Pemprov Usul Listrik Batam Naik

0
387
PLN: Petugas PLN saat memasanga kabel listrik di jalan Batu 12 arah Tanjunguban (2) f-suhardi/tanjungpinangpos

Pemprov Kepri mengusulkan kenaikan listrik Batam untuk golongan rumah tangga sekitar 45 persen dari sebelumnya Rp 930/Kwh menjadi Rp 1.352/Kwh. 

Dompak – USULAN ini masih lebih rendah dari permintaan PT Bright PLN Batam yang meminta kenaikan tarif listrik rumah tangga Batam hingga 58 persen dari sebelumnya Rp 911/Kwh menjadi Rp 1.459/Kwh.

Usulan ini sudah disampaikan ke DPRD Kepri dan, Senin (13/2) kemarin, Komisi II dan Komisi III DPRD Kepri sudah membahas usulan ini di Kantor DPRD Kepri bersama Distamben.

Saat itu, pihak DPRD Kepri mempertanyakan adanya perbedaan data yang mereka peroleh dari PLN dengan data yang disampaikan Distamben.

Data dari PLN disebutkan tarif rumah tangga Rp 911/Kwh. Sedangkan data Distamben Rp 930/Kwh. Ada dua data yang menurut dewan harus disinkronkan dulu.

Jika berdasarkan data dari PLN disandingkan dengan data Distamben, maka kenaikan yang diusulkan Distamben mencapai 48 persen. Bukan 45-47 persen.

Terkait hal ini, dewan belum memberi jawaban. Anggota Komisi III DPRD Kepri, Irwansyah mengatakan, pihaknya masih perlu mengkaji kembali usulan yang diberikan Distamben itu.

”Kita lihat dulu datanya, kita cocokkan, kita pelajari. Kalau naik sekian persen, berapa margin (keuntungan) PLN, kalau naik sekian berapa marginnya. Makanya, belum ada keputusan,” ujarnya kepada wartawan usai rapat.

Namun, Irwansyah juga mengatakan, soal setuju tak setuju tetap kembali ke masing-masing fraksi nanti. Meski demikian, ia berharap tiap fraksi mempertimbangan kondisi Batam.

”Jangan asal tolak, tapi listrik padam. Siapa yang bertanggungjawab,” jelasnya.

Anggota Komisi II DPRD Kepri, Rudi Chua mengatakan, sampai sekarang belum ada keputusan final.

”Tadi ada pembahasan. Tapi ada sedikit data yang berbeda sehingga diputuskan dibahas lagi,” katanya

Onward, anggota dewan lainnya yang ikut dalam rapat itu mengatakan, usulan yang disampaikan Distamben hampir sama dengan usulan PLN. Seperti apa pertimbangan Distamben mengusulkan angka itu, juga hampir sama dengan alasan PLN Batam.

Karena menyangkut kebutuhan masyarakat banyak, Onward sendiri mengatakan tidak setuju dengan angka itu. Baginya, itu hal yang memberatkan masyarakat lantaran bisa memicu inflasi dan juga melihat kondisi ekonomi masyarakat saat ini.

PLN Batam atau Distamben, kata dia, juga harus memahami banyaknya masyarakat di Batam yang pengangguran saat ini mengingat industri elektronik dan galangan kapal yang lesu.

Jika naik hingga 47 persen, ini akan membebani masyarakat banyak. Sehingga, secara pribadi, ia lebih setuju jika kenaikan itu 20-25 persen saja.

Apabila kenaikan sampai 47 persen, inflasi makin tinggi di Batam dan harga-harga akan naik. Ini akan menambah penderitaan masyarakat. Dari angka-angka itu, Onward memprediksi, PLN menginginkan kenaikan itu sekitar 30 persen ke atas.

Ia juga mengatakan, karena ini lintas komisi, maka perlu pembahasan lagi sebelum kemudian dibahas.

”Jadi belum final. Belum ada putusan. Nanti kita bahas lagi lintas komisi,” tambahnya.

Terkait lambatnya penetapan kenaikan tarif ini, ia menilai karena lambatnya PLN Batam menyerahkan laporan keuangannya. Kemudian, agenda gubernur dan dewan cukup padat sejak menjelang akhir tahun lalu.

Usulan ini sebenarnya sudah disampaikan Januari 2016 lalu oleh PLN ke gubernur. Namun, hingga Februari 2017 belum juga disetujui. Untuk menyetujui kenaikan tarif listrik harus mendapat persetujuan gubernur dan DPRD Kepri.

PLN Batam mengusulkan kenaikan 47-58 persen kenaikan untuk tarif rumah tangga. Alasan mereka, selama ini pelanggan rumah tangga di Batam disubsidi silang dari industri.

Belakangan ini, industri di Batam lesu seiring ekonomi dunia yang bergerak lambat. Sehingga banyak industri tutup dan sebagian mengurangi penggunaan listrik karena produksi menurun.

Dengan demikian, pendapatan PLN Batam berkurang dan mengaku mengalami kerugian besar setiap bulan. Bahkan, manajemen PLN Batam mengancam akan mematikan listrik Maret ini jika tarif tak naik. Hal itu karena biaya produksinya tak mencukupi lagi.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (Distamben) Pemprov Kepri, H Amjon mengatakan, ada empat golongan listrik Batam yang diusulkan naik yakni, golongan S3 (sosial) 4 persen, golongan R1 dengan daya 1.300 watt naik sekitar 45-47 persen, golongan R2 dengan daya 2.200 watt naik 40 persen dan golongan R3 dengan daya 3.500-5.500 watt sekitar 40 persen.

Menurutnya, kenaikan itu sudah bisa membuat PLN untung.

”Tapi tidak untung banyak. Itu data yang ideal. Paling 2,28 persen marjinnya. Dari untung inilah nanti PLN bisa berinvestasi membangun pembangkit listrik. Sehingga tidak ketergantungan dengan pihak ketiga,” jelasnya.

Selama ini, PLN Batam hanya memproduksi listrik 30 persen dari sekitar 330 MW listrik di Batam. Sekitar 70 persen lagi, dayanya dibeli dari pihak ketiga.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here