Parenting Berkarakter di Era Digital

0
620
Zaitun

Oleh: Zaitun
Dosen MKU, Prodi PBSI FKIP UMRAH

Suatu hari, sepulang sekolah seorang anak perempuan bernama Hany memberikan sepucuk surat kepada ibunya sambil berkata: ”Ibu ini surat dari bu guru untuk ibu mengikuti acara parenting besok pagi jam 9 di sekolah.” Sambil menerima dan membaca surat tersebut si ibu pun menjawab ”o…ya.. Inshaallah ibu akan hadr,” kemudian dari dalam kamar terdengar suara anaknya yang sulung berkata: ”Iya bu…hari Kamis depan di sekolah kakak juga ada kegiataan parenting dan orang tua diminta hadir, penting acaranya,” dengan lembut sang ibu menjawab : Iya… inshaallah ibu akan hadir juga, tenang saja”.

Dari deskripsi dialog ini sebenarnya ada kata yang sudah umum kita dengar yaitu “parenting”. Namun sudah memaknai dan menjiwai kah kata tersebut bagi kita? Kata ‘parenting’ adalah kosa kata Bahasa Inggris yang berasal dari kata ‘parents’ yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia : orang tua. Adapun kata ‘parenting’ memiliki makna sesuatu aktivitas yang dilakukan atau cara orang tua bertindak sebagai orang tua terhadap anak-anaknya di mana mereka melakukan serangkaian usaha aktif serta perlakuan orang tua dalam rangka memenuhi kebutuhan, memberi perlindungan dan mendidik anak dalam kehidupan sehari-hari dengan memfasilitasi kegiatan belajar.

Sebagai bekal bagi anak dalam aktivitasnya di era digital, tampaknya semangat parenting perlu dibangkitkan, dibina dan dikelola serta dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh tri pusat pendidikan, baik itu di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Ujung tombak dari pelaksanaan parenting ini sebenarnya berada pada keluarga yaitu orang tua. Kenapa demikian? Orang tua adalah fasilitator utama dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi bagi anak-anaknya, baik itu untuk kebutuhan, primer, skunder maupun kebutuhan tertier. Semua orang tua pastinya akan berusaha untuk memenuhi apa yang di inginkan anak-anaknya karena rasa kasih sayang dan keinginan melihat anaknya bahagia. Memang di satu sisi pemenuhan kuantitas dan persen kebutuhan satu keluarga akan berbeda dengan keluarga yang lain termasuk di dalamnya kebutuhan akan gadget atau hand phone sebagai salah satu media sekaligus alat yang ada di era digital.

Baca Juga :  Modernisasi Tenggelamkan Budaya Tradisional

Dahsyatnya imbas dari era digital telah merambah sampai ke pelosok daerah. Berbagai lapisan masyarakat mengenal, menggunakan dan bahkan menjadi kecanduan. Suatu fakta yang memang tidak dapat di sangkal bahwa salah satu produk era digital yaitu hand phone telah memberikan berbagai kemudahan bagi kita dalam mengakses segala informasi yang ada di seluruh belahan dunia. Banyak manfaat yang diperoleh dari era digital yang sarat kecanggihan teknologi antara lain : sebagai sumber informasi, membangun kreativitas, alat komunikasi, kemudahan dalam pembelajaran, jaringan sosial, mengembangkan jiwa wira usaha serta kemudahan dalam pelayanan public. Adapun serentetan dampak positif dari era digital yang telah kita nikmati yaitu: kemudahan dalam mengakses informasi yang ada di penjuru dunia, kemudahan dalam aktivitas bekerja , kemudahan dalam mengakses sumber belajar dan kemudahan dalam usaha transaksi on line. Namun dampak negatifnya juga telah ‘menghadiah’kan kita dengan berbagai kemerosotan moral , budi pekerti , akhlak serta prilaku buruk.

Era digital dengan berbagai ciptaannya sungguh telah mewarnai semua keluarga. Pengaruh gadget atau gawai khususnya pada penggunaan media sosial tidak hanya pada kalangan dewasa, anak SMA, anak SMP, bahkan anak SD, PAUD dan balita pun sudah mampu menggunakan alat komunikasi sekaligus alat informasi tersebut. Penggunaan media sosial seperti messenger, bbm, whatsApp,face book, pencarian google, youtube dan instagram menjadi favorit di semua kalangan usia dan jenis kelamin, baik itu orang tua sampai anak-anak memakainya untuk melihat, mengeksplor dan mem bagikan aktifitasnya ke era digital atau dunia informasi tersebut. Agar kita, keluarga kita dan bahkan anak-anak kita semakin terpuruk dalam kesenangan apalagi menjadi pecandu dari produk era digital tersebut maka upaya tepat adalah melalui parenting.

Baca Juga :  Puspa Ramadan

Penggerak utama dari parenting adalah orang tua dengan langkah awal yaitu tumbuhkan niat dan menyadari pentingnya parenting tersebut, untuk itu dalam diri para orang tua harus tumbuh dan tertanam nilai-nilai positif serta bijaksana dalam bersikap dan bertindak di era digital ini seperti sebuah pribahasa menyebutkan ‘seperti menarik rambut dalam tepung, rambut jangan putus, tepung jangan bergoyang’. Untuk itu nilai-nilai sabar, disiplin, niat yang kuat dan ulet sangat penting dalam mengupayakan pelaksanaan parenting tersebut. Upaya parenting di era digital dalam keluarga adalah melalui pendampingan orang tua kepada anak-anaknya di saat anak-anak mereka mengakses handphone dan orang tua wajib mengetahui isi dan menu-menu yang ada dalam hand phone anak-anaknya.

Berikut upaya –upaya parenting di era digital yang dapat dilaksanakan oleh para orang tua antara lain :
1. Membangun komunikasi dan interaksi yang harmonis dengan anak dengan cara ketika anak berbicara atau bercerita dengan kita sementara kita sedang main handphone, sejenak lupakan handphone kita, perhatikan dan tatap matanya karena hal ini menimbulkan rasa di hargai dalam diri anak.
2.Orang tua wajib mengetahui isi dari handphone anak-anaknya, sehingga ketika anak-anak bermain handphone orang tua akan tenang karena sudah mengetahui isi dari handphone anaknya tersebut.
3. Sempatkan untuk memberi kabar kepada anak dengan menggunakan handphone saat kita sedang bekerja walaupun hanya dengan menyapa anak, hal ini akan membuat anak merasa di perhatikan oleh orang tuanya.
4. Saat berada di rumah batasi dalam menggunakan handphone dan bina suasana kebersamaan bersama anak-anak.
5. Buat aturan penggunaan handphone dalam keluarga yang mana aturan tersebut berlaku bagi semua anggota keluarga bukan hanya kepada anak saja namun aturan tersebut beerlaku juga bagi orang tuanya : ayah dan ibu.
6. Hari libur dan waktu rekreasi adalah masa kebersamaan orang tua dan anak untuk itu hadirkan diri dan hati untuk anak-anak sebagai tanda bahwa kita ada dan hadir dan dekat dengan mereka, ini bermakna jangan terfokus pada handphone.
7. Sepakati waktu-waktu tertentu dalam penggunaan handphone dalam keluarga.
8. Orang tua harus mengetahui tentang teknologi informatika dan perkembangannya.

Baca Juga :  Sibuk dengan Elektabilitas, Debat Jadi Tak Berkualitas

Mari kita sikapi era digital dengan bijak terutama dalam penggunaan handphone dalam keluarga kita, terutama bagi anak-anak kita. Fahami dan maknai bahwa anak adalah amanah dan titipan bagi kita. Maknai kalamullah surat Al- Anfal ayat 27 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahuinya”. Satu hal yang pasti bahwa setiap amanah pasti dimintai pertanggung jawabannya. Anak adalah generasi penerus bangsa, mutiara yang tidak ternilai harganya, untuk itu berikan pendidikan karakter mulia sebagai bekal dalam langkahnya menapaki lakon di dunia yang penuh guratan warna.

Semoga Allah SWT jadikan anak-anak kita qurratun ‘a’yunin,generasi taat, cerdas dan terampil yang berguna bagi keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa. Sebagai renungan Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua Belas nya menyebutkan :

Apabila anak tidak di latih, jika besar bapak nya letih.
Dengan anak janganlah lalai, supaya boleh naik ke tengah balai.
Hendaklah memegang amanat, buanglah kianat. Wallahu a’lam.. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here