Pasar Warisan, Pengunjung Tukar Uang Keton

0
220
Penukaran uang rupiah ke uang keton di kawasan pusat kuliner di Jalan Bukit Kursi Penyengat, Tanjungpinang. f-Dian/Mahasiswa Magang

Pasar warisan di Jalan Bukit Kursi Pulau Penyengat merupakan salah satu objek wisata kuliner yang ramai dikunjungi wisatawan.

TANJUNGPINANG – Baik wisatawan mancanegara maupun nusantara. Pasar warisan yang bangun Kementerian Pariwisata RI dan telah diresmikan Wakil Walikota Tanjungpinang 7 Oktober lalu.

Fahrul (35) selaku ketua pengelola pasar warisan tersebut mengatakan ada 12 lapak penjual yang ada di pasar warisan. Diantaranya 10 lapak untuk penjual kuliner tradisional khas Melayu dan dua lapak untuk penjual cendera mata khas Melayu.

Menurutnya, para pedagang yang berjualan di pasar warisan dipilih sendiri oleh Dinas Pariwisata dan Pariwisata Kota Tanjungpinang. Sistem penjualan di pasar itu memakai potongan dalal 20 persen, yaitu hasil penjualan yang diperoleh diserahkan kepada pengelola pasar warisan. Dan uang potongan tersebut masuk ke kas pengelola dan akan digunakan untuk perbaikan sarana dan prasana di pasar tersebut. Seperti apabila ada atap yang bocor dan peralatan yang harus diganti.

”Pasar warisan ini dibuka setiap hari Minggu dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB,” ujarnya.

Sambungnya, banyak sekali wisatawan yang berkunjung di pasar ini, baik wisatawan lokal Penyengat maupun dari luar Penyengat. Wisatawan yang berkunjung paling banyak 600 orang, jika terkendala dengan cuaca paling sedikit 100 orang.

Ia membeberkan, cara berbelanja di pasar ini sangat unik dan menarik, yaitu dengan menggunakan uang keton. Caranya dengan menukarkan uang rupiah dengan uang keton terlebih dahulu baru bisa berbelanja di pasar warisan tersebut. Uang keton merupakan alat transaksi yang digunakan pada masa kerajaan terdahulu dan sekarang dipergunakan kembali di pasar warisan ini.

Setelah menukarkan uang keton, wisatawan dapat berbelanja kuliner tradisional khas Melayu sepuasnya. Jenis makanan yang dijual di pasar ini adalah kernas, kepurun, lakse, perata, lendot, gule tarek, cendol, penaram tamban, ongol-ongol, dan lain-lain yang merupakan makanan tradisional khas Melayu.

”Uang keton itu sendiri terbuat dari kayu yang berbentuk koin, akan tetapi pada masa kerajaan terdahulu uang keton tersebut terbuat dari tembaga. Kemudian hitungan 1 keton berjumlah seribu rupiah,” ujarnya.

Menurutnya, nama pasar warisan ini diambil dari sejarah Pulau Penyengat ini sendiri, dimana pulau ini merupakan warisan budaya dan peninggalan sejarah yang kita dapatkan dari masa lalu.

Dan selamanya akan kita turunkan ke masa depan, dan kita yang harus melestrarikan dan menjaga keberadaannya.

Pasar warisan ini memiliki tema-tema tertentu, dan setiap mingggunya pasar warisan ini akan berbeda-beda temanya. Contohnya Minggu lalu tema kita ”tanjak” dan minggu ini pasar warisan bertema “Pendekar Melayu”, jadi pasar warisan ini setiap minggunya memiliki nilai-nilai tradisi.

Sementara itu, Mustafa (52) tokoh masyarakat mengatakan kalau dalam orang Melayu sering kali dibilang keton artinya uang. ”Zaman saya lahir sudah banyak dengar kata keton tersebut. Contohnya minta uang sama orang tua pasti di bilang banyak keton kau,” ujarnya.

Sambung dia, tujuan dibangunnya pasar warisan ini adalah untuk meningkatkan daya tarik masyarakat datang ke Pulau Penyengat dan meningkatkan ekonomi masyarakat penyengat, sehingga pulau ini menjadi pusat destinasi wisata yang banyak pengunjung setiap tahunnya.

Yayuk (43) salah satu pedagang di Pasar Warisan mengatakan dengan adanya pasar warisan ini, terbantu untuk ekonomi keluarganya. ”Alhamdulillah membantu perekonomian keluarga kami, karena setiap Minggu banyak pengunjung,” ujarnya. (Dian,Fitri,Widuri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here