Pabrik Rumput Laut Sia-sia Dibangun

0
712
Pabrik pengelolaan rumput laut di Bunguran Utara Natuan yang tidak dioperasikan hingga saat ini. F-hardiansyah/tanjungpinang pos

Natuna – Pabrik Pengolahan Rumput Laut di Kecamatan Bunguran Utara Natuna yang dulu pernah dibangun oleh Perusda Natuna diharapkan bisa berjalan sebagaimana mestinya oleh warga setempat.

Pabrik yang dibangun di Desa Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara itu untuk pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ”Semestinya pabrik ini jalan dari dulu agar kita bisa jual rumput laut dengan mudah,” kata Kodri, Warga Bunguran Utara di Ranai, Jumat (23/2).

Terhitung sejak berdirinya beberapa tahun lalu, pabrik tersebut belum pernah dioperasikan sehingga kondisinya sangat memprihatikankan. Gedungnya sudah banyak mengalami kerusakan di berbgai sisi seperti jendela, pintu, dinding, lantai, atap dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Prioritaskan Sarana SMA Pulau Laut

”Bahkan dikabarkan dulu tahun 2012 mesin penggerak di pabrik itu dicuri orang,” tutur Kodri.

Sampai saat ini tak ada satupun aktivitas industri maupun pengamanan di sekitar kawasan tersebut sehingga banyak orang prihatin dengannya. ”Tak ada pengamanan atau kegiatan apapun di sana. Mungkin hantu aja yang tinggal di sana,” sambungnya menuturkan.

Menurutnya sisi industri di Natuna semestinya digalakkan agar Sumber Daya Alam dapat berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

”Seharusnya industri juga masuk dalam program percepatan pembangunan Natuna. Penduduk Natuna semakin ramai dan tidak sedikit di antara mereka yang punya skill dan keinginan bekerja. Mudah-mudahan pada tahun berikutnya keinginan ini bisa dipenuhi pemerintah agar tidak banyak pengangguran,” harap Kodri.

Baca Juga :  Anggaran Pemprov Bikin Jalan Bungut Mulus

Potensi laut Natuna sangat besar. Bukan hanya ikan saja yang berlimpah di sana, namun minyak dan gas bumi juga masih banyak terkandung di perut bumi Natuna, hanya saja, untuk potensi lautnya belum maksimal dikelola.

Seperti ikan misalnya, potensi ikan Natuna ini diperkirakan sekitar Rp 22 triliun setahun, hanya saja baru sekitar 10 persen yang baru dikelola. Hal itu juga yang membuat banyak nelayan luar daerah dan nelayan negara asing yang mencuri ikan di sana. Nelayan setempat tidak bisa memaksimalkan hasil lautnya karena mereka masih menggunakan alat tradisional untuk menangkap ikan. Sehingga nelayan tidak bisa melaut ke laut lepas untuk menanhkap ikan dalam jumlah yang banyak dan ukuran besar.

Baca Juga :  Aset PT Sacofa Dipakai Memperkuat Sinyal

Sedangkan nelayan luar terutama nelayan negara asing yang mencuri ikan di sana datang dengan kapal jumbo dan peralatan yang modern. Mereka juga bisa menangkap ikan di laut lepas dengan hasil yang banyak. (hrd/mas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here