Orangtua Siswa Bisa Jadi Irup

0
45
DARI kanan, Sri Sumarlini, Ade Angga Wakil Ketua I DPRD Kota Tanjungpinang, Indra guru sekolah stau atap Madong saat diskusi di TK Bunga Raya Sekolah Satu Atap Madong, Senin (11/3). f-martunas/tanjungpinang pos

Disdik Dorong Bentuk Paguyuban Kelas di Sekolah

Menjadi seorang inspektur upacara (Irup) di sekolah-sekolah tidak hanya berlaku untuk kepala sekolah, guru, kepala daerah, FKPD (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah), anggota dewan maupun pejabat lainnya. Namun, orangtua siswa juga bisa menjadi Irup di sekolah-sekolah.

TANJUNGPINANG – KEPALA Bidang (Kabid) Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Nonformal (PNF) Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang, Sri Sumarlini mengatakan, apabila ada orangtua siswa yang hendak menjadi Irup di sekolah-sekolah, maka bisa menyampaikannya kepada pihak Disdik Kota Tanjungpinang. Selanjutnya, Disdik yang akan menjadwalkan dan mengkoordinasikannya dengan sekolah-sekolah.

”Bisa. Orangtua juga bisa jadi irup. Kita mendorong peran orangtua makin banyak dalam memajukan dunia pendidikan,” ujar Sri kepada Tanjungpinang Pos saat meninjau TK Bunga Raya Satu Atap Madong, Senin (11/3) lalu.

Dijelaskannya, Dinas Pendidikan telah mendorong agar sekolah-sekolah membentuk paguyuban sekolah dan paguyuban kelas. Paguyuban ini dibentuk oleh orangtua siswa.

Untuk paguyuban kelas misalnya, ada beberapa orangtua yang membentuk tersendiri lengkap dengan pengurus baik ketua, sekretaris bendahara.

Saat ini, kata dia, sudah banyak sekolah-sekolah di Tanjungpinang yang membentuk paguyuban tersebut. Peran mereka cukup banyak dalam membantu pihak sekolah.

”Paguyuban kelas beda dengan komite sekolah. Kalau komite sekolah itu secara keseluruhan di satu sekolah. Kalau paguyuban kelas, khusus per kelas,” terangnya lagi.

Wakil Ketua I DPRD Kota Tanjungpinang Ade Angga mengatakan, dirinya juga sudah merasakan manfaat paguyuban kelas di SDIT As-Sakinah Tanjungpinang. Sebagai orangtua, ia juga masuk menjadi anggota paguyuban orangtua kelas.

Adapun tujuan pembentukan paguyuban kelas ini untuk meningkatkan peran serta orangtua dalam pendidikan anaknya sekolah. Ade Angga mengatakan, paguyuban adalah perkumpulan orangtua atau wali murid untuk bekerja sama meningkatkan mutu pendidikan anak.

Pembentukan paguyuban mendapatkan dukungan, serta respon yang baik dari pihak sekolah serta komite sekolah untuk substansi pelaksanaan pembelajaran di kelas. Manfaat bagi wali murid adalah saling mengenal, bersilaturahmi, memberikan masukan. Sehingga orangtua lebih kompak untuk ikut memikirkan kebutuhan sekolah itu.

Yang dinamakan pendidikan keluarga, di dalam paguyuban dibentuk juga kelas inspirasi. Dengan demikian, jika ada orangtua siswa yang memiliki usaha atau bisnis yang sukses, sehingga mampu mendorong orangtua lainnya mengikuti jejaknya.

Kelas orangtua merupakan perkumpulan orang tua wali murid dalam kelas tersebut. Nantinya, bisa saling berbagi pengalaman dan usaha mendidik anak di rumah.

Di kelas, orangtua inilah para wali murid membicarakan isu-isu yang mungkin santer terdengar di masyarakat. Hal itu bertujuan untuk mencegah terjadinya isu negatif dan membangun karakter orangtua untuk peduli pendidikan.

Kualitas pembelajaran yang diperoleh oleh anak-anak di sekolah bukan hanya tanggung jawab kepala sekolah dan guru, namun menjadi tanggung jawab orangtua juga.

Sebaik apapun pelajaran yang diperoleh para siswa, jika tidak ada keberlanjutannya saat di rumah, maka hasil pembelajaran yang didapatkan oleh anak-anak pun tidak akan optimal.

Maka diperlukan kerja sama antara pihak sekolah dan orangtua siswa. Orangtua sebagai bagian dari ekosistem pendidikan memiliki peran yang penting dalam proses pembelajaran di sekolah.

Di sekolah memang sudah ada komite sekolah yang biasanya beranggotakan beberapa orangtua siswa. Oleh karena itu, untuk menjembati komunikasi antara pihak sekolah dan orangtua siswa yang langsung berkaitan dengan substansi pendidikan dan teknis pembelajaran, seyogianya dapat dibentuk forum atau paguyuban orangtua siswa sebagai wujud nyata upaya untuk turut aktif terlibat dalam bidang pendidikan sebagai bagian dari ekosistem.

Tujuan paguyuban, agar sesama orangtua siswa saling mengenal lebih dekat, menumbuhkan rasa persaudaraan dan solidaritas di antara orangtua siswa, sehingga ada kesempatan bagi mereka untuk bertemu dan mendiskusikan banyak hal untuk perbaikan dan kemajuan sekolah.

Dengan cara ini, pihak sekolah tidak merasa sendirian, tapi memiliki partner atau teman untuk bersama-sama saling memajukan sekolah. Dengan demikian upaya meningkatkan kualitas pengajaran dan pendidikan merupakan kerja-kerja kreatif yang bersifat partisipatif dan kolaboratif.

Pendidikan dengan cara pandang seperti ini tidak lagi menjadi sebatas program, tapi gerakan. Ada perbedaan mendasar antara program dan gerakan. Pendidikan dipandang sebagai program, jika pendidikan dilaksanakan secara parsial oleh sebuah unit pendidikan, misal sekolah. Sedang pendidikan yang didekati sebagai sebuah gerakan meniscayakan keterlibatan semua pemangku kepentingan atau dalam istilah sekarang ‘ekosistem pendidikan’.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here