Dedi Syahputra, saat diterima Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak di Gedung DPRD Kepri di Dompak, Senin (12/2).

Nelayan Kabupaten Anambas juga mengeluhkan kebijakan pemerintah pusat yang akan mendatangkan ribuan nelayan asal Pulau Jawa.

Padahal, kata Dedi, nelayan tradisional di Anambas masih banyak yang belum tersentuh kebijakan pemerintah pusat.

Di tempat yang sama, Ketua HNSI Anambas Tarmizi Az mewakili nelayan-nelayan Anambas meminta agar pemerintah segera menertibkan kapal-kapal tersebut.

Tak hanya itu, pengawasan terhadap laut Anambas juga harus ditingkatkan. ”Kami khawatir gesekan ini bisa semakin besar. Karena tahun lalu sudah ada nelayan Anambas yang meninggal ditabrak kapal-kapal besar itu,” kata Tarmizi.

Kabupaten Anambas, katanya, merupakan kabupaten terkaya di Provinsi Kepri. Potensi lautnya yang besar dan terbuka, menyimpan kekayaan alam yang belum terjamah. Sayangnya pencurian dan belum tegaknya aturan membuat Kekayaan Anambas dicuri terus.

Menanggapi keluhan tersebut, Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak berjanji memerintahkan komisi terkait untuk turun ke Anambas. ”Saya nanti akan coba berkoordinasi dengan aparat keamanan. Untuk pencurian ini akan menjadi perhatian kami,” kata Jumaga.

Ia juga berjanji untuk berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mengoptimalkan Tempat Pengolahan Ikan (TPI) di Anambas. ”Ini akan menjadi perhatian kami. Semoga, dengan dioptimalkannya TPI, masyarakat Anambas bisa sejahtera,” tutupnya.

Persoalan ini sebenarnya sudah terjadi beberapa bulan lalu. Nelayan tradisional Anambas semakin cemas. Karena nelayan luar yang datang ke sana mencari ikan tengah malam dan masuk ke area penangkapan nelayan tradisional.

Kondisi ini membuat nelayan Anambas makin sempit ruang penghasilannya. Nelayan lokal sendiri masih menggunakan alat tangkap tradisional, sedangkan nelayan luar yang dayang ke sana lengkap dengan alat modern dan kapalnya juga jumbo.(MARTUNAS-SUHARDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here