Pedagang Harap Ekonomi Tanjungpinang Menggeliat

0
596
Nurjannah seorang pedagang tepi laut saat membuat jagung susu pesanan pembeli di lapak jualannya kawasan Anjung Cahaya tepi laut f-Tridayani/Mahasiswa Magang Tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Kawasan tepi laut tepatnya Laman Boenda, tentu menjadi daya tarik bagi pengunjung baik warga Tanjungpinang atau wisatawan.

Dengan adanya kawasan wisata seperti gedung Gonggong, pedagang berharap wisatawan juga ramai berdatangan.

Selain menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD), juga berimbas meningkatkannya penghasilan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) seperti pedagang tepi laut.

Para pedagang pun berharap, kondisi perekonomian di Tanjungpinang terus menggeliat dan wisatawan terus berdatangan untuk sekedar mencari angin santai di kawasan tepi laut.

Terlebih, saat ini sedang berlangsung pembangunan perluasan taman tepi laut.

Seperti ibu Nurjannah (50), pedagang kaki lima yang berjualan jagung susu di sekitar anjung cahaya tepi selama kurang lebih 14 tahun.

Bahkan, Nurjannah pun menjadi pedagang terlama yang berjualan di kawasan tersebut.

Selama 14 tahun, Nurjannah mencoba peruntungan hidup dengan menjual jagung susu.

Setiap harinya, Nurjannah bersiap menyiapkan dagangannya menjelang sore hari dan berjualan hingga larut malam.

Sementara, harga jagung susu yang ia jual hanya Rp8 ribu per gelasnya.

“Baiknya kondisi perekonomian, tentu berimbas pada tingginya daya beli masyarakat. Sehingga, kami yang berjualan barang tentu akan memperoleh penghasilan dari produk yang dijual,” terang Nurjannah.

Lantaran keberadaan Gedung Gonggong, yang kini resmi menjadi ikon kota Tanjungpinang dijadikan tempat santai oleh masyarakat Kota Tanjungpinang.

Dengan kondisi dan situasi perekonomian Tanjungpinang yang saat ini naik turun, namun ia tetap optimis dan yakin dagangannya akan tetap dibeli pengunjung.

Untuk itu, Nurjannah rela harus berjualan dari sore hingga malam hari.

Dengan usia yang sudah tidak muda lagi, ia tetap semangat dan berusaha sendiri tanpa menyusahkan anak-anaknya.

Dikawasan tepi laut, tentulah berjejer para pedagang kaki lima untuk menyajikan segala macam produk makanan yang menggugah selera.

Menurutnya, ribuan orang setiap hari mengitari jalan tepi laut tentu ada sedikit harapan rezekinya dari pengunjung yang melintas.

Nurjannah yang menjadi tulang punggung keluarga, semenjak suaminya tidak dapat lagi bekerja dikarenakan sering sakit-sakitan.

Ia harus menanggung biaya sehari-hari serta biaya sekolah kedua anaknya, tidak hanya itu ia juga harus menanggung biaya sehari-hari ibunya yang juga tinggal bersama mereka.

Dengan untung Rp2 ribu per hari, membuat Nurjannah harus berfikir keras dalam mnggunakan uang tersebut.

Hidup pas-pasan yang harus dijalaninya dengan penuh rasa ikhlas, Nurjannah dalam menjalani kehidupan sehari-hari tak pernah merasa takut dagangannya tidak laku.

“Anak saya pernah di keluarkan dari sekolah karena telat membayar uang sekolah. Sehingga, harus mencari sekolah yang mau menerima anak saya,” cerita Nurjannah sambil membuat jagung susu.

Tanpa disadari, ia mencereritakan kisah perjuangannya itu turut meneteskan air mata.

Ia juga berpesan kepada anak-anak muda, agar memanfaatkan waktu sebaik mungkin jangan sampai menyesal dikemudian hari. Baik itu, menjalani pendidikan maupun sekolah. (abh/adevia/Tridayani)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here