Niat Baik dan Pemerintah, Tak Cukup?

0
252
Mohammad Endy Febri SE, MH

Oleh: Mohammad Endy Febri
ASN Pemerintah Kota Tanjungpinang

Pernahkah Anda alami saat Anda hendak bersedekah dengan uang sendiri, ujungnya anda hanya menyisakan niat dengan menyampaikan sedekah dari orang lain? Katakanlah anda hendak bersedekah gorengan buat rekan yang sedang bergotongroyong. Saat membeli gorengan ditempat yang kerap didatangi, ia gratiskan jualannya. Sekali – sekali tak apa-apalah kata sang penjual, hari baik bulan baik katanya sambil menolak bayaran.

Lalu, berpindahlah produk sedekah tersebut.
Atau ada keluarga anda yang meminjam uang ke bank, untuk menggenapi tabungannya yang tak seberapa untuk mengumrahkan kedua orangtuanya. Setelah beberapa hari bapak dan emaknya kembali kerumah, ia meninggal dunia dan terbebas dari cicilan – cicilan. Jatuhnya, bank yang mengumrahkan orangtuanya secara gratis. Pernahkah anda bersinggungan dengan peristiwa semacam itu? Niat dan realita adalah pasangan yang misterius.

Niat baik dapat berakhir dengan mulia maupun kekecewaan. Bagi produsen maupun konsumen. Begitu pula kebijakan – kebijakan pemerintah, secara lokal maupun skala nasional. Tak dipungkiri, kata terukur adalah simbol indikator penilaian.

Semua kebijakan yang timbul harus dirasakan riil untung – ruginya. Perubahan selalu dibungkus dalam takaran perekonomian, kemasyarakatan bahkan kultural dan dampaknya terasa setelah bungkusan tersebut dibuka.

Terkadang, niat baik pemerintah dirasakan seperti trial and error bagi masyarakat. Banyak yang tak mengindahkan proses apalagi perubahan pola yang sekilas tampak seperti merepotkan. Saat momen penyesuaian itu datang, mereka yang terbiasa dengan keleluasaan dan kemudahan – kemudahan akan bereaksi.

Semacam relokasi atau penerapan sistem online misalnya. Warga juga harus belajar menerima dan memahami seluruh perguliran. Jika mencoba memahami saja tidak dimunculkan, bagaimana evaluasi akan berjalan?

Tak dipungkiri hal – hal baru tak selamanya berjalan mulus, karena perubahan butuh pembelajaran dari semua pihak. Banyak yang berhasil, ada pula yang gagal pastinya. Bagaimanapun, sinergitas harus diletakkan diawal dengan kepala dingin.

Tiap peristiwa relokasi selalu menjadi kisah yang menarik, karena selalunya terkait dengan kelompok dan dinamikanya. Saat ada pihak merasa terusik secara finansial; tata kota, kenyamanan masyarakat lainnya maupun keteraturan tak akan pernah jadi sesuatu yang menarik.

Begitu pula misalnya dengan konsep birokrasi online. Apabila semua berkas dan apapun kebutuhan warga harus menggunakan cara semacam itu, warga juga harus terus belajar, baik generasi milenial hingga generasi jauh diatasnya. Minimal memiliki email, mengerti resolusi scanning, memahami instal aplikasi, kerap mengunjungi web tertentu dan memiliki ponsel yang mendukung. Juga harus memahami instruksi – instruksi yang diarahkan oleh aplikasi – aplikasi tertentu. Dengan sama – sama terus mengembangkan potensi, tak ada yang mustahil. Tapi jikalau salah satu mandeg bergerak, bagaimana percepatan birokrasi masuk ke ruang keluarga?

Niat baik saja selalu tak cukup apabila tak disejalankan dengan cakrawala pandang yang utuh. Apabila egosentris dan sama – sama menyimpan kepentingan lain diawal mukadimah, tentu takkan pernah bertemu antara keinginan dan harapan.

Apabila perbaikan secara menyeluruh tak menarik bagi mereka yang merasa direpotkan dengan perubahan, rasanya harus ada pintu yang selalu terbuka untuk duduk semeja dengan mengedepankan kepentingan bersama plus kebesaran hati. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here