Pedagang Harus Jaga Kebersihan Pasar

0
410
SAMPAH BERSERAK: Terlihat teras Pasar Bestari Bincen Tanjungpinang kotor dengan sampah yang berserak. F-Andri Dwi S/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Pasar Bestari Bintancenter (Bincen) Tanjungpinang sempat masuk predikat terbersih ke dua se-Indonesia beberapa tahun lalu. Hanya saja, kini tinggal sebutan karena kini lingkungannya sudah tidak terjaga. Banyak sampah berserakan dan menimbulkan bau tak sedap. Mulai dari sampah kantong plastik, sampah pedagang, jajanan dan masih banyak lagi jenis sampah yang terlihat di lingkungan pasar.

Padahal setiap hari para pedagang dikenakan biaya kebersihan sekitar Rp 3 ribu per kios atau per meja. Realitanya kebersihannya tidak terjaga. Terkait hal ini sangat disayangkan para pedagang, hendaknya pihak pengelola memastikan kebersihan pasar dengan menyediakan petugas kebersihan.
”Kalau masih waktu jualan sampah berserak itu biasa, tapi paginya harusnya kembali bersih. Ini tidak, bahkan lantai sangat kotor dan bau,” ungkap salah satu pedagang yang enggan namanya disebutkan.

Bau busuk muncul bukan hanya di pasar ikan, melainkan di drainase kawasan pasar. Ia berharap, pengelola memiliki komitmen untuk selalu membersihkan. Tujuannya agar pengunjung nyaman berbelanja di kawasan tersbeut.

Untuk mendapatkan kebersihan kawasan ini, perlu juga peran serta para pedagang. Diantaranya jangan membuang sisa jualan di drainase. Terkait hal ini, menurutnya para pedagang mengerti. Biasnaya membuang sampah pada tempatnya.

Hanya saja sampah dari sisa makanan dan lainnya tidak mungkin dibebankan ke para pedagang. ”Jangan setiap hari pedagang dipungut dan diminta uang kebersihan terus. Tapi, sampah tidak dibersihkan,” sebut dia.

Hal senada disampaikan Yudi yang mengaku, mengetahui Pasar Bestari Bincen Tanjungpinang dapat penghargaan pasar terbersih se-Indonesia. ”Itu dulu. Kalau tak salah tahun 2012 gitu lah. Ini membagakan kini sudah kotor dan kurang bersih,” kata Yudi.

Kalau ingin pasar kembali dapat penghargaan pasar terbersih se-Indonesia, ia sarankan, pengelola pasar rutin membersihkan. Menurutnya hal ini tidak sulit mengingat kawasan pasar Bincen tidak sebesar pasar di Kota Lama. Ini hanya tergantung dari niat pengelola kembali. ”Saya melihat kurang iniatif para petugas kebesihan lagi,” paparnya.

Ia mengaku setiap hari harus mengeluarkan uang kebesihan senilai Rp 6 ribu per hari untuk dua kios yang di pakainya. Pengelola Pasar Bestari Bincen, Dasmin mengatakan, semua ini perlu peran serta semua pihak. Mulai dari pengunjung pasar maupun pedagang. Bahkan ironisnya, pengunjung membawa sampah dari rumah ke pasar.

Sambah yang dibawa beragam, seperti sampah rumah tangga. ”Mungkin belanja ke pasar sekalian bawa sampah yang ingin dibuang. Harusnya tidak di Pasar, karena pemerintah menyediakan,” ungkapnya.

Ia menghimbau pengunjung jangan membuang sampah sembarangan. Pihaknya sudah menyediakan tong sampah di beberapa titik di pasar. ”Tingkat kesadaran pengujung agar tak membuang sampah sembarangan minim,” kata dia.

Kemudian, ia pernah tegaskan kepada penjual ikan untuk tidak membuang air ikannya sembarangan. Sehingga tidak mengundang bau busuk di pasar. Sekarang ia sedang fokus untuk menata peti ikan milik penjual ikan. Supaya tidak lagi diletakkan ditengah akses jalan pengunjung.

Tujuannya agar pengujung bebas lalu-lanang demi kenyaman bersama. ”Kita tata ini juga,” ungkapnya.(ANDRI DS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here