Paradigma Masyarakat Terkait Generasi Micin dan Kids Zaman Now

0
1784
Burhan Latif

Oleh: Burhan Latif
Anggota KAMMI Komisariat G12 Tanjungpinang Mahasiswa Akuntansi, Fakultas Ekonomi, UMRAH Tanjungpinang

“Kids Zaman Now”. Istilah ini sebenarnya merupakan guyonan untuk menyikapi kelakuan aneh dan tidak wajar dari anak zaman sekarang tapi oleh mereka dianggap lazim.

Dari segi bahasa, ‘Kids’ dan ‘Now’ merupakan kata yang berasal dari Bahasa Inggris. Kids artinya anak-anak, dan Now adalah sekarang. Yang menjadi aneh, kedua kata Inggris tersebut justru digabungkan ke dalam satu kalimat dengan kata ‘Zaman’ yang berasal dari Bahasa Indonesia.

Tapi inilah yang membuatnya jadi lucu. Kids Zaman Now, maksudnya adalah anak-anak zaman sekarang. Kata ini kian marak digunakan, bahkan pada headline sebuah portal berita, salah satunya adalah seperti “Kelakuan nyeleneh kids zaman now.” Atau postingan di sosial media yang memperlihatkan anak kecil sedang berpacaran dengan caption-nya “Kids zaman Now.”

Micin atau Monososdium Glutamat (MSG) yaitu penyedap rasa yang sering digunakan untuk memasak sebagai penambah dan penguat cita rasa, dan pastinya selalu dipakai oleh ibu-ibu dan abang-abang Pak Lek penjual bakso.

Lalu sebenarnya apakah benar banyak mengonsumsi micin itu bikin kita bodoh? Paradigma yang muncul di masyarakat ternyata salah! Micin mengandung zat yang sering disebut dengan Glutamat, Glutamat merupakan Asam Amino yang dibutuhkan oleh tubuh yang berperan penting membentuk protein.

Baca Juga :  Mendambakan Keadilan Sosial

Yang fungsinya mengirim sinyal-sinyal dalam otak dan juga membantu fokus ingatan serta konsentrasi. Nah, ternyata anggapan kita selama ini tentang mecin salah kan? Memang Glutamat yang diproduksi micin tidak dihasilkan dari proses alami melainkan buatan mesin pabrik, Micin dalam kemasan biasanya terbuat dari tetes tebu dan tapioka yang di fermentasi dengan mikroba.

Kemudian apabila kids zaman now mengkonsumsi micin, apakah tidak diperbolehkan? Menurut World Health Organization (WHO) Micin akan aman dikonsumsi jika tak melebihi 6 gram per hari dan ternyata orang Indonesia hanya mengonsumsi sebanyak 0,65 gram, jauh dari batas maksimal yang ditentukan.

Dalam wawancara ahli gizi dari University of Sydney, Leona Victoria Djajadi, ia mengatakan jika “mengkonsumsi mecin tak akan membuat seseorang menjadi bodoh”. Lalu masikah anda berpikir kebanyakan mengonsumsi micin bisa menyebabkan kebodohan, terutama jika dikonsumsi oleh anak-anak dalam masa pertumbuhan? Sepertinya anggapan dan paradigma kita salah selama ini.

Mungkin penyebab anak-anak terlihat bodoh, terutama kids zaman now yang sering dikaitkan dengan generasi micin yaitu rusaknya pergaulan, kemudian mereka bergaul sudah keluar dari frame pergaulan yang sebenarnya.

Baca Juga :  Pungli Mengakar di Semua Lini

Usia tidak menjadi penghalang untuk bergaul bagi mereka, tak punya etika dan lain sebagainya yang sedang marak sekarang ini bersumber dari pergaulan bebas dan kurangnya peran orang tua dalam mendidik dan mengawasi anak-anaknya.

Dan mungkin karena pengaruh perkembangan zaman dimana sekarang anak kecilpun sudah disuguhkan berbagai teknologi canggih seperti smartphone, tayangan televisi dan lainnya yang tidak seharusnya mereka terima di usianya.

Memang smartphone, internet, televisi tidak selamanya berdampak buruk, bahkan banyak sekali dampak positif yang bisa kita dapatkan dari media tersebut. Tetapi kemudian mungkin generasi micin ini menyalahgunakan media tersebut. Kembali lagi di sini peran orang tua sangat penting untuk mengawasi buah hatinya.

Kembali kita bernostalgia pada era 80-90 an di mana anak kecil bermain dengan mainan tradisional yang mana lebih mengasah kreativitas dan saling bersosialisasi satu sama lain.

Sedangkan di era sekarang mulai menurunnya sosialisasi karena sudah asyik bermain smarthphone-nya masing-masing dan terlihat mainan tradisional seperti sudah terlupakan dan sudah tak dikenali anak-anak zaman sekarang.

Baca Juga :  Gedung Gonggong Milik Kita Bersama

Di zaman now, jadi remaja serba susah. Persepsi buruk masyarakat menempatkan remaja sebagai penghancur dunia. Padahal, remaja itu masa pencarian.

Pencarian jati diri, makanya sering banget kita coba-coba. Sedihnya, rasa pengen tahu itu tak semuanya berjalan benar. Ada kalanya berujung pada pemberitaan banyaknya remaja yang suka tawuran, narkoba, pencurian dan seabrek kriminalitas lainnya.

Terkaitnya dengan viralnya generasi micin dan kids zaman now, bahkan di headline portal berita kids zaman now jadi viral karena tenggak micin langsung dari bungkusnya.

Hal seperti ini lah yang kemudian harus kita perhatikan, ada apa dengan generasi yang disebut kids zaman now? Apakah mereka mencari perhatian lebih melalui media sosial atau ingin terkenal menjadi bintang sosmed? WaAllahu A’lam Bishawab.

Tentunya kita diciptakan untuk meraih sebuah tujuan mulia, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Adz Dzariyat: 56).***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here