Pasien DBD Belum Bisa Nihil

0
127
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Rustam

TANJUNGPINANG – Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Rustam mengakui jumlah pasien Demam Berdarah Dengue ( DBD) belum bisa nihil atau tidak ada sama sekali.

“Harapan kita menekan angka penderita DBD, minimal di bawah 10 pasien per bulan atau bahkan nihil. Realitanya belum bisa,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, saat berbincang usia rapat paripurna di DPRD Kota Tanjungpinang, kamarin.

Hal ini erat kaitannya dengan gaya hidup bersih di tengah masyarakat. Ini perlu kerja sama semua elemen. Dimulai dari diri sendiri tentunya yaitu melaksanakan 3M plus.

Ia mengingatkan masyarakat rutin menguras atau membersihkan tempat penampungan air. Seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, penampungan AC dan lain-lain.

Menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang menularkan demam berdarah.

Plus-nya yaitu kegiatan pencegahan DBD lainnya, menaburkan bubuk abate pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan serta beberapa lainnya.

Rustam menuturkan, data yang dimiliki Dinkes Kota Tanjungpinang, jumlah pasien DBD sekitar 20 orang per bulan. Jumlah ini tidak mengalami peningkatan atau bahkan jauh dari status wabah.

“Ini rata-rata yah. Jumlah ini tidak meningkat namun keinginan kita bisa terus turun. Ini yang belum bisa karena perlu kerja sama semua pihak. Khususnya masyarakat terkait gaya hidup atau kebersihan lingkungan,” tuturnya.

Ia menambahkan, pasien yang demam tinggi belum tentu statusnya DBD, bisa saja masih Demam Dengue (DD). Kedua hal ini memiliki perbedaan meskipun disebabkan nyamuk Aedes aegypti yang sudah membawa virus dengue.

Dituturkannya, perbedaanya dasar pada keduanya, yaitu kebocoran plasma. Pada pasien DD gejala hanya berupa demam dan syok namun tidak sampai disertai dengan kebocoran plasma.

Dengan kata lain, DBD lebih berbahaya dan memiliki konsekuensi yang lebih berat dibandingkan dengan pasien DD. Ini berhubungan dengan pengentalan darah yang tidak normal di dalam tubuh yang berakibat kurangnya pasokan bagi organ-organ penting dalam tubuh.

Rustam menuturkan, sesuai data yang dimiliki pasien DBD terbanyak di Kecamatan Tanjungpinang Timur. Selain jumlah penduduk yang lebih banyak juga karena kawasan pengembangan.

“Biasanya kawasan pengembangan itu masih tahap pembenahan. Banyak bangunan rumah yang belum ditempati atau lainnya,” ucapnya singkat. (dlp)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here