Pemuda dan Semangat Cinta Tanah Air

0
135
Dian Ramadita

Oleh: Dian Ramadita
Mahasiswa STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Setiap tahun kita memperingati hari kebangkitan nasioal. Kala itu, Dr. Suotomo dan para mahasiswa STOVIA Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji mendirikan organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Organisasi pemuda inilah dinilai menjadi cikal bakal tumbuhnya organisasi pemuda yang kemudian tutur memantik semangat kemerdakaan Indonesia. Pemuda begitu memiliki banyak peran dalam perjuangan bangsa ini.

Jika kita kilas balik pada sejarah, di tangan para pemudalah kemerdekaan bangsa ini diraih. Pemudalah yang mempersatukan bangsa ini lewat peristiwa sejarah yang dieknal dengan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Maka, tidak heran apabila peranan pemuda, yang dalam sejarah juga kerap kali sebagai aktivis mahasiswa itu, memiliki andil bagi perjuangan dan pembangunan bangsanya.

Peran penting pemuda ini juga pernah ditegaskan oleh Soekarno dalam suatu pidatonya, “berikan aku sepuluh pemuda, akan kuguncang dunia”. Dari kalimat tersebut,  tergambar betapa  luar biasanya pemuda. Dengan jiwa dan fisik serta fikir yang kuat yang dimilikinya, maka kalimat tersebut bukan hanya sekedar omongan belaka.

Jika di era perjuangan kemerdekaan, pemuda memiliki peranan penting dalam pergerakannya. Demikian juga pada era-era selanjutnya, seperti era reformasi, pemuda juga tetap memiliki peranan penting. Pada 1998 di Jakarta, mahasiswa dari berbagai penjuru nusantara berkumpul untuk menggelar aksi unjuk rasa menuntut reformasi dengan melengserkan kekuasaan Orde Baru.

Dapat dipahami bahwa satu di antara unsur pemuda itu ialah kalangan mahasiswa. Mahasiswa merupakan pemuda harapan masa depan bangsa. Di tangannya nasib buruk maupun baik  bangsa dipegangnya. Mahasiswa merupakan lambang keilmuan dan kemajuan bangsanya. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu maju, ketika perjuangan tidak lagi sekadar angkat senjata dan ketika kritik tidak perlu lagi unjuk rasa di jalanan, maka peranan pemuda sebagai bentuk bela negara dan cinta tanah airnya juga mengelami penyesuaian.

Jika dipahami, rasa dan semangat bela negara itu tumbuh apabila ada suatu kecintaan dan rasa bangga terhadap bangsa dan negara ini. Hal ini sudah menjadi bagian sifat alamiah manusia yang dengan rasa cintanya akan melahirkan benteng pertahanan dan perlindungan terhadap yang dicintainya. Para pejuang negara ini telah membuktikan rasa cintanya dengan mengorbankan darahnya. Di antara mereka juga ada deratan pemuda. Lantas bagaimana pengejawantahan rasa cinta tanah air dan bela negara di tengah perkembangan teknologi saat ini.

Kita memasuki zaman di mana perang antar bangsa bukan lagi soal senjata dan perang fisik, melainkan strategi yang membuat terkikisnya semangat cinta dan bela negara. Faktor-faktor eksternalisasi itu beragam wujud dan paling mudah untuk menyaksikannya ialah dari sisi kebudayaan. Serangan dari budaya luar bisa mengikis rasa cinta terhadap budaya sendiri. Hal ini memang suatu konsekuensi di era global dengan kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat.

Penulis akui bahwa masih banyak di kalangan teman-teman mahasiswa yang tidak mengetahui dan bahkan enggan peduli dengan nasib bangsanya sendiri. Mungkin saja sibuk dengan popularitas membanggakan diri masing-masing di sosial media, atau bisa juga tengah sibuk membandingkan bangsanya dengan bangsa lain yang dianggap melebihi dari bangsanya sendiri, bahkan berbangga diri hingga lupa di mana ia dilahirkan dan diperjuangkan. Menghujat sana sini bahkan enggan mengakui bangsanya sendiri, saling menyalahkan dengan keadaan negara, mengkritik tanpa solusi yang baik, hanya bisa menuntut hak kepada negara namun lupa akan kewajibannya sebagai warga negara.

Siapa yang patut disalahkan untuk hal ini? Bagaimana caranya membangkitkan kembali rasa semangat yang mungkin sudah terkubur dan hampir mati? Penulis pun sedang dalam proses untuk mencari jawabannya. Mungkin cukuplah intropeksi pada diri sendiri dan tidak banyak berfikir kepada siapa yang hendak disalahkan. Menurut penulis, cara yang tepat untuk membangkitkan kembali semangat bela negara itu ialah peduli terhadap keadaan Negara. Sikap peduli menimbulkan rasa cinta terhadap negara.

Langkah selanjutnya ialah berkontribusi nyata untuk bangsa dan negara ini dalam berbagai kegiatan dan keadaan. Contohnya saja dengan berprestasi sesuai apa yang menjadi minat dan bakat, belajar dengan tekun akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk negara, selalu siap dengan kondisi apapun yang dihadapi negara baik itu di saat terpuruk maupun disaat bangkit, tidak menjelek-jelekkkan bangsamu sendiri.

Belakangan ini seringkali kita melihat status di media sosial yang berisi hujatan terhadap negara dan pemerintah, maka sayogyanya mengkritik yang santun serta memberikan solusi terhadap kinerja pemerintah.

Namun, semua itu perlu dilakukan atas dasar rasa cinta dan bela negara. Kritik karena cinta negara akan menumbuhkan semangat cinta, bukan malah menumbuhkan kebencian dan perceraian sebagai warga negara. Siapa pun yang memerintah negara ini patut untuk didukung dan sekaligus dikritisi.

Pada mementum hari kebangkinan nasional ini, setidaknya kita mencoba mengingat satu fregmen sejarah bangsa yang telah menjadi tonggak penting. Tidak elok rasanya apabila abai begitu saja terhadap sejarah dan perjuangan para tokoh, khususnya tokoh pemuda dan mahasiswa yang telah berkontribusi bagi perjuangan dan pembanguna negara. Sejarah ini telah memberikan kita landasan berfikir yang lebih baik untuk masa depan.

Dari fregemen sejarah Budi Utomo ini, setidaknya penulis mendapatkan suatu semangat untuk tetap cinta tanah air dan berupaya untuk melakukan sesuatu yang sederhana yang mampu meningkatkan rasa cinta ini.

Maka, sepatutnya kita tidak perlu menunggu siapa yang mau memajukan dan melindungi negara ini, melainkan mulailah dari diri sendiri. Tak perlu hal yang yang rumit, cukup lakukan hal yang sederhana sebagai mencintai negaramu dan bangsamu.  Dengan  begitu semangat bela negara tersebut bisa terus menerus diwariskan kepada pemuda-pemuda penerus bangsa yang akan dating. NKRI harga mati!**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here