Otak dan Bangsa yang “Merdiko”

0
190
Drs.H.Nazaruddin.,MH

Oleh : Drs.H.Nazaruddin.,MH
Dosen STAI Miftahul Ulum Tanjungpinang
Ketua Koperasi Cendikia Cemerlang Negeri ICMI Orda Kota Tanjungpinang

Kalau Anda orang Jawa, tentu mengerti kata “Merdiko”, bahasa Jawa yang diserap dari bahasa kawi (Sansekerta) “Mahardhika” yang artinya sangat bijaksana, sangat kuat, dan sangat kaya. Kata ini merupakan gambaran tentang manusia paripurna yang merdeka dan terbebas dari kelemahan, bebas dari kemiskinan. Menjadi manusia yang merdeka berarti harus terbebas dari kebodohan, kelemahan, dan kemiskinan, serta memiliki kekuasaan untuk menentukan masa depannya sendiri.

Konotasi ini, jika ditarik kemakna yang lebih tinggi dalam konteks negara, akan memberikan gambaran yang hadirnya Negara mereka yang dikelola secara bijaksana sehingga mampu memanfaatkan potensi sumber daya manusianya menuju kemerdekaan sejati. Karena itu, negara harus memiliki kekuasaan, ketangguhan, kemandirian, dalam menguasai dan menentukan masa depan bangsanya. Negara tidak boleh tergantung apalagi takluk pada kekuatan yang berasal dari bangsa lain.

Apakah kita memiliki kesadaran untuk sekedar bertanya pada diri sendiri, dari manakah kemerdekaan itu berasal? selama ini kita terjebak dogma pemikiran bahwa kemerdekaan itu sesuatu yang berasal dari luar diri manusia, adanya dalam ranah publik, yang tatarannya adalah urusan negara. Selama kedaulatan negara terjaga, berbagai bentuk pelecehan dan pelanggaran atas hak-hak individu atau kelompok tertentu dalam negara, adalah hal-hal biasa yang bisa ditolerir. Kemerdekaan negara di baiat menjadi keutamaan yang nilainya lebih sacral dan suci daripada kemerdekaan individu. Cara pandang inilah yang melanggengkan tirani kekuasaan negara atas rakyatnya, melahirkan seorang pemimpin yang lebih cinta jabatannya melebihi rasa keadilan rakyat yang dipimpinnya.

Kini saatnya pemikiran dogmatic atas hakekat kemerdekaan itu harus kita koreksi. Harus kita posisikan pada esensi kemerdekaan yang sejatinya sesuai fitrah manusia. Sudah bukan zamannya kita berfikir bahwa kemerdekaan itu berada dalam genggaman kekuasaan negara. Era hari ini adalah era dimana kemajuan ilmu pengetahuan telah memberikan banyak sumbangsih berharga yang pada dimensi tertentu memiliki pengaruh besar dalam mengubah arah pembangunan suatu negara. Termasuk dalam hal ini adalah sumbangsih pengetahuan yang diberikan oleh nevrocience.

Berbagai penemuan menyatakan bahwa kehendak bebas individu yang merupakan esensi dari kemerdekaan manusia pada hakekatnya terletak pada otak manusia, pada bagian yang disebut Neocortex pada korteks prefrontal otak depan manusia. Bagian otak inilah yang bertanggungjawab atas berbagai kemenangan besar sejarah peradaban bangsa-bangsa dalam memerdekakan diri dari genggaman penjajah. Temuan-temuan inilah yang mendorong Amerika Serikat pada tahun 1990 an mendeklarasikan dengan otak yang dikenal dengan istilah Brain Detade buah dari kebijakan tersebut adalah semakin terjaminnya hak-hak individu dalam masyarakat Amerika yang majemuk. Indikatornya bisa dilihat dari semakin berkurangnya tingkat resistensi masyarakat terhadap negara.

Bangsa yang Merdeka
Prasyarat hadirnya bangsa yang merdeka adalah terbebas dari berbagai belenggu yang mencederai hakikat kemerdekaan itu sendiri, trmasuk terbebas dari campur tangan dan intervensi pihak atas bangsa lain. Soekarno mengistilahkan kemerdekaan itu ibarat sebuah jembatan emas, merdeka adalah keberanian untuk melepaskan diri dari penjajahan yang hadir dalam segala bentuk, yang tujuannya adalah memerdekakaan rakyat itu sendiri. Tan Malaka merangkum dalam satu ungkapan “Merdeka 100 Persen”

Untuk secara total menghadirkan sebuah bangsa yang merdeka, tentu harus dimulai dari hadirnya pemerintahan yang merdeka. Mustahil kemerdekaan sebuah bangsa bisa mewujud dalam pemerintahan yang terjajah dan puncak dari pemerintahan yang merdeka tentu saja ada pada diri kepala Negara. Presiden harus memiliki kesadaran yang utuh dan menjiwai hakikat kemerdekaan sebuah bangsa, serta memahami bahwa sejatinya kemerdekaan terletak pada kemerdekaan masing-masing individu di dalamnya.

Presiden harus menjamin terealisasinya kemerdekaan masing-masing individu dalam masyarakat yang dipimpinnya. Negara tak bisa lagi membungkam kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat yang melekat pada masing-masing individu. Negara tak boleh kehilangan akal sehat dengan bersikap reaktif membubarkan paksa aksi-aksi protes dengan unjuk rasa yang dilakukan rakyatnya. Pemerintak tak boleh menggunakan insting hingga bersikap tidak rasional dengan membungkam setiap sara kritis yang melintas ditelinga kekuasaan. Masyarakat harus bebas berekspresi, bebas menyatakan pendapat, dan Negara hadir menjamin semua kemerdekaan itu melalui system penegakan hokum yang adil. Dalam konteks ini, kemerdekaan Negara berasa dalam kedudukan yang setara dengan kemerdekaan individualnya. Dalam iklim demokrasi yang seperti ini, demonstrasi besar-besaran yang bertujuan menggulingkan rezim kekuasaan pada suatu Negara, mustahil bisa terjadi.

Belajar dari sejarah
Ingat revolusi Prancis yang berlangsung pada abad ke 18? setelah kekuasaan Feodalisme berhasil diruntuhkan, kaum berjouis berhasil memegang kendali dan berada di lingkaran ini kekuasaan. Rakyat berhasil lepas dari jeratan eksploitasi yang menindas oleh kaum bangsawan kerajaan, tapi setalh itu rakyat kembali ditindas oleh kelompok borjois. Ibarat lepas dari mulut harimau dan masuk kemulut buaya. Oleh karena itu, untuk bisa menghadirkan negara “Merdiko” terlebih dahulu, presiden selaku kepala negara haruslah “Mahardhika”, harus memiliki kesadaran tentang hakekat kemerdekaan itu sendiri. Kesadaran kemerdekaan yang menuntut adanya tanggungjawab sikap manusiawi dan kepedulian terhadap rasa keadilan rakyatnya yang melebihi kepedulian atas diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Setelah itu tentu saja rakyatnya harus juga “Merdhiko” dan akibatnya kekuasaan negara akan menjadi liar dan tak terkontrol, yang ujungnya gaduh, rusuh dan kacau. Dalam kondisi seperti itu, negara dan rakyat sama-sama kehilangan kemerdekaannya. Sekali lagi presiden harus melakukan introspeksi. Pahami apa kebutuhan mendasar bangsa ini. Untuk apa sejatinya kemerdekaan ini kita isi. Belajarlah kepada ajaran-ajaran Soerkarno yang intinya sangat mewanti agar negara senantiasa berpihak pada rakyat kecil. Jika rakyat kecil hanya selalu dijadikan embel-embel bangsa, negara tak ubahnya seperti para kolonialis atau imperials.

Merdeka, tapi sejatinya terjajah. Merdeka tetapi sejatinya kemerdekaan tetap berpihak pada kaum borjoouis dan para pemilik modal yang kecil dan lemah lambat laun terpinggirkan, sementara yang kuat dan kaya semakin menancapkan dominasinya pada kondisi yang seperti itu, letupan-letupan perlawanan tak bisa dielakkan. Selamat menjadi presiden Indonesia. Semoga bermanfaat. Amien. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here