Pecinta Literasi vs Pecinta Medsos

0
168
Donna Aprilia

Oleh: Donna Aprilia
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI), STAI-MU Tanjungpinang

Ada berbagai macam program yang digalakkan pemerintah untuk mendukung majunya eksistensi pendidikan. Kunci dari majunya pendidikan adalah pengetahuan yang luas. Pengetahuan yang luas bisa didapatkan apabila seseorang memiliki kecintaan yang sesungguhnya terhadap ilmu. Ini dapat kita realisasikan dalam hal kecintaan seseorang terhadap buku. Buku adalah gudangnya ilmu. Jika buku sudah mendarah daging di dalam raga kita dan telah kita jadikan sebagai suatu kebutuhan di dalam hidup, maka pengetahuan dan ilmu yang luas bisa kita dapatkan.

Salah satu program pendidikan yang telah digalakkan oleh pemerintah di bangku Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan juga Sekolah Menengah Atas beberapa tahun lalu adalah budaya literasi. Budaya literasi adalah suatu kegiatan membaca, menulis, memahami sesuatu pengetahuan dengan baik. Kegiatan ini bertujuan agar para siswa mau membaca buku serta mampu mengukur kemampuannya dalam membaca buku dan juga memahami apa maksud dari yang dibacanya, yang pada akhirnya mampu menghasilkan suatu karya yang bermanfaat. Literasi sudah sangat populer sekali di kalangan para siswa yang masih duduk di bangku sekolah. Karena, waktu untuk literasi sudah terjadwal secara rapi sebagai salah satu aturan yang harus diikuti di sekolah.

Namun sayangnya, sebagian dari para siswa tidak menerapkan budaya literasi ini di rumah mereka. Literasi hanya dilakukan ketika mereka berada di sekolah saja.

Seharusnya literasi itu juga diterapkan ketika mereka berada di rumah. Sebenarnya budaya literasi ini memiliki manfaat yang sangat luar biasa. Manfaat dari budaya literasi adalah membantu kita untuk menambah wawasan kita. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham. Literasi juga dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih kreatif.

Mengapa? Karena tujuan dari literasi adalah menginginkan kita agar dapat menghasilkan suatu karya (tulisan) dari hasil membaca, memahami dan menulis. Selain itu budaya literasi juga menghindari kita dari perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan diri kita sendiri, seperti bermain gadged sampai lupa waktu. Saat ini gadged seperti sudah menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan. Khususnya di dalam dunia pendidikan. Anak-anak zaman sekarang, seperti sudah sangat bergantung sekali dengan yang namanya gadget. Apalagi zaman sekarang. Banyak kegiatan yang dulunya hanya bisa dilakukan secara konvensional, namun sekarang sudah bisa dilakukan secara virtual.

Berbagai aktivitas dapat dilakukan disana. Salah satu contohnya kegiatan berkomunikasi. Nah, disinilah peran media sosial muncul. Media sosial seakan sudah menjadi topik utama dalam dunia remaja khususnya. Keadaan remaja saat ini berada dalam posisi lebih cinta dengan media sosialnya dari pada bukunya. Mereka lebih senang bereksplore melalui media sosial dari pada bereksplore melalui tulisan yang merupakan salah satu aplikasi dari literasi. Berbagai macam bentuk eksplore mereka lakukan. Mulai dari mengupdate status, membuat vlog, dan lain sebagainya. Kecintaan remaja terhadap media sosial membuat mereka tidak memiliki waktu lagi untuk membaca buku. Mereka lebih senang bersosialisasi dengan medsos yang mereka miliki. Hal ini membuat eksistensi buku sebagai sesuatu yang seharusnya menjadi pegangan bagi para remaja menjadi menurun. Lalu bagaimana bila kita mendapat persoalan seperti berikut ini.

Saat ini, media sosial seperti Instagram sudah menyediakan banyak sekali quotes-quotes dan juga pengetahuan-pengetahuan lainnya dalam bentuk gambar dan narasinya. Nah, apakah itu termasuk kegiatan literasi?

Membaca apapun yang ada di media sosial itu bukan kegiatan literasi. Literasi itu bukan hanya sekedar membaca. Literasi itu adalah suatu kegiatan yang tujuan akhirnya adalah kita mampu memahami hingga akhirnya mampu menciptakan (suatu bacaan), yang mana di dalam melaksanakannya terdapat kegiatan menulis, menuangkan ide, merangkai apa yang kita pikirkan setelah kita membaca.

Sedangkan melalui media sosial, kita hanya membaca saja, lalu scroll dan berlalulah apa yang tadinya dibaca. Disini saya tidak menyalahkan penggunaan media sosial. Karena saya juga merupakan pengguna dari media sosial tersebut. Sebenarnya media sosial itu tidak salah. Bahkan media sosial yang menyediakan berbagai informasi dengan gaya modern yang sangat kreatif ini sangat menarik minat penggunanya. Namun, alangkah baiknya jika kita lebih mengutamakan buku untuk dibaca. Selain itu, melalui buku kita bisa mendapat berbagai informasi yang lebih akurat.

Dengan lebih banyak membaca buku, kita juga dapat mengurangi aktivitas terhadap penggunaan gadget. Kita tidak boleh menjadi orang yang konsumtif terhadap penggunaan gadget, karena penggunaan gadget dapat memberikan pengaruh buruk terhadap kita.

Rendahnya minat baca pada masa sekarang ini masih tergolong rendah. Pemerintah mengatakan bahwa dari dulu hingga di tahun 2018, minat baca anak di kota Tanjungpinang masih rendah. Padahal sudah banyak program yang dilaksanakan pemerintah sebagai fasilitas untuk mengembangkan minat baca. Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang (Riono) juga pernah mengatakan bahwa rendahnya minat baca ini dikarenakan pengaruh teknologi yang berkembang, seperti main handphone dan menonton televisi (TV), sehingga mereka lebih suka menonton tv, atau bermain handphone dari pada membaca buku.

Pecinta literasi di zaman sekarang ini sangat minim sekali kita jumpai, namun pecinta media sosial sudah menjamur dimana-mana. Mengapa saya katakan begitu? Karena semua pasti sudah sama-sama kita rasakan, bahkan mungkin itu juga terjadi pada diri kita. Coba tanyakan pada diri kita sendiri, kemungkinan besar kita pasti lebih sering bersama dengan media sosial daripada bersama dengan buku-buku. Sehingga dapat dikatakan bahwa pencinta literasi bila dibandingkan dengan pecinta medsos, yang menduduki peringkat pertama adalah pecinta medsos. Jika ini yang terus terjadi, mau jadi apa generasi penerus bangsa kita kedepannya ?.

Untuk itu diperlukan cara yang tepat untuk menumbuhkan budaya literasi dalam diri para remaja agar kecintaannya terhadap literasi lebih tinggi dari pada cintanya terhadap medsosnya. Disini peran kedua orang tualah yang sangat dominan dibutuhkan. Diharapkan kepada para orang tua, untuk selalu memantau aktivitas anak-anaknya dengan lebih baik lagi. Peran orang tua sangatlah besar dalam menciptakan generasi yang cinta akan literasi, cinta akan buku-buku dan cinta akan pengetahuan. Karena waktu anak-anak bersama orang tuanya itu sangat banyak.

Jadi, orang tua harus bisa memotivasi anaknya agar mau membudayakan literasi. Namun, pada dasarnya kunci dari semua ini ada pada diri kita sendiri. Mulailah sadarkan diri kita, bahwa kita itu adalah orang yang selalu haus akan ilmu dan harus terus berusaha agar bisa mengisi diri kita dengan ilmu. Sadarkanlah diri kita bahwa membaca itu penting. Buku itu penting. Dan ilmu itu penting. Tidak akan ada ilmuwan-ilmuwan baru tanpa adanya buku yang membuka pemikirannya. Bermedia sosial itu penting, namun ingatlah membudayakan literasi itu jauh lebih penting. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here