Nilai Adat dan Tradisi Mulai Hilang di Sekolah

0
1985
GAWAI SENI: Penampilan peserta dari pelajar SMP saat membacakan pantun, Kamis (27/4) di lapangan Pamedan, Tanjungpinang.F-Yoan/Tanjungpinang Pos

Wawako Buka Gawai Seni 2017 

TANJUNGPINANG – Guna mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi Pemerintah kota Tanjungpinang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menggelar Gawai seni di lapangan Pamedan tanggal mulai Rabu (26/4) sampai Sabtu (29/4).

Acara ini resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Tanjungpinang, H Syahrul, ditandai dengan pemukulan tambur.

H. Syahrul, mengatakan perlunya mempertahankan kesenian dan menjaga seni budaya agar tidak terkontaminasi dari budaya asing yang merugikan.

Nilai budaya meningkatkan harkat dan martabat bangsa, tugas utama harus mampu mempertahankan, melestarikan dan menjaga serta mewarisi budaya lokal dengan sebaik baiknya.

”Warisan leluhur ini harus kita pertahankan agar tetap hidup dan lestari seiring dengan kemajuan zaman,” kata H Syahrul.

Pentas seni diikuti oleh siswa siswi SD, SMP dan masyarakat umum dari sanggar seni di Tanjungpinang dan beberapa daerah seperti Bandung dan Jogyakarta.

Kategori perlombaan yang akan dilaksanakan pada gawai seni yaitu perlombaan tari kreasi tingkat SD, SMP, umum, lomba pembacaan pantun tingkat SD, SMP dan umum serta visualisasi puisi dan Gurindam.

Baca Juga :  Pemko Sia-siakan Bantuan Pusat

Dalam acara gawai seni juga akan dihibur oleh penampilan band lokal yang ada di Kota Tanjungpinang. Acara turut dihadiri jajaran kepala OPD Pemerintah Kota Tanjungpinang dan unsur FKPD serta masyarakat.

Kemudian, segenap pelaku budaya Melayu mengaku kecewa dengan kondisi pelajar Kota Tanjungpinang yang dinilai semakin jauh dari nilai tradisi.

Hal tersebut disampaikan oleh beberapa budayawan muda Tanjungpinang seperti Rendra, Al Naziran, Zainal, Thamrin yang bergerak dalam wadah Jantung Melayu, Kamis (27/4) di pelataran lapangan Pamedan sempena perhelatan Gawai Seni tahun 2017.

Menurut Zainal, nilai-nilai tradisi tersebut sudah mulai hilang dan pudar ketika menyaksikan lomba cerdas cermat pantun tingkat pelajar.

”Kalau disimak, miris rasanya, masak anak Melayu tidak tahu Tepung Gomak, Teluk Belanga, Cogan dan istilah Melayu lainnya, padahal itu adalah milik kita Melayu Tanjungpinang ini,” bebernya.

Baca Juga :  Waspadai Penipuan CPNS

Al Naziran yang menjabat sebagai dewan juri lomba cerdas cermat pantun tersebut tampak berkali-kali menggelangkan kepala ketika mendengan rangkaian kalimat dalam soalan pantun ciptaan pelajar.

”Alamak, Tepuk Tepung Tawar itu bukan makanan, dia seperangkat adat dalam ritual budaya Melayu, kenapa pula ada sampiran sungguh sedap si tepung tawar, kacau ni,” ujarnya dengan nada candaan.

Terkikisnya nilai-nilai adat dan tradisi budaya Melayu dikhawatirkan berasal dari beberapa sumber, pemikitan tersebut berasal dari tokoh pemantun senior, Thamrin Dahlan.

”Bicara anak, tentu bicara orangtua. Sama halnya ketika bicara pelajar tentu membicarakan guru dan sekolahnya, harusnya nilai-nilai budaya Melayu sudah mulai dikenali sejak usia dini. Kalaupun tidak menjadi budayawan setidaknya mereka (anak-anak, red) mengerti makna dan peruntukan dari nilai budaya itu sendiri,” paparnya kepada awak media.

Baca Juga :  Besok, Seluruh Siswa Libur Sekolah

Dari 30 peserta tingkat Sekolah Menengah Pertama dan puluhan peserta tingkat Sekolah Dasar, hanya beberapa kelompok peserta saja yang dinilai mampu memahami nilai-nilai akar yang terkandung dalam soalan cerdas cermat pantun.

Padahal menurut Thamrin yang maestro di bidang pantun hanya 8 soal saja yang diberikan kepada siswa.

”Siswa kita ini diberikan 8 soal pantun yang terdiri dari melengkapi isi, melengkapi sampiran, membuat pantun dengan kata kunci dan melengkapi pantun pusaka, hasilnya banyak yang kacau dan tidak sesuai,” terangnya yang mengatakan bahwa khusus pantun pusaka tidak boleh ada 1 katapun yang tidak sesuai.

Berdasarkan kenyataan tersebut, pelaku budaya Tanjungpinang berharap ada upaya lebih yang dilakukan oleh pihak sekolah dalam mengokohkan kembali pilar-pilar budaya Melayu sejak dini.(YOAN)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here