Pemprov Batal Bangun Fasum Teluk Keriting

0
445
Formatur Teluk Kriting saat rapat bersama membahas lanjutan pembangunan Gurindam 12 di Tepilaut F-Istimewa

TANJUNGPINANG – Masyarakat serta pengurus Formatur Teluk Kriting merasa perlu penjelasan dari pemerintah terkait alasan pembatalan beberapa fasilitas umum (Fasum) dari rencana pembangunannya proyek Gurindam 12 dijanjikan.

Informasinya pembatalan beberapa fasum diterima Pengurus Formatur Teluk Kriting dari asisten pemerintahan dan pegawai Perkim Pemprov Kepri melalui rapat kerja beberapa waktu lalu.

Ketua II Formatur Teluk Kriting, Dicky Novalino menuturkan, terkait rencana pembatalan pembangunan fasum perlu dijelaskan kepada pihak mereka.

Ini dinilai penting, agar bisa menerangkan kembali kepada masyarakat terkait hal itu. ”Bila tidak bisa terealisasi kami butuh alasannya, jangan sampai terkesan Formatur Teluk Kriting tidak melakukan tugas dan fungsinya mengawasi pekerjaan,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, Kamis (31/1).

Ia menuturkan, sesuai janji awal bahwa Pemprov Kepri akan membangun beberapa fasum di kawasan tersebut. Diantaranya, pembenahan Masjid Al-Rahim, pembangunan gedung pentas seni, puskesmas serta beberapa lainnya.

Dituturkannya, bila ada beberapa fasum nantinya tidak direalisasikan maka Pemprov Kepri dinilai tidak komitmen dan terkesan membohongi masyarakat setempat.

Mengenai hal ini, pihaknya merasa perlu penjelasan detail.

”Kami bukan menolak lanjutan pembangunan. Kami menyetujui hanya saja harus sesuai janji awal. Bila yang dipaparkan di awal tidak sesuai maka perlu direvisi kembali,” tuturnya.

Ia menuturkan, pelaksanaan pekerjaan proyek Gurindam 12 terealisasi karena adanya dukungan masyarakat dengan janji pembangunan yang diberikan. Bila tidak sesuai, maka menurutnya wajar masyarakat nantinya menolak.

”Mahar sudah disebut namun tidak disediakan, ini bisa batal nantinya,” ucapnya memberi perumpamaan.

Dicky mewakili pengurus meminta Pemprov Kepri melalui OPD terkait bisa segera kembali merapatkan rencana pembangunan Gurindam 12, apakah masih sesuai perjanjian awal atau tidaknya.

Menurutnya, melihat dari keberlanjutan pembangunan Proyek Gurindam 12, ada indikasi beberapa fasum tidak teralisasi.

Ia berharap pembangunan fasum yang dijanjikan berdampak baik bagi masyarakat sekitar. Contohnya pembenahan masjid menjadi daya tarik bawa wisatawan beribadah di kawasan itu. Begitu juga dengan masyarakat sekitar.

Pembangunan gedung pentas seni, ajang bagi masyarakat dan kaum muda melaksanakan berbagai aktivitas. Serta pembangunan puskesmas memberikan pelayanan dasar bagi masyarakat lebih dekat.

Mengingat selama ini, belum ada puskesmas di kawasan Tanjungpinang Barat. Masyarakat masih harus pergi ke Puskesmas Pancur.

”Kami ingin fasum dijanjikan itu terealisasi jangan masyarakatnya sudah setuju tapi tidak ditepati,” ungkapnya.

Untuk diketahui, rencananya proyek Gurindam 12 menghabiskan anggaran lebih sekitar Rp530 miliar yang akan dilaksanakan beberapa tahun secara bertahap.

Kawasan Tepilaut nantinya disebut menjadi water front city karena kesan kumuh perkotaan ini akan dibenahi menjadi kampung wisata.

Selain itu, ia menyebutkan persoalan penanganan banjir perlu perhatian dari Pemprov Kepri. (dlp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here