Oh… Rohingya, Nasibmu!

0
611
Dian Fadillah, S.Sos

Oleh: Dian Fadillah, S.Sos
Pemerhati Sosial

Rohingya menjadi trend topic dunia. Cerita yang membuat mata terbelalak, telinga terentak dan hati menangis. Ceirta duka yang menyayat hati jauh dari rasa kemanusian dipertontonkan malahan ada yang dibunuh dan diperkosa secara biadab. Dimana rasa kemanusian kita kalau sesama manusia tidak sedikitpun terusik dengan tontonan di depan mata itu. Dunia dan senatero media televisi radio sampai kalangan kedai kopi rata-rata mengutuk perlakuan itu kepada kaum Rohingya. Myanmar sebagai negara asal cerita dan derita “Rohingya” merupakan sebuah kelompok etnis Indo-Arya dari Rakhine (juga dikenal sebagai Arakan, atau Rohang dalam bahasa Rohingya) di Burma.

Rohingya sebagai etno-linguistik yang berhubungan dengan bahasa bangsa Indo-Arya di India dan Bangladesh (berlawanan dengan mayoritas rakyat Burma yang Sino-Tibet) dan menggunakan bahasa Rohingya sebagai bahasa negara dan komunikasi sehari-hari.

Menurut catatan sejarah yang penulis baca bahwa Komunitas Muslim ini telah mendiami wilayah Arakan (nama kuno Rakhine) sejak masa pemerintahan seorang raja Buddhis “Narameikhla atau Min Saw Mun” (1430–1434) di kerajaan Mrauk U. Setelah diasingkan selama 24 tahun di kesultanan Bengal, Narameikhla mendapatkan tahta di Arakan dengan bantuan dari Sultan Bengal saat itu. Kemudian ia membawa serta orang-orang Bengali untuk tinggal di Arakan dan membantu administrasi pemerintahannya terbentuk. Saat itu kerajaan Mrauk U berstatus sebagai kerajaan bawahan dari kesultanan Bengal sehingga Raja Narameikhla menggunakan gelar dalam bahasa Arab termasuk dalam nama-nama pejabat istananya dan memakai koin Bengal yang bertuliskan aksara Arab Persia pada satu sisinya dan aksara Burma pada sisi lainnya sebagai mata uangnya. Setelah berhasil melepaskan diri dari kesultanan Bengal, para raja keturunan Narameikh. la tetap menggunakan gelar Arab tersebut dan menganggap diri mereka sebagai sultan serta berpakaian meniru sultan Mughal.

Mereka tetap mempekerjakan orang-orang muslim di istana dan walaupun beragama Buddha, berbagai kebiasaan muslim dari Bengal tetap dipakai. Pada abad ke-17 populasi muslim meningkat karena mereka dipekerjakan dalam berbagai bidang kehidupan. Suku Kamein, salah satu etnis Muslim di Rakhine yang diakui pemerintah Myanmar saat ini, adalah keturunan bermigrasi ke Arakan akan tetapi kerukunan dan keharmonisan ini tidak berlangsung lama karena pada tahun 1785 kerajaan Burma dari selatan menyerang dan menguasai Arakan; mereka menerapkan politik diskriminasi dengan mengusir dan mengeksekusi orang-orang muslim Arakan. Pada tahun 1799 sebanyak 35.000 orang Arakan mengungsi ke wilayah Chittagong di Bengal yang saat itu dikuasai Inggris untuk mencari perlindungan. Orang-orang Arakan tersebut menyebut diri mereka sebagai Roinya (penduduk asli Arakan), yang kemudian dieja menjadi Rohingya saat ini. Selain itu, pemerintah kerajaan Burma saat itu juga memindahkan sejumlah besar penduduk Arakan ke daerah Burma tengah sehingga membuat populasi wilayah Arakan sangat sedikit ketika Inggris menguasainya. Cerita berlanjut memasuki tahun 1826 wilayah Arakan diduduki oleh Inggris pasca perang Inggris-Burma I (1824-1826). Waktu itu Inggris menerapkan kebijakan memindahkan para petani dari wilayah yang berdekatan ke Arakan yang saat itu sudah ditinggalkan, termasuk orang-orang Rohingya yang sebelumnya mengungsi dan orang-orang Bengali asli dari Chittagong. Saat itu wilayah Arakan dimasukkan dalam daerah administrasi Bengal sehingga tidak ada batas internasional antara keduanya dan migrasi penduduk di kedua wilayah itu terjadi dengan mudah. Pada awal abad ke-19 gelombang imigrasi dari Bengal ke Arakan semakin meningkat karena didorong oleh kebutuhan akan upah pekerja yang lebih murah yang didatangkan dari India ke Burma. Seiring waktu jumlah populasi para pendatang lebih banyak daripada penduduk asli sehingga tak jarang menimbulkan ketegangan etnis.

Permasalahan Imigrasi pada tahun 1939 konflik di Arakan memuncak sehingga pemerintah Inggris membentuk komisi khusus yang menyelidiki masalah imigrasi di Arakan, namun sebelum komisi tersebut dapat merealisasikan hasil kerjanya, Inggris harus hengkang dari Arakan pada akhir Perang Dunia II pada saat Jepang menyerang Burma dan mengusir Inggris dari Arakan yang kemudian dikenal sebagai “Rakhine”. Pada kekosongan kekuasaan kekerasan antara kedua kelompok suku Rakhine yang beragama Buddha dan suku Rohingya yang beragama muslim semakin meningkat apalagi dipersenjatai oleh Inggris untuk membantu Sekutu untuk mempertahankan wilayah Arakan dari Jepang yang akhirnya pemerintah Jepang marah dan melakukan penyiksaan, pembunuhan dan pemerkosaan terhadap orang-orang Rohingya dan Selama masa ini puluhan ribu orang Rohingya mengungsi keluar dari Arakan menuju Bengal. Kekerasan yang berlarut juga membuat orang Burma, India dan Inggrispun ikut melakukan pengungsian sampai saat ini.

Sekarang bagaimana dengan kita yang ada di Indonesia yang karena berkat-Nya sebagai negara yang masih aman harusnya bersyukur. Kita sebagai sesama umat manusia yang diciptakan oleh Allah swt dan sebagai sesama umat beragama tentunya menaruh keprihatinan tinggi . Indonesia sebagai negara yang mayoritas Islam meskipun bukan negara Islam sudah melakukan upaya upaya secara internal melakukan doa bersama dan mengumpulkan donasisekaligus mengutuk keji perbuatan itu dan berharap pengungsi Rohingya mendapatkan kehidupan terbaik dan didoakan diberikan kesabaran tinggi agar dapat dapat menerma cobaan ini serta yakinlah Allah itu sebagai pencipta yang tidak pernah tidur. Dia akan memperlihatkan kekuasan-Nya kepada manusia yang jahat kepada manusia lain. Orang dewasa remaja dan anak anak terlantar dan dizalimi oleh orang lain. Kita tidak akan membiarkan hal itu terjadi karena akan membuat kebiadaban atas nama kemansian terlepas apakah itu berisikan unsur agama suku ras dan etnik mendominasi masalah. Eta Terangkanlah Rohingya ….. Kita berdoa yang terbaik untuk Rohingya dan semoga Allah swt menurutkan tangan tangan tak terlihatnya dalam membantu .. Indonesia Save untuk Rohingya …..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here