Pemkab Tak Mampu Rehab Bak Air

0
73
KONDISI bak penampungan air yang semulanya hanya dibangun dengan tumpukan karung pasir dan kini kondisinya memperihatinkan. F-ISTIMEWA
Sejumlah warga Ranai menilai Pemerintah Kabupaten Natuna tak mampu merehab kondisi bak penampung (Intake) yang dioperasikan PDAM Tirta Nusa Natuna. Padahal, untuk membeli kapal dinas Rp27 miliar mampu.

NATUNA – Pasalnya, bangunan bak tersebut masih sangat tradisional dan kumuh.

”Pemerintah harus mikir. Kenapa beli kapal dinas seharga Rp27 miliar saja mampu. Tetapi, untuk memperbaiki Intake sebagai kebutuhan masyarakat banyak tak mampu bangun. Kesel juga melihatnya,” sebut Suroso, warga Kota Tua Penagi.

Kini kondisi Intake milik PDAM di wilayah Ranai dan sekitarnya, terdapat 9 unit Intake hanya satu Intake yang dinilai layak pakai. Hal itu dikarenakan, karena struktur bangunannya sudah permanen.

”Selebihnya terbuat dari tumpukan karung pasir. Kami melihat Intake macam ini tidak miliki nilai santasi yang layak,” kata Suroso.

Bukan hanya kepada kondisi Intake itu yang membuatnya kesal, tapi juga perhatian pemerintah terhadap jaringan sanitasi yang selama ini kondisinya kurang baik.

Sejak Kabupatan Natuna berdiri pada 1999 lalu, belum pernah ada upaya perbaikan dan pengembangan terhadap jaringan air bersih itu.

Bila kondisi ini tidak diperhatikan oleh pemerintah, krisis air akan selalu terulang setiap tahun terutama sekali saat musim kemarau.

”Itu kita berbicara kondisi Intake dan ketersediaan air, belum lagi kita berbicara faktor kebersihan air itu sendiri. Maka kami berharap pemerintah ini mikir,” tukasnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Natuna, Wan Siswandi mengatakan, bahwa Pemerintah Daerah akan segera mendesak dinas terkait untuk mempercepat pembangunan sarana dan prasarana penyediaan air bersih milik PDAM Tirta Nusa.

Menurutnya, untuk mengatasi hal tersebut, ada dua teknis yang akan dilakukan.

Pertama, dengan membangun Intake milik PDAM yang masih terbuat dari tumpukan karung pasir menjadi bak permanen.

”Itu untuk jangka pendeknya. Untuk jangka panjangnya kita akan segera menggesa dinas PU mempercepat pembangunan embung di Sebayar,” jelas Wan Siswandi.

Selanjutnya, sumber mata air di Sebayar merupakan lokasi yang telah diteliti oleh Kementerian PU Pusat dan diperkirakan mampu untuk memenuhi kebutuhannya air bersih untuk wilayah Kabupaten Natuna. Sehingga, mampu beroperasi 50 sampai 100 tahun ke depan.

”Untuk program pembangunan embung ini bersumber dari dana APBN. Nah, kita hanya menyediakan lahan saja,” paparnya.

Masih kata Wan Siswandi, lahan yang diperlukan untuk pembangunan embung tersebut, diperlukan luas lahan sekitar 30 hektare.

Itu menjadi beban APBD, karena lahan tersebut harus dibebaskan dari pemiliknya.

”Untuk pembangunan DAM, dengan embung seluas 5 hektare. Tanah tersebut milik masyarakat, dan Alhamdulillah beliau mau hibahkan ke Pemerintah Daerah. Tinggal kita membayar lahan, yang menjadi genangan air seluas 30 hektare,” tutupnya.

Namun di samping itu, Pemkab Natuna berencana membangun bendungan untuk mencukupi ketersedian air bersih. Pembangunan itu melibatkan pihak BWSS Kementerian PU Pusat nantinya.(HARDIANSYAH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here