Panggung Kedua Wayang Cecak

0
243
IMAJI - Wayang Cecak

TIDAK lagi. Cukup sekali saja melewatkannya. Padahal, yang satu itu begitu istimewa. Apatah tidak, untuk kali pertama setelah ratusan tahun, wayang cecak kembali dipentaskan. Tapi dasar, dalam diri belum ada kepedulian yang benar. Mudah saja mengesampingkannya.

Maka, ketika akhir pekan lalu, ada panggung kedua, tidak lagi ingin melewatkannya begitu saja. Sayang, pekerjaan seperti tidak kasih permisi. Masih saja ada yang minta diperhatikan sepanjang hari. Sekadar jarak sepeminuman teh dari rumah seketika terasa jadi jauh sekali.

Panggung kedua ini berbeda. Pertengahan tahun lalu, pada awal kali dipentaskan kembali, wayang cecak dipentaskan bersempena Festival Penyengat Syawal Serantau. Orang-orang dari luar kota dan Penyengat sama berebut tempat ingin menyaksikan kesenian tradisional yang nyaris punah ini. Tak ayal riuh sekali. Namun, yang kemarin itu, sengaja dipentaskan lagi untuk kebutuhan syuting sebuah acara televisi nasional. Ah, mengapa tidak. Setidaknya, pementasan ini akan mengobati penyesalan melewatkannya pada kesempatan pertama.

Satu hal. Yang membuat terkesima, wayang cecak ini diiringi alunan musik seperti biola, akordion, gendang, dan gong sampai cerita berkahir. Khas sekali kental dengan nuansa Melayu.

Dulu wayang cecak ini dimainkan untuk anak-anak Tionghoa yang kaya dan tiada begitu menyebar di tengah-tengah masyarakat.

Bersyukur setelah pertunjukan kami dapat belajar bersama dalang untuk mengetahui cara memainkan boneka yang digunakan dalam pewayangan. Sungguh, kesempatan emas yang mengobati kerinduan sepanjang tahun.***

NURFATILLA AFIDAH,
Gadis yang lahir dan tumbuh besar di Penyengat.
Menyukai jalan-jalan dan icip-icip.
Intip galerinya di akun Instagram @ilooot.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here