Pemimpin dan Kepemimpinan Paripurna

0
808
William Hendri, SH, MH

Oleh : William Hendri, SH.,MH.
Wakil Sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI)
ORDA Kota Tanjungpinang

Substansi pemimpin paripurna pada dasarnya termanifestasikan pada kepemimpinan para nabi. Kepemimpinan yang secara umum benar-benar memahami suara dan kehendak rakyat. Disamping membawa risalah, tipikal kepemimpinannya bersifat merakyat dan tidak elitis. Sebagaimana yang dimiliki oleh umat muslim, bahwa kepemimpinan Muhammad dapat disebut sebagai pemimpin dan memiliki sifat kepemimpinan yang paripurna. Sosiolog dan ahli filsafat islam bernama Ali Syariati mengatakan bahwa wajah kepemimpinan Muhammad merupakan gabungan antara Musa dan Isa. Di satu sisi menampakkan ketegasan, keteguhan, kekuatan dan konsistensi seperti sifat yang melekat pada diri Musa namun disisi lain beliau juga memiliki kelembutan, kasih sayang, cinta kasih, belas kasihan, dan kesejukan seperti sifat yang dimiliki oleh Isa.

Pada dasarnya disini perlu kita bedakan antara pembimbing (bimbingan) dan pemimpin (kepemimpinan). Pemimpin adalah orang yang membuat pengikutnya mudah mencapai tujuan. Di satu pihak pembimbing atau pemandu bukan saja menunjukkan jalan, namun juga sering kali memberikan sarana untuk melintasi jalan itu dan mencapai tujuan. Sesungguhnya seseorang bisa saja mengemban jabatan pemandu dan pemimpin sekaligus, atau hanya mengemban satu jabatan saja. Jabatan pemandu dan pemimpin sekaligus inilah yang disandang oleh para nabi terhadap umat atau kaumnya.

Menguraikan persyaratan untuk menjadi pemimpin, kata-kata terkenal yang pernah diucapkan oleh Plato bahwa “kesengsaraan di dunia (suatu negara) tidak akan berakhir sebelum filosof menjadi raja atau raja-raja menjadi filosof”, artinya raja (pemimpin) haruslah seorang filosof. Keunggulan filosof harus dipadu dengan kebesaran raja (pemimpin). Kemudian terkait persyaratan pemimpin ini, pada intinya pemimpin harus berperan kreatif dalam: (a) mengorganisasikan berbagai kekuatan manusia; (b) memanfaatkan kekuatan-kekuatan itu untuk mencapai tujuan yang diinginkan, baik tujuan individu maupun tujuan bersama; (c) memiliki jiwa kerja sama dan berpartisipasi praktis dalam upaya umum serta memiliki inisiatif yang tinggi; (d) menghargai waktu; dan (e) memiliki misi, pesan dan ideologi. Kemudian untuk kualitas yang mesti dimiliki oleh pemimpin, yaitu : (a) memiliki inisiatif; (b) bersikap menyenangkan kehidupan publik; (c) mampu mengorganisasi (manajemen); (d) mampu memilih orang yang tepat untuk pekerjaan yang tepat; (e) mampu mendapatkan cinta dan kesetiaan rakyat; (f) mampu meyakinkan rakyat akan penting dan perlunya mencapai tujuan; (g) Mengerti kondisi yang ada; (h) percaya dan yakin pada tujuan; (i) percaya dan yakin akan sukses (tidak ragu-ragu), percaya diri; (j) mampu memilih dengan benar tindakan yang akan dilakukannya; (k) mampu memilih dengan tepat; (l) cepat dan tepat dalam menilai situasi, cepat dan teguh dalam keputusan, cepat dan berani dalam bertindak; (m) berketetapan hati dalam memilih langkah dan dalam memilih tujuan itu sendiri; (n) siap menghadapi kritik; (o) berani menghadapi konsekuensi; (p) memiliki rencana langkah yang akan diambil kalau gagal; (q) memiliki tinjauan ke masa depan; (r) murah hati, luhur budi, dan lapang dada; (s) mampu mendistribusikan tugas dan kekuatan manusia dengan benar; (t) berani menerima kekalahan; (u) kuat kemauannya dan cukup tangguh kepribadiannya, sehingga rakyat termotivasi dan terpengaruh serta mampu menyampaikan pesan dengan meyakinkan; (v) toleran terhadap pandangan lain; (w) berkeinginan untuk mendapatkan informasi terbaru yang relevan dengan fungsinya; (x) bermartabat namun bersahaja; dan (y) Tegas.
Kemudian Quraish Shihab memaparkan berbagai sifat terpuji yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin berdasarkan al-Quran meliputi : (a) berpengetahuan luas; (b) kreatif dan inisiatif; (c) peka; (d) lapang dada dan selalu tanggap; (e) bertindak adil, jujur, dan konsekuen; (f) bertanggung jawab; (g) selektif terhadap informasi; (h) senantiasa memberikan peringatan; (i) mampu memberikan petunjuk dan pengarahan; (j) suka musyawarah; (k) istiqomah, teguh pendirian dan mempunyai semangat kompetitif; (l) senang berbuat kebaikan; (m) selalu berkeinginan meringankan beban orang lain; (n) lembut terhadap orang mukmin; (o) kreatif dan tawakal; (p) berkepribadian baik dan berpenampilan rapi; (q) selalu harmonis dan proporsional dalam bertindak; dan (r) disiplin dan produktif.

Terkait watak, karakter, tipikal pemimpin sebagaimana tersebut, sebagai manusia awam walau tidak dapat sesempurna sebagaimana tersebut, paling tidak ada beberapa hal yang dimiliki oleh pribadi kita. Seperti pada teori Limit dalam matematika, paling tidak impian menjadi pemimpin yang sempurna lebih pada mendekati. Setiap manusia yang dilahirkan pada prinsipnya adalah merupakan pemimpin di muka bumi ini. Watak dasar pemimpin dan kepemimpinan manusia adalah bersifat fitrah, sifat pemimpin untuk seorang manusia minimal terealisasi pada kepemimpinan untuk dirinya sendiri.

Pemimpin dapat didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan. Pemimpin yang benar-benar dapat dikatakan sebagai pemimpin setidaknya memiliki pengikut, kekuasaan dan kemampuan atau kelebihan dari orang biasanya. Sementara kepemimpinan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan dengan kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.

Dahlan Ranuwihardjo menambahkan bahwa seorang pemimpin dapat dikatakan mencapai derajat perjuang paripurna, ianya mesti memenuhi syarat : (a) memiliki iman atau keyakinan yang teguh; (b) ilmu pengetahuan yang luas dan mumpuni; (c) telah terintegrasi dengan ideologi; (e) memiliki kemampuan organisasi dan manajemen yang rapi; (f) memiliki strategi dan taktik yang tepat untuk mencapai tujuan; dan (g) serta memiliki kemampuan teknis (lapangan) yang memadai atau penguasaan terhadap perkembangan teknologi.

Secara umum fungsi kepemimpinan adalah memudahkan pencapaian tujuan komunitas atau organisasi. Fungsi yang sangat singkat namun padat dikemukakan oleh bapak pendidik kita, Ki Hajar Dewantara, bahwa pemimpin yang baik haruslah menjalankan fungsi seperti : Pertama. Ing Ngarso Sung Tulodo, yaitu menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang-orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan. Kedua. Ing Madyo Mbangun Karso, yaitu seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan. Ketiga. Tut Wuri Handayani, yaitu seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang-orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dan semangat.

Jadi secara tersirat Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani berarti figur seseorang yang baik adalah disamping menjadi suri tauladan atau panutan, tetapi juga harus mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar orang-orang disekitarnya dapat merasa situasi yang baik dan bersahabat. Sehingga kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat di masyarakat.

Ada sebuah pribahasa atau syair terkenal yang termuat di dalam Gurindam dua belas karya Raja Ali Haji berbunyi “raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah”  yang maknanya adalah pemimpin yang baik akan dihormati oleh rakyat, sedangkan pemimpin yang licik akan dibenci oleh rakyat kemudian dapat juga diartikan bahwa pemerintah yang bersifat adil akan dipatuhi, sedangkan jika pemerintah sewenang-wenang terhadap rakyatnya akan dilawan. Berkaitan dengan hal ini, tidak sedikit pemimpin yang tidak mengindahkan prasyarat wajib yang mesti diemban olehnya baik watak, tipikal, karakter, sifat yang membuat ia gagal memimpin sehingga ia kehilangan kekuasaan dan jatuh serta kehilangan pengikutnya.

Menjadi pemimpin tentunya mesti memiliki kecerdasan. Kecerdasan diperlukan pemimpin, karena pemimpin harus pandai memilih strategi, menetapkan program-program perubahan dan mengilhami teknik-teknik mengatasi masalah yang sesuai dengan situasi dan kondisi komunitas atau organisasi yang ada beserta dinamikanya. Kecerdasan yang diperlukan dalam hal ini adalah kecerdasan yang multidimensional, yang pada intinya meliputi kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Dengan kecerdasan intelektual berarti ia memiliki pengetahuan, wawasan, dan kreativitas berpikir yang diperlukan.

Dengan kecerdasan emosional berarti ia pandai mengelola emosi diri maupun emosi orang lain, sehingga proses perubahan dapat berjalan efektif. Dan dengan kecerdasan spiritual berarti ia memiliki kesadaran etis yang tinggi sehingga tujuan perubahan tidak semata-mata demi peningkatan keefektifan organisasi, namun juga demi tertunaikannya tanggungjawab moral dan etik kepada semua stakes-holders.

Sobry Sutikno mengatakan bahwa ketiga kecerdasan tersebut sangat berperan dalam membantu pembentukan pemimpin yang ideal dalam komunitas atau organisasi. Pemimpin yang hanya memiliki atau hanya mengandalkan kecerdasan intelektualnya saja banyak mengalami kegagalan. Secara teori ia bisa saja menguasai pengetahuan kognitif yang sangat tinggi, akan tetapi pengetahuan kognitif yang tinggi belumlah menjadi jaminan keberhasilan seseorang dalam menjalankan roda kepemimpinan. Orang yang memiliki intelegensi yang tinggi belum tentu sukses dalam memimpin suatu organisasi jika tidak didukung oleh kecerdasan lainnya.

Menjadi pemimpin di alam Indonesia, dalam konteks untuk mencapai tujuan bersama masyarakat Indonesia. Tentunya harus disadari bahwa gerak dan tingkah laku dalam berkehidupan kebangsaan Indonesia mestilah bernafaskan pada Ideologi Pancasila sebagai sebuah pandangan hidup bangsa. Krisis berkepanjangan yang dialami bangsa Indonesia pasca reformasi tahun 1998 hingga saat ini, sedikit banyak telah menggerus nilai-nilai Pancasilais yang melekat pada para pemimpin bangsa. Serangan budaya asing yang bertubi-tubi, terutama pada masuknya nilai-nilai westernisasi, individualistik, liberalistik, hedonistik dan lainnya memiliki pengaruh besar terhadap perubahan identitas bangsa terutama pada generasi muda yang mengakibatkan amnesia sejarah bangsa Indonesia.

Mulai saat ini, sudah seharusnya seluruh elemen kembali memasyarakatkan Pancasila serta dijadikan life style dalam berkehidupan kebangsaan di Indonesia. Faktor utama Pancasila menjadi wajib dijadikan karakter dalam memimpin bangsa dikarenakan kita ketahui keragaman dan kemajemukan (berbagai macam suku, agama, ras dan antar golongan) terdapat di dalam masyarakat Indonesia. Hanya ideologi Pancasilalah yang bersifat terbuka dan humanistis yang dapat mempersatukan rakyat tanpa memandang derajat kelompok atau kelas tertentu. Terkait hal ini, maka para pemimpin dan calon pemimpin bangsa Indonesia sudah semestinya menjadikan Ideologi Pancasila sebagai panduan dalam memimpin.

Ary Murty berpendapat bahwa kepemimpinan Pancasila adalah kepemimpinan yang berasas, berjiwa, dan beramal pancasila. Sebagai keterpaduan antara penguasaan nilai-nilai luhur yang berakar pada budaya Nusantara dengan penguasaan nilai-nilai kemajuan universal.

Kita sebagai bangsa Indoensia yang memiliki pemimpin dan sederet pahlawan bangsa yang telah memperlihatkan karakter kepemimpinannya, tentunya mesti bangga dan wajib dijadikan inspirasi. Dapat diambil contoh, seperti Ir. Soekarno Presiden RI pertama yang tiada suatu bangsa di dunia saat ini yang tidak mengenal beliau, kemudian Mohammad Hatta yang dijuluki sebagai bapak Koperasi Indonesia, Hasyim Asy’ari pendiri organisasi massa islam terbesar di Indonesia bernama Nahdlatul Ulama pada pra kemerdekaan yang santri-santrinya ikut berjuang dan bertempur melawan penajajah Belanda, kemudian Ahmad Dahlan yang juga pendiri serikat/organisasi massa Islam bernama Muhammdiyah pada pra kemerdekaan, Jenderal Besar Soedirman dan masih banyak lagi tokoh-tokoh pemimpin bangsa kita yang dapat kita jadikan inspirasi. Maka dengan ini, untuk menjadi pemimpin dengan kepemimpinan yang paripurna di bumi Indonesia disamping memiliki syarat dasar sebagai pemimpin mestilah Pancasila dijadikan panduan dan pegangan serta gerak perilaku dalam memimpin bangsa sehingga ia pada akhirnya akan dapat dikatakan sebagai pemimpin yang Pancasilais. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here