Om, Laut Bukan Tong Sampah, Om!

0
1243
Rindi Afriadi

Oleh: Rindi Afriadi
Delegasi Kepri di Kegiatan Indonesian Youth Marine Debris Summit 2017

Sungguh kegiatan Indonesian Youth Marine Debris Summit 24-29 Oktober 2017 di Jakarta bukan hanya sekedar kegiatan lima hari saja. Akan tetapi mampu membuat saya menjadi semakin cinta terhadap lingkungan dan sangat takut merusak lingkungan. Saya menemukan cerita yang sangat menyedihkan bahwa Persoalan sampah laut di Indonesia seakan tidak pernah berhenti. Upaya pemerintah untuk mengatasi sampah terus berlanjut. Beragam program untuk membersihkan nama Indonesia sampai hari ini dari sebutan “Negara penyumbang sampah” terus dilakukan.

Persoalan sampah di Indonesia telah menjadi sorotan berbagai pihak. Setelah terpublikasinya penelitian oleh Jenene Jambeck seorang peneliti asal Amerika, mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara yang termasuk dalam kategori penyumbang sampah laut nomor dua di dunia yakni dengan menyumbang 1.3 juta ton sampah ke lautan dunia setiap tahunnya.

Masalah sampah ini menjadi bahan diskusi menarik di semua kalangan. Selain menimbulkan korban jiwa, kerugian material, juga berdampak buruk pada lingkungan, sampah membuat nama baik Indonesia ternodai dan dikenal sebagai negara yang tidak bersih.

Sampah plastik merupakan tipe sampah laut dominan (CBD-STAP 2012). Plastik merupakan polimer organik sintetis dan memiliki karakteristik bahan yang cocok digunakan dalam kehidupan sehari-hari (Derraik 2002). Menurut Kemenperin (2013), sekitar 1.9 juta ton plastik diproduksi selama tahun 2013 di Indonesia dengan rata-rata produksi 1.65 juta ton/tahun. Thompson (2006) in Cauwenberghe et al. (2013) memperkirakan bahwa 10% dari semua plastik yang baru diproduksi akan dibuang melalui sungai dan berakhir di laut. Hal ini berarti sekitar 165 ribu ton plastik/tahun akan bermuara di perairan laut Indonesia.

Baca Juga :  Berbalas Budilah Terhadap Lingkunganmu

Permasalahan sampah laut di Indonesia menjadi masalah klasik yang belum terselesaikan karena kesadaran masyarakat yang masih kurang terhadap sampah dan sikap serta presepsi masyarakat yang masih rendah terhadap laut indonesia serta dan penting-nya kebersihan lingkungan. Sampah-sampah tersebut umumnya berasal dari kegiatan didarat dimana perilaku membuang sampah sembarangan baik berupa botol minuman maupun kotak-kotak plastik makanan masih terus dilakukan. Disamping itu juga sampah kiriman dari negara lain yang terbawa arus dan sampah dari sarana wisata baik di wilayah pesisir maupun pembuangan limbah rumah rangga dari cottage, hotel, home stay bahkan dari rumah-rumah penduduk. Semuanya bermuara ke laut antara lain berupa deterjen dan limbah lainnya.

Ini adalah masalah yang ada di Indonesia lalu bagaimana dengan Provinsi Kepulauan Riau yang memiliki luas wilayahnya sebesar 8.201,72 Km2, sekitar 95% wilayahnya adalah lautan apakah sampah laut sudah menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah khususnya ?

Kita bisa melihat bersama-sama bahwa masih banyak-nya sampah laut di daerah Provinsi Kepulauan Riau khusus-nya daerah-daerah pesisir begitu banyak sampah plastik dibawah kolong rumah masyarakat pesisir dan di magrove laut Provinsi Kepulauan Riau belum menjadi sorotan bagi pemimpin dan pemerintahan tanah gurindam ini.

Baca Juga :  Hiruk Pikuk Tahun Politik dan Ancaman Nonmiliter

Melihat fenomena sampah di sekitar kita, tentunya menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk menyelesaikannya. Langkah yang paling penting untuk dilakukan adalah menumbuhkan perilaku cinta lingkungan kepada masyarakat khususnyabagi pemimpin dan pemerintahan tanah gurindam ini. Untuk menumbuhkan perilaku ini tentu tidak bisa jika hanya dilakukan oleh satu pihak saja. Ada pihak yang harus bahu membahu bertanggung jawab agar kesadaran untuk mencintai lingkungan tumbuh, khususnya tidak menyepelekan sampah.

Salah satunya ialah Pemerintah, pemerintah seharusnya bisa melakukan pendekatan hukum kepada mereka yang tidak menjaga lingkungan. Singapura saja sebagai negara tetangga sudah tegas memberikan sanksi kepada warganya yang membuang sampah sembarangan, lalu kenapa Provinsi Kepulauan Riau tidak bisa? Pemerintah bisa melakukan sosialisasi aturan dan penegakan hukum secara terus menerus dibarengi dengan contoh edukatif sehingga masyarakat paham akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir yaitu pada fase produk sudah digunakan sehingga menjadi sampah, yang kemudian dikembalikan ke media lingkungan secara aman supaya memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat.

Baca Juga :  Adab di Era Milenial

Terdapat dua cara dalam mengelola sampah dengan paradigma baru yaitu kegiatan pengurangan dan penanganan sampah. Pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan, penggunaan kembali, dan pendauran ulang, sedangkan kegiatan penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir (Penjelasan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008).

Cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mengelola sampah baik adalah dengan memilah sampah. Memilah sampah dapat dilakukan dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Antara sampah yang cepat membusuk dengan sampah yang sulit membusuk. Jenis sampah organik diantaranya sayuran, buah, sisa makanan, dedaunan, rumput, ranting, dan lain-lain. Sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kaca, kertas, kardus, dan logam.

Sampah organik dapat dijadikan pupuk kompos. Pembuatannya pun bisa dilakukan sendiri. Namun jika tidak mempunyai peralatan yang memadai, sampah organik dapat diserahkan kepada pengrajin kompos, yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk kebun, taman rumah, atau tanaman-tanaman dalam pot.

Apakah ini sudah berjalan di Tanah Gurindam Provinsi Kepulauan Riau? ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here