Penderita HIV/AIDS Masih Tinggi

0
1002
TES KESEHATAN: Dinas Kesehatan saat mengecek kesehatan salah satu ibu. Dinkes terus mengkampanyekan bahaya HIV/AIDS di Tanjungpinang.F-ist/Humas Dinkes Tanjungpinang

Minim Kegiatan di Hari AIDS Sedunia

Hari AIDS Sedunia diperingati, Jumat (1/12). Meski demikian, edukasi mengenai penyakit yang dipicu human immunodeficiency virus (HIV) tersebut terus-menerus diberikan.

TANJUNGPINANG – Angka penderita HIV / AIDS masih cukup tinggi di Tanjungpinang. Upaya pencegahan penularan harus ditingkatkan. Salah satu yang wajib dicegah adalah penularan HIV/ AIDS dari ibu kepada bayinya.

Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang telah beberapa tahun mengembangkan program pencegahan penularan dari ibu ke anak yang disebut PPIA (program pencegahan penularan HIV/ AIDS dari ibu ke anak). Tahun 2014 telah diperiksa 1.978 ibu hamil dan ditemukan positif HIV 10 ibu.

Tahun 2015 diperiksa 2.442 Ibu Hamil dan ditemukan positif HIV 8 Ibu hamil. Di tahun 2016 diperiksa 3.236 ibu hamil dan ditemukan positif HIV 11 ibu hamil dan tahun 2017 diperiksa 2.985 ibu hamil dan ditemukan positif HIV 5 ibu hamil

Baca Juga :  Hujan Waduk Sungai Pulai Tetap Kering

”Berdasarkan data yang ada Alhamdulillah para ibu hamil yang dideteksi HIV positif setelah mengikuti program terapi yang dilakukan tim layanan HIV dapat melahirkan bayi/anak yang negatif dari HIV/AIDS,” kata Rustam, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang, Jumat (1/12) kemarin.

Selain para ibu hamil, sambut dia Dinkes bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan stakeholder terkait juga melakukan pencegahan penularan pada kelompok berisiko lainnya. Diantaranya kelompok seks sesama jenis maupun kelompok seks lain Heni’s.

Upaya ini dilakukan karena berdasarkan data yang ada selama ini penularan HIV sebagian besar terjadi akibat hubungan seks yang berisiko. Pada kelompok berisiko diharapkan dapat mengakses layanan yang ada sehingga bisa mengetahui status HIV yang bersangkutan apakah positif atau negatif.

Baca Juga :  Jalan Provinsi Rusak Parah, Kadis PU Hanya Minta Maaf

Bagi yang masih negatif tentunya harus disyukuri dan segera beralih ke arah perilaku seks yang aman. Sedangkan bagi yang nantinya diketahui telah positif, harus segera mengikuti standar terapi yang telah disediakan agar kondisi kesehatannya tetap sehat dan tidak jatuh pada kondisi AIDS.

”Bagi yang positif juga harus melakukan seks yang aman, agar menghindarkan orang lain dan pasangannya terhindar dari penularan HIV olehnya,” tegasnya.

Menurutnya, sebuah paradigma baru dalam pengobatan HIV telah dikembangkan yang berubah 180 derajat dari paradigma sebelumnya. Dimana lalu selalu dikatakan HIV/AIDS tidak ada obatnya. Saat ini, dikatakan HIV /AIDS ada obatnya walaupun tidak menyembuhkan, tetapi dapat menjamin kesehatan pengidap HIV asal melakukan pengobatan seumur hidup.

HIV/ AIDS dalam paradigma baru sekarang sudah dianggap sama dengan penyakit kronis lainnya seperti hipertensi dan diabetes. Upaya lain untuk menjaga kesehatan para pengidap HIV adalah dengan melakukan skrining sedini mungkin tentang kemungkinan adanya infeksi ikutan yang diderita pengidap HIV, antara lain adalah tuberculosis.

Baca Juga :  Blangko KTP-El Sudah Tersedia Lagi

Dengan demikian kualitas hidup para pengidap HIV dan penderita AIDS dapat terus ditingkatkan dan kematian dapat dicegah seminimal mungkin. Perhatian khusus juga diberikan untuk mengembangkan kesadaran akan bahaya dan upaya pencegahan resiko HIV/AIDS di kalangan generasi muda.

Langkah ini ditempuh dengan mempertimbangkan bahwa sebagian besar kasus HIV/ AIDS terjadi pada usia produktif 25-49 tahun. ”Para pelajar dan mahasiswa perlu diberikan bekal pengetahuan yang cukup tentang upaya menghindari penularan HIV/AIDS,” tegasnya. (ABAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here