Pecah Batu Jadi Pekerjaan Andalan

0
206
SEORANG warga Anambas ketika berbincang dengan seorang ibu yang sehari-hari bekerja menjadi pemecah batu titik di Desa Air Bini, Kecamatan Siantan Selatan. f-indra gunawan/tanjungpinang pos
Hingga saat ini, masih ada sejumlah ibu-ibu ramah tangga bekerja sebagai buruh pemecah batu. Pekerjaan itu digeluti, untuk membantu perekonomian keluarga.

ANAMBAS – Camat Siantan Selatan Kabupaten Kepulauan Anambas Awaluddin ketika dihubungi mengatakan, bahwa masih ada sejumlah kelompok ibu-ibu melakukan pekerjaan tersebut. Batu yang dititik itu, diambil dari bongkahan batu besar di sekitar wilayah di Desa Air Bini tepatnya.

”Ada tiga kelompok yang masih bekerja memecah batu. Ada juga yang sendirian,” kata Awaluddin, Jumat (21/12).

Menurutnya, batu yang dipecah dititik lagi menjadi ukuran kecil dan untuk kegunaan pembangunan seperti bangun akses jalan gang, rumah warga atau pelantar beton.

Untuk satu orang, bisa mencapai 1 kubik batu harus bisa mengumpulkan sebanyak 24 karung sebagi wadah dari hasil setelah batu itu dititik.

”Satu orang menghabiskan waktu sekitar 10 hari, untuk bisa mendapatkan 1 kubik. Harga batu tergantung jenisnya. Saya juga tidak tahu persis harga batu yang dijual mereka,” ucap dia.

Sedangkan, salah seorang ibu yang berada di Desa Air Bini Kecamatan Siantan Timur Kamariah (58) ia menitik batu dijadikan sebagai pekerjaannya andalan mereka karena tak ada pekerjaan lain.

Janda 7 orang cucu ini tinggal dengan anak dan menantunya. Menantunya juga tidak memiliki pekerjaan tetap hanya sebagai buruh harian lepas.

”Kalau dibilang capek ya semua pekerjaan capek pak. Tapi apa boleh buat. Bisa bantu anak dan beli jajan kepada cucu. Saya ikhlas pak mengerjakan pekerjaan ini. untuk 1 kubik dibeli sekitar Rp500 ribu,” ucap dia.

Kata dia, saat ini ia sudah jarang melakukan pekerjaan tersebut disebabkan pemesan batu sudah berkurang tapi setiap hari pasti ada memecah batu. Namun tidak rutin lagi, ia yakin nanti akan banyak yang membutuhkan batunya.

”Sudah banyak batu yang saya kumpulkan, tapi belum ada pembeli dengan jumlah banyak. Sekarang saya kurangi memecah batu pak,” jelas dia.

Dengan berbekal martil ukuran 1 kilo ia sudah bisa melakukan pekerjaan, sebagai pemecah batu.

Batu ukuran sekitar berat 5 sampai 10 kilo, di pecah dan dijadikan batu krikil.

Awalnya, dirinya merasa kaku ketika memecah batu sebab belum mahir dan kini ia sudah tahu tata caranya supaya lebih tangkas melakukan hal itu.

”Terkadang saat memecah batu, tertitik tangan oleh palu dan sudah tentu tidak bisa kerja. Namun kini saya sudah tahu tata caranya. Satu hari saya bisa meraih satu karung hingga 2 karung batu yang dipecah,” tutur dia.(INDRA GUNAWAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here