NJOP Naik, PBB Batam Membengkak

0
1423
Pelebaran jalan: Pembangunan drainase dan pelebaran jalan di Nagoya beberapa waktu lalu. F-martua/tanjungpinang pos

Dari Rp3 Juta Jadi Rp10 Juta

Batam – Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) Batam dari sektor pajak bumi bangunan (PBB) Perdesaan dan Perkotaan yang naik.

Kenaikan ini karena adanya peningkatan jumlah wajib pajak. Kenaikan itu juga karena Pemko merencanakan penyesuaian Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), sehingga secara sendirinya akan menaikkan nilai PBB. Tapi, kenaikan juga ditegaskan tidak ada sampai 3 kali lipat.

Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Kota Batam, Azmansyah, mengatakan, mereka punya perhitungan dengan penyesuaian pajak. Pihaknya punya perhitungan dari jumlah wajib pajak di Batam. Kenaikan target tahun ini sekitar Rp2 miliar dibanding tahun lalu. Pada 2016 lalu, realisasi pajak sekitar Rp114 miliar dan tahun ini ditarget Rp131 miliar.

”Target itu perhitungannya sudah mengacu pada rencana penyesuaian tarif dan ada penambahan wajib pajak. Kita juga lakukan penyesuaian NJOP tahun 2013 lalu,” katanya, Rabu (29/3).

Diingatkan, penyesuaian NJOP karena ada kenaikan harga jual, sehingga PBB juga naik. Seperti di daerah Nagoya, harga per meter sebelumnya Rp3 juta menjadi Rp 10 juta per meter.

”Jadi ada penyesuaian NJOP. Sehingga kewajiban naik secara variatif. Bukan naik tiga kali lipat,” katanya.

Pernyataan senada disampaikan Wali Kota Batam, HM Rudi sebelumnya. Pemko Batam melakukan penyesuaian terhadap NJOP. Tapi untuk besaran tarif dalam persentase, diakui tidak ada perubahan.

Demikian disampaikan Wali Kota Batam, Rudi. Disebutkan, Pemko melakukan penyesuaian tarif PBB terutama di ruas jalan yang dilebarkan.

”Dampak dari ruas jalan yang kami lebarkan, nilai jual objek pajak (NJOP) naik, maka pajak naik,” kata Rudi.

Rudi mencontohkan, jika NJOP bangunan di Nagoya sebelum pelebaran jalan sekitar Rp1 miliar, sekarang menjadi Rp5 miliar, maka dengan sendirinya PBB naik. Sehingga, ke depan peningkatan pendapatan dari sektor PBB yang naik itu, bukan dari tarif yang naik, namun dari penyesuaian kenaikan nilai jual.

”Jadi dilakukan penyesuaian, bukan naik. Menyesuaikan harga pasar,” beber Rudi.

Rudi mengatakan, perluasan jalan di Batam untuk mengurai macet dan membangun Batam, benar-benar menjadi kota metropolitan.

Di mana tahun ini, Pemko melakukan pelebaran tujuh ruas jalan. Mulai dari simpang BNI sampai fly over, simpang Telkomsel sampai simpang kolekta, selanjutnya dari simpang telkomsel sampai underpass, dan yang terakhir di tanah longsor khusus simpang frengky sampai underpass di bantu dana dari Pemerintah Propinsi.

”Bisa bayangkan simpang Frengky sampai underpass terbagus jalan tersebut jalan lebar sekali akan dijadikan percontohan bisa sampai 50 meter lebarnya. Dampaknya, akan ada penyesuaian tarif pajak bumi dan bangunan, terutama di ruas jalan yang dilebarkan,” kata Rudi.

Pendapatan Batam dari sektor PBB di perdesaan dan perkotaan, mencapai 101,14 persen. PBB-P2 targetnya Rp 107,706 miliar dan realisasi Rp 108,939 miliar.

Pernyataan itu menjawab tudingan Ketua Apindo Kepri, Cahya, yang menyebutkan NJOP akan dinaikkan Pemko Batam.(Martua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here