Pacu Ekonomi Lewat Hang Nadim

0
56
Lukita Dinarsyah Tuwo

Rp3,9 Triliun Kembangkan 366 Hektare

Pengembangan Bandara Hang Nadim Batam tahun 2019 akan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi Kepri yang ditargetkan dalam dua tahun bisa 7 persen.

BATAM – BANDARA ini bukan hanya menyediakan sistem transportasi cepat bagi penumpang, juga mendukung konsep besar pengembangan kawasan berbasis Logistics Aerocity, yang sejalan dengan rencana pengembangan berbasis Kawasan Logistik Industri Perdagangan dan Pariwisata (KLIPP).

Untuk itu, Badan Pengusahaan (BP) Batam akan memulai pengembangan Bandara Hang Nadim. Pengembangan direncanakan untuk lahan seluas 366 hektare dengan anggaran sekitar Rp3,9 triliun.

Akan dibangun berbagai fasilitas untuk penumpang. Dengan bertambahnya kapasitas terminal, maka kapasitas dan atau frekuensi penerbangan akan meningkat dan maskapai penerbangan akan bersaing lebih ketat.

Secara otomatis, persaingan ini akan membuat layanan makin baik, harga makin murah sehingga menarik wisatawan baru dan penumpang yang melakukan perjalanan bisnis serta memberikan kesempatan yang lebih besar bagi warga Batam untuk bepergian.

Melalui pengembangan kawasan Bandara Hang Nadim yang berbasis Logistics Aerocity, diharapkan dapat mendukung daya saing nasional melalui penurunan biaya-biaya supply chain.

Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo mengungkapkan, pembangunan konstruksi berupa perbaikan dan perluasan Terminal 1 akan dilakukan pada September 2019 dan selesai pada 2020 yang kemudian dilanjutkan dengan pembangunan konstruksi Terminal 2 dan kargo pada tahun 2021.

Setelah konstruksi perbaikan dan perluasan Terminal 1, baru dilanjutkan untuk Terminal 2. Direncanakan, prakualifikasi Desember 2018 ini, dengan pemenang lelang ditargetkan dapat terpilih pada awal Semester II-2019.

Di Terminal 1 akan dilakukan renovasi, perluasan, pengelolaan dan pemeliharaan terminal penumpang eksisting.

Sementara untuk Terminal 2, pembangunan pengelolaan dan pemeliharaan terminal penumpang baru. Mengembangkan infrastruktur sisi darat, infrastruktur sisi udara pendukung lainnya.

”Relokasi dan pembangunan terminal kargo dan pengembangan rencana induk bandara, kita lakukan dengan konsep Logistics Aerocity,” jelas Lukita.

Lukita mengatakan, pengembangan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan yang mendesak untuk Bandara Hang Nadim.

BP Batam berkomitmen penuh untuk melakukan upaya-upaya percepatan pada keseluruhan jadwal pelaksanaan fasilitas pengembangan proyek dan pendampingan transaksi.

”Sehingga dapat sesegera mungkin memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Batam terhadap peningkatan pelayanan Kebandarudaraan,” ujarnya lagi.

Proyek ini diharapkan memberikan Level of Service optimum (sesuai definisi IATA) bagi para penumpang. Diharapkan Bandara Hang Nadim dapat mengakomodasi pertumbungan penumpang setiap tahunnya.

”Para penumpang akan dapat melewati proses di bandara lebih cepat daripada sebelumnya. Sehingga membantu warga setempat, wisatawan, dan para penumpang yang melakukan perjalanan,” harap Lukita.

”Perluasan terminal kargo dan pembangunan hub logistik NRI dapat membuka peluang baru bagi penyelenggara jasa logistik dan perusahaan-perusahaan perdagangan elektronik,” sambung dia.

Dengan memanfaatkan keunggulan strategis Batam sebagai pusat pertumbuhan ekonomi regional serta kawasan Free Trade Zone, Batam sebagai salah satu penggerak perekonomian nasional.

”Proyek ini dapat membantu Batam mencapai target pertumbuhan PDRB Batam yang ditargetkan sebesar 7 persen dalam dua tahun,” harapnya.

Dukungan pertumbuhan dari proyek ini, peningkatan yang signifikan pada perdagangan, investasi, dan PDB, dengan cara menyediakan transportasi yang cepat. Dapat diandalkan dengan pilihan destinasi yang lebih banyak, frekuensi yang lebih tinggi, dan fleksibilitas jadwal yang lebih besar bagi para investor dan warga.

”Proyek ini diharapkan dapat membantu Batam mencapai target Pertumbuhan PDRB-nya sebesar 7 persen,” katanya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, BP Batam dalam waktu dekat akan segera mengadakan kegiatan penjajakan minat pasar (market sounding).

Penjajakan minat akan dilakukan segera, untuk mengejar terget kontruksi perbaikan dan perluasan terminal 1, September 2019 dan selesai pada 2020.

”Kepada para investor yang berminat untuk proyek ini, baik perusahaan nasional maupun internasional, bisa mendaftar. Ini Proyek KPBU bandara pertama di Indonesia,” ungkapnya.

Proyek ini akan dikembangkan dalam skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan memanfaatkan dana fasilitas pengembangan proyek dan pendampingan transaksi (Project Development Facility).

Dana itu dari Kementerian Keuangan yang dilaksanakan BUMN, PT Sarana Multi Infrastruktur sebagai Badan Usaha Milik Negara.(MARTUA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here