Organisasi Perempuan Dilatih Tangkal Radikalisme

0
214
narasumber dan peserta foto bersama

TANJUNGPINANG – Para aktivis perempuan di Provinsi Kepri dilatih cara-cara menangkal penyebaran radikalisme dan terorisme di kalangan masyarakat melalui pendekatan lunak. Acara pelatihan ini digelar BNPT dan FKPT Kepri di Hotel CK Tanjungpinang, Kamis (16/5).

Dalam kegiatan yang bertema “Perempuan Agen Perdamaian” ini panitia menghadirkan dua pembicara yakni Muhammad Lutfi, S.Ip., M.Si dari Kasi Pemulihan Korban BNPT, dan Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Kepri Misni.

Menurut Sekretaris FKPT Kepri Drs. Indra Syaputra saat pembukaan, selama ini banyak perempuan menjadi korban konflik, hingga semua harus bisa mengupayakan pendidikan bagi perempuan sebagai pendidik keluarga.

Menurut Indra, perempuan perlu dilibatkan dalam pencegahan teroris dan radikalisme ini karena perempuan mampu menyuntikkan nilai-nilai perdamaian dan toleransi.

“Peran pelibatan perempuan sangat penting karena umumnya perempuan taat kepada suaminya, hingga bisa menepis ajakan-ajakan radikal yang bisa saja dilakukan oleh suami kepada istrinya,” sebut Indra.

Selain itu, para Ibu juga memiliki waktu yang lebih banyak bersama anaknya dibandingkan ayahnya hingga kaum ibu merupakan orang yang cocok untuk dilibatkan dalam pencegahan teroris.

Menurut Indra, kasus bom sudah banyak terjadi di Indonesia hingga pemutusan mata rantai radikalisme tidak bisa berjalan hanya dipusat saja namun mesti dilakukan serentak.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Peremouan dan Anak Misni, S.Km., M.Si menyebutkan, pada kasus teroris yang beberapa kali di Indonesia, wanita dan anak merupakan korban dari teror itu sendiri meski mereka terlibat sebagai pelaku.

“Anak anak dan perempuan tidak akan mau ikut hal hal yang membahayakan itu tanpa bujukan suami atau pihak lain. Jadi, tetap saja anak dan perempuan menjadi korban. Dalam Beberapa studi menyatakan selalu ada hubungan antara terorisme dan radikalisme; Kerentanan terorisme dapat menjadi humus dalam perkembangan radikalisme dan terorisme dan perempuan selalu memiliki kolerasi yang signifikan terkait dengan radikalisme danbterorisme,” kata Misni.

Orang tua, sambung Misni mesti terus memantau pertumbuhan anak-anaknya. “Saat anak mengurung diri di kamar, mesti diajak komunikasi untuk mencari jalan keluar dari masalah yang kemungkinan sedang dialami oleh dianak,” sebutnya. (jek)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here