Pelajaran Pertama Buat Calon Wali Kota

0
218
ILUSTRASI

CARA terbaik memilih wali kota adalah dengan mengetahui satu hal saja: apakah dia sudah menguasai sebuah pelajaran pertama. Tanpa itu, apa yang kelak dilakukannya sebuah kebodohan belaka. Bukan apa-apa. Dan kita, sebagai pemilihnya, akan melakukan pekerjaan yang luar biasa muspra.

Hal ini menjadi penting karena pemilihannya sudah di depan mata. Empat purnama lagi, kita akan memilih satu dari dua orang untuk masa depan kota tercinta ini selama lima tahun ke depan. Jikalau sampai salah pilih, lima tahun akan terasa lama. Menunggu memang tidak pernah mengenal kata sebentar. Apalagi menunggu untuk sesuatu yang tidak disenangi berakhir, rasa-rasanya akan serasa hidup di neraka. Maka, tidak ada jalan terbaik buat kita selain menjadi pemilih bijaksana.

Sebelum Anda sekalian mengetahui pelajaran pertama buat calon wali kota, ada baiknya mengenal diri terlebih dahulu. Kata orang-orang bijak, mengenal diri adalah kunci, adalah hal utama yang harus dipelajari. Ini juga bukan pelajaran main-main. Tidak banyak orang yang berkesempatan memiliki pengetahuan mumpuni atas dirinya sendiri. Tak ayal, banyak yang gegabah, banyak yang ceroboh, banyak yang putus asa. Semua itu karena satu lantaran: tidak kenal terhadap dirinya sendiri.

Semua itu diawali dengan mengenali nama. Tidak ada satu pun orang tua di muka bumi ini, sekali lagi tidak ada, yang tanpa alasan melekatkan sebuah nama pada anaknya. Maka, dari sini, wajib bagi kita untuk mengenal arti atau maksud di balik nama yang melekat pada diri kita. Orang tua saya pernah berkisah sedikit perihal ini. Ia mencomot nama nabi junjungan kita Muhammad SAW. Kata bapak saya, makhluk termulia yang pernah tercipta itu dinamai sedemikian lantaran sifat-sifatnya kelak yang akan melekat sepanjang hayat. Muhammad tanpa cacat. Pada dirinya, segala yang baik-baik dan mulia melekat. Karakter ini kemudian disempurnakan oleh namanya dalam bahasa Arab yang dapat diartikan terpuji. Ya, Nabi Muhammad menghidupi kehidupannya dengan segala hal-hal terpuji. Tuturnya. Sikapnya.

Dan di sini, apakah arti nama Anda? Yang masih memiliki orang tua, bisa menanyakannya. Kalau yang sudah tidak ada, jangan berputus asa. Masih ada banyak cara untuk mengetahuinya. Bersama Google, Anda bisa melacak dari kata dalam bahasa apa, nama Anda dirumuskan. Dari situ, Anda kemudian bisa mencari maknanya. Baik itu etimologis, dan tentu filosofis. Serupa tidak mungkin orang bernama Budi, namun kelakuannya justru mencermikan orang yang tak berbudi. Ingkar nama, itu namanya.

Syukurlah, sampai tahap ini, Anda sudah mengenali nama Anda. Sekarang mari menyimak langkah selanjutnya untuk mengenali diri sebelum beranjak mengenali pelajaran pertama buat calon wali kota. Sejak sekarang, biasakan untuk selalu mengetahui hal apa yang akan lakukan. Orang-orang arif selalu punya alasan dan tujuan sebelum melakukan perbuatan. Mereka meletakkan akal selangkah sebelum tindakan. Alahasil, jauh dari kesembronoan, apalagi kesia-siaan.

Membiasakan hal semacam ini akan melatih kemampuan serta ketahanan melakoni kehidupan. Jikalau Anda ingat, sewaktu kecil, kita membiasakan melatih hal ini. Dahulu, ketika akan disuapi makanan, kita akan selalu bertanya mengapa seorang manusia harus makan. Lalu orang tua kita memberi jawaban bahwasanya makan akan membuat kita kenyang, kenyang akan membuat kita bisa bekerja dan seterusnya. Lama kelamaan, kita tidak lagi menanyakan alasan untuk makan. Sebab, pikiran kigta sudah merekam jawaban itu sedari dulu. Sayangnya, kemampuan berpikir sebelum melakukan tindakan ini seringkali luntur seiring pertambahan usia kita. Yang terjadi, kita lebih banyak terjebak pada arus zaman. Bukannya membuat arus tersendiri, kita malah terseret dan – anehnya, merasa betah berada dalam arus pikiran dan tindakan orang lain.

Coba diingat kembali, kita sering berada dalam barisan yang dibuat orang lain. Ketika orang lain mendengarkan si A, kita ada di sana. Ketika orang lain menonton si B, kita ikut duduk di sana. Ketika orang lain menyuarakan C, kita lantas senang membagikannya. Padahal, coba dicerna, apakah kita sudah mencari tahu lebih lanjut mengenai informasi yang dibagikan. Seringkali belum, bukan. Simak saja isi media sosial kita. Betapa berhamburannya informasi yang belum terverifikasi lantas dimakan mentah-mentah. Pada tataran semacam ini, gelar akademik di belakang nama bukan lagi sebuah garansi.

Sekali lagi, letakkan pikiran selangkah sebelum tindakan. Ini kunci lain menghadapi kehidupan yang semakin edan. Dengan kemampuan semacam ini, kita akan berani memilah-milih calon pemimpin yang paling tepat buat kota kita. Tidak melulu mengikut pada latar belakang partai atau pilihan kekasih semata. Namun dengan segenap akal sehat, kita akan fasih melacak rekam-jejak dua calon yang bertarung pada palagan Pilkada tengah tahun nanti.

Kita tentu tidak boleh lupa, keduanya adalah sama-sama calon petahana. Ingat saja pengalaman-pengalaman yang masih bisa dengan mudah kita ukur selama lima tahun belakangan, akankah taraf kehidupan kita sudah semakin baik? Atau, cek saja bagaimana keduanya mewujudkan janji politiknya pada masa kampanye sebelumnya. Jika tidak, lihat indikator keberhasilan keduanya dalam membangun ekonomi kita ini.

Dari sini, kita bisa punya banyak alasan untuk mendukung satu dari keduanya. Atau malah tidak sama sekali. Tentu yang terakhir ini dibenci KPU. Tapi, selama Anda masih punya alasan, KPU bisa apa. Tidak memilih adalah sebuah pilihan itu sendiri. Dan itu tandanya harus dihormati. Tapi ingat, ini harus dilakukan dengan kesadaran atas sebuah pilihan dan juga disertai alasan yang benar-benar membuat ada tiba pada kesimpulan bahwasanya keduanya tidak berhak mendapatkan dukungan Anda.

Sebab itu, dari sini perlu terlebih dahulu mengetahui pelajaran pertama yang harus dipunya wali kota agar bisa menjadi standar paling dasar agar tidak salah pilih. Dengan itu, Anda bisa menimbang suara Anda untuk siapa, atau malah untuk tidak keduanya.

Pelajaran pertama yang harus Anda tahu dimiliki oleh calon wali kota adalah buku-buku bacaannya. Sebentar dan sabar. Jangan keburu memekik pelajaran ini berlebihan dan terkesan mengada-ada. Sebab, kita tidak mungkin mengetahui angka rekening tabungannya. Apa yang dipaparkan di LHKPN itu formalitas belaka. Masih ada angka-angka liar yang tak terjangkau. Kita juga tidak mungkin menerka isi hatinya, kita bukan malaikat.

Ada orang bijak bilang, kamu adalah apa yang kamu baca. Jika kita sepakat dengan parafrasa ini, kita bisa membayangkan seandainya calon wali kota kita membaca serial cerita detektif Sherlock Holmes, kita boleh berharap pemimpin kita dalam lima tahun ke depan adalah orang yang cerdik mengatasi kebuntuan pertumbuhan ekonomi. Jika ada calon wali kota kita membaca Tetralogi Bumi Manusia, tindak-tanduknya melawan kezaliman akan sewira Minke. Jika ada calon wali kota kita membaca The Godfather karya Mario Puzo, tentu ia bisa setangguh Don Corleone atau Don Michael membela kedaulatan kota kita. Jika mereka membaca Dilan 1990, ya jangan kaget kalau nanti mereka lebih gemar mengumbar kata berat selama menjabat. Jadi sebenarnya, buku sastra apa yang sedang dibaca calon wali kota kita?***

OLEH: FATIH MUFTIH
Sayap Kiri Jembia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here